
keesokan harinya ...
"tokkk"
"Tookkk"
pintu gerbang di ketuk, aku segera melihatnya siapa yang pagi sekali ada orang kesini, ternyata itu Wildan yang jemput aku kerja.
"Lo Wil tumben kamu ke sini?" tanya ku dengan mengeluarkan motor.
"iya nih, aku kan pertama kerja, jadi aku pengen berangkat bareng sama kamu," ucapnya.
"oh gitu, kamu udah sarapan belum?" tanya ku.
"udah tadi," pekiknya.
"ya udah tunggu, aku mau kunci dulu rumah dan gerbang ku, ya udah yok berangkat!" ajak ku ke Wildan.
kami berdua berangkat bareng ke pabrik, melewati jalan yang belum macet, jadi bisa tepat waktu di pabriknya.
aku dan Wildan menuju gudang parkiran, saat ada di dalam parkiran aku berpapasan dengan Nila.
"Ria, itu siapa yang sama kamu?" tanya Nila.
"oh itu, Wildan karyawan baru, kenapa?" tanya balik ku ke Nila.
"enggak papa si, cuman dia keren banget gitu!!" ucapnya dengan hati girang.
" hmm kamu suka sama dia ya ..." goda ku ke Nila.
"apaan si kamu, nggak lah, kan aku cuman bilang keren." ucapnya dengan wajah jutek.
Wildan pun segera menuju tempat dimana anak laki-laki berkumpul saat belum masuk jam kerja.
"Hay .. kenalin aku Nila," titahnya sembari tersenyum senyum sendiri.
"oh iya kenalin aku Wildan, anak baru disini," ucap Wildan dengan senyuman.
membuat Nila salah tingkah ketika Wildan tersenyum di hadapannya.
tak lama kemudian, Wina pun sampai di pabrik, dan segera memarkirkan kendaraannya, lalu menghampiri ku.
"oh jadi itu si Wildan karyawan baru," ucapnya dengan mata menuju si Wildan.
"iya itu anaknya," pekik ku.
"ya lumayan si .. nggak jelek-jelek amat," ucap Wina seraya mengangkat satu alisnya.
"huusstt kamu itu, kamu suka ya ...!" ucap Ria yang menggoda Wina.
"nggak kok, ngapain aku suka sama dia, bagi gue bukan levelku," ucapnya dengan nada sinis.
"meskipun kamu nggak suka sama gaya dia, setidaknya ya jangan menghina, bukannya aku membela dia, sesama manusia gak boleh membanding-bandingkan," jelas ku ke Wina dengan lembut.
"iya deh ya, maaf aku khilaf," tukasnya seraya muka yang sangat jutek.
"ya udah ayo kita masuk," pekik ku dengan menggandeng tangannya dan mencoba menenangkan hatinya.
sedangkan di posisi Wildan, dia adalah karyawan baru di pabrik ini, yang sangat cepat menemukan banyak teman.
"eh Lo anak baru ya, yang katanya si Ria itu?" tanya Deni.
"iya mas, saya anak baru di sini," ucapnya.
"namamu siapa, oh ya kenalin namaku Deni, aku udah lama kerja di sini," ucapnya yang sok terkenal.
__ADS_1
"aku Wildan mas, salam kenal juga buat mas Deni," balasnya.
"ya udah yok masuk jam kerja sudah tiba," ajaknya.
Wildan pun menganggukkan kepalanya dsn berjalan masuk untuk bekerja, di saat Wildan dan Deni masuk ke dalam, tidak sengaja Wildan menabrak Nila yang tengah bercanda dengan temannya.
"Brak"
"Auh"
Nila pun kaget dengan adanya itu, dan kesakitan, padahal si nggak sakit, cuman Nila yang suka dengannya dia mencari perhatian kepada Wildan.
"eh sorry, ak nggak sengaja," ucap Wildan setelah menabrak Nila.
"iya kok gapapa, lain kali hati-hati dong kalau jalan sakit tau!" rintihnya yang pura-pura kesakitan.
Wildan pun hanya tersenyum dan tanpa basa-basi dia langsung menerobos masuk.
"eeh malah nyelonong begitu aja, di tanya kek, apa kek, ih bikin kesel aku aja nih orang," Oce Nila dengan muka jutek dan melas.
di saat masalah drama mau masuk ke dalam sudah selesai, akhirnya semua karyawan pun bekerja dengan keras, sampai jam istirahat tiba.
****
jam istirahat sudah tiba, saatnya semua karyawan pergi untuk mencari makan dan bersantai.
sedangkan wildan keluar bersama Deni dan teman-teman lainnya, menuju ke suatu tempat.
"Win ..!" panggilku di depan pintu.
"iya sebentar," ucapnya seraya berjalan menghampiri ku.
tiba-tiba Nila datang menghampiri ku dengan ingin meminta nomer handphonenya Wildan.
"ma-mau ngomong apa?" tanya ku.
"aku boleh minta nomer telponnya si Wildan nggak!" ucapnya seraya cengar-cengir.
di saat ada Nila, Wina pun tiba di sampingku dengan bertanya.
"hay Nil ada nih?" tanya Wina dengan nada sedikit keras.
"gue nggak ngapa-ngapain kok, cuman pengen minta nomernya si anak baru tu," ucapnya dengan meringis.
"emang buat apa, Lo suka ya sama dia," tukasnya.
"nggak si cuman buat tambah kontak aja," ujarnya.
"ala ngomong aja kalau lu suka sama dia," sambungnya dengan nada sentak.
"ihh apaan si, eh Ria nanti kirim ke wa aku ya, aku tunggu, oke!" ucapnya sembari berjalan pergi.
perdebatan antara Wina dan Nila pun selesai, saatnya aku dan Wina pergi ke warteg langgananku, sembari berjalan menuju warteg, giliran aku yang mendapat pesan dari mas Yunus.
"eh Ria emang bener ya Nila suka sama si anak baru itu?" tanya Wina dengan berjalan.
"aku juga nggak tau Win, tapi .. di lihat dari gerak geriknya si kayaknya di terlalu caper sama Wildan," ucapku.
"tumben kamu tanya tentang Wildan, kamu cemburu ya ..." pekik ku dengan menggodanya.
"apa sih! nggak lah, aku kasih tau ya sama sahabatku yang cantik ini, aku tu masih belum bisa buka hati buat orang luar," jelasnya yang sampai di warteg Bu Dia.
"iye deh .. aku paham dengan perasaan kamu kok, ya udah pesan gih ke Bu Dia," ucapku menyuruh Wina pesan makanan.
Wina yang masih trauma dengan mantan pacarnya dulu, ketika masih pacaran di saat Wina ingin berpamitan bekerja merantau di Jakarta selama 3 tahun.
__ADS_1
saat Wina pulang ke kampung sang mantan pacarnya telah mengkhianatinya dengan meninggalkan Wina menikah dengan orang lain.
jadi sampai sekarang dia masih trauma untuk menjalin hubungan lagi.
"ini neng makanannya, selamat menikmati," ucap Bu Dia yang sembari menyodorkan makanannya.
"makasih Bu Dia," ucapku dengan barengan sama Wina.
"tumben kompak, seperti adik dan kakak," ucap Bu dia yang terkekeh.
"ah bisa aja Bu dia ini," ucapku.
"ya udah yok kembali lagi ke pabrik, dah mau habis ini jam istirahatnya," ucapku.
"eh tunggu ada telpon nih, kamu jalan dulu aja gapapa," ucapku suruh Wina.
"Hem ... pasti dari si Yunus itu ya kan .." ujarnya yang terkekeh.
hush ...
'halo, mas Yunus,' ucapku di ujung telepon.
'halo juga ibu negara, kamu lagi apa sekarang udah makan siang belum?' tanya mas Yunus di dalam telepon.
'alhamdulillah sudah kok, mas Yunus gimana sudah makan belum,' tanya balik.
'sudah dong .. yang rajin ya kerjanya,' pekiknya yang membuatku tersenyum-senyum sendiri.
'iya mas Yunus juga semangat kerjanya, aku tutup dulu ya telponnya, soalnya udah habis jam istirahatnya,' tukas ku seraya berjalan menuju pintu gerbang.
'ya udah gapapa, lagian aku juga ada meeting nih di kantor, ya udah pulangnya hati-hati di jalan ya, jangan lupa berdoa,' ucapnya, sembari mematikan telepon.
aku pun masuk ke dalam untuk melanjutkan pekerjaanku, sampai jam pulang.
***
akhirnya semua karyawan pulang dsn langsung keluar dari dalam pabrik menuju gudang parkiran.
di saat ingin pulang, Wildan yang baru saja keluar dari dalam, nyamperin aku bahwa ad sesuatu yang mau di omongin.
"Ria, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucapnya.
"mau ngomong apa?" tanyaku.
"jujurnya sebenarnya aku pengen lebih Deket sama teman kamu itu," ungkapnya dengan malu.
"siapa? si Wina atau Nila?" jawabku yang kebingungan.
"iya itu yang tadi itu, yang makan bareng sama kamu itu," ujarnya.
"oh si Wina," Wildan pun menganggukkan kepalanya.
"ya kamu samperin aja langsung, ngobrol baik-baik sama dia gitu," saran ku ke Wildan.
"gitu ya, ya udah kita lihat besok aja, tapi kamu bantu aku dong," tukasnya meminta tolong.
"bantu gimana, maksud kamu?" ucapku dengan mengangkat satu alis.
"iya pokoknya gitu deh .. masak kamu gak paham, bantu aku buat supaya lebih Deket lagi sama si Wina." jelasnya.
"ooh ... gitu, jangan-jangan kamu naksir ya sama Wina," pekik ku dengan sedikit menggoda Wildan.
"eee .. dah lah aku pulang dulu," singkatnya sembari berjalan menuju parkiran.
ketika itu, aku juga langsung ambil motorku dan bergegas pulang ke rumah.
__ADS_1