
Hari yang sudah ku nantikan telah tiba.
aku bangun pagi untuk beberes rumah dan melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu.
selesai sholat, aku bersiap untuk berangkat ke stasiun yang akan di jemput dengan mas Yunus.
saat itu mas Yunus mengirimkan pesan lewat ponsel.
dia akan segera menjemput ku, dan aku di suruh berdandan secantik mungkin.
saat sudah selesai make up, aku mengecek perdapuran dan segera berangkat.
tidak lupa membawa barang-barang yang sudah aku packing semalem.
mas Yunus, yang sudah sampai di depan gerbang, aku segera keluar dan tidak lupa mengunci semua pintu ku.
aku segera naik ke mobil mas Yunus dan duduk di samping mas Yunus, untuk menuju ke stasiun kereta api.
sesampainya di stasiun, aku dan mas Yunus akan segera melakukan check in ke loket, setelah check in, kami berdua untuk di persilakan duduk dulu, karena menunggu keretanya datang.
15 menit kemudian.
kereta yang akan aku naiki sudah tiba, aku langsung bergegas masuk ke dalam untuk mencari tempat duduk.
5 menit aku menunggu kereta di berangkatkan aku menaruh barang bawaan ku di bagasi atas.
kereta pun berangkat menuju stasiun Surabaya.
di tengah perjalanan aku dan mas Yunus ngobrol santai sembari menikmati pemandangan dari kaca jendela.
1 jam kemudian.
kereta ku sudah tiba di stasiun Surabaya, aku segera mengambil barang bawaan ku di bagasi atas dan mengantri untuk turun keluar.
setelah beberapa jam aku dan mas Yunus menaiki kereta api, kami berdua segera keluar untuk menunggu Driver yang sudah di pesan oleh mas Yunus.
aku berjalan menuju depan stasiun, selang 5 menit kemudian, Drive kami sampai.
kami berdua segera masuk ke dalam mobil, sementara itu barang bawaan ku aku titipkan ke pada sopir untuk di taruh di bagasi mobil.
karena perjalan stasiun ke rumah ku lumayan jauh, paling ya sekitar setengah jam an.
"Mas, makasih ya sudah mau nemenin aku pulang kampung," ucapku yang di sebelah mas Yunus.
"iya sama-sama, kamu nggak laper dari semalam kamu belum makan Lo, nanti kalau sakit gimana?"
"emm nggak mas aku nggak papa kok," seru ku.
tak terasa kami sudah sampai di gang depan rumah ku, kami berdua turun untuk jalan kaki,tidak lupa mengambil semua barang bawaan ku.
"apa kita sudah sampai di rumah kamu?" ucapnya dengan melihat sekeliling jalan.
"iya mas, ayo kita lewat sini," ucapku.
aku dan mas Yunus melewati gang yang di depan rumah ku, dengan membawa barang bawaannya.
"Assalamu'alaikum Bu, Assalamu'alaikum " ucap ku di depan pintu rumahku.
"eh ya Alloh, Waalaikumsalam nak," sahut nya dengan wajah seneng melihat aku pulang.
"ya Alloh naak, ibu kangen banget sama kamu,"
"iya Bu, Ria juga kangen banget sama ibu, terakhir aku kesini udah 2 tahun yang lalu kayaknya," sahutku dengan wajah tersenyum bahagia.
"oh ya Bu kenalin, ini mas Yunus," ucapku yang mengarah ke mas Yunus.
mas Yunus dan ibu langsung berjabat tangan dengan senyum sopan.
__ADS_1
"oh nak Yunus, kamu teman kerja apa gimana, eh sudah-sudah ayo masuk dulu, nggak enak kalau ngobrol di luar," tukasnya yang menyuruh masuk ke dalam.
"ayo mas," ajak ku.
mas Yunus pun membalasnya dengan anggukan kepala sembari berjalan masuk untuk duduk di ruang tamu.
"silahkan nak Yunus duduk, ya begini rumah kami,"
"iya Bu gapapa, sama saja kok," sahutnya yang duduk di sebelah Ria.
"bentar ya mas Ria masuk ke kamar dulu mau taruh barang bawaan ku."
mas Yunus pun menganggukkan kepalanya.
sedangkan di ruang tamu hanya ada ibu dan mas Yunus, ibu pun ngobrol santai di sana.
"oh ya kamu teman kerjanya Ria kah, atau gimana?" tanyanya yang penasaran.
"nggk Bu, kebetulan saya kenal sama Ria di jalan di saat Ria jatuh dari motor pas pulang kerja, terus saya tolongin dia, saya bawah ke rumah sakit dan selang beberapa hari akhirnya kami dekat dan saling mengerti satu sama lain." jelasnya.
"ya Alloh Ria jatuh saat pulang kerja," sahutnya dengan syok.
"makasih ya nak, sudah mau nolongin Ria, ibu jadi ngerepotin kamu,"
"nggak kok Bu, kebetulan pas lagi di jalan jadi langsung saya bawa ke dalam mobil untuk menuju ke rumah sakit." sambungnya.
"oh nak Yunus, kerjanya apa, maaf kalau ibu salah tanya ,"
"kebetulan saya kerja sebagai direktur perusaan besar di Jakarta, ini tadi saya minta cuti 2 hari, karena ingin mengantar Ria pulang kampung, sekalian silaturahmi dengan ibu." ungkap ku.
selang beberapa menit, Ria yang selesai di dapur membuat teh untuk mas Yunus, kini menuju ruang tamu dengan membawa nampan berisi teh.
"mas, silahkan di minum, maaf cuman teh yang bisa saya suguhkan." ujarku dengan menaruh teh ke meja tamu.
"iya gapapa kok," sahutnya dengan tersenyum.
"apa mas gapapa menginap di sini, apa mas besok nggak ke kantor ?" tanyaku yang menatap wajahnya.
"nggak kok, kamu tenang aja, tadi aku udah bilang sama sekertaris ku." ujar mas Yunus.
"Ria, suruh istirahat gih di kamar, antar dia ke kamarnya," ucapnya.
aku pun mengantar mas Yunus ke kamar yang disediakan khusus untuk tamu.
"ini mas kamarnya, semoga mas betah tinggal di sini," tukasku seraya membukakan pintu untuknya.
mas Yunus pun menganggukkan kepalanya dan menatap ku, dengan berjalan masuk ke dalam.
aku pun setelah mengantar mas Yunus ke kamar, aku bergegas menuju dapur, untuk memasak buat makan siang nanti.
"Nak, kamu ngapain?" sahutnya yang menghampiri ku.
"ini, aku mau masak buat makan siang bersama,"
"udah biar ibu aja yang masak, kamu kan baru sampai pasti capek," titahnya dengan merebut pisau dari tanganku Dengan pelan.
"nggak usah Bu, ibu istirahat saja di ruang tamu,"
"nggak, ibu nggak mau, ibu mau bantuin kamu aja, biar cepat selesai makanannya." sahutnya dengan senyuman.
sedangkan mas Yunus yang sedang beristirahat di kamarnya, aku dan ibu menyiapkan makanan di meja makan.
"Nak, cepat panggil Yunus di kamarnya, untuk makan siang bareng,"
"baik bu," tukas ku dengan berjalan menuju ke kamar mas Yunus.
"Tookkk "
__ADS_1
"Tookkk "
"Mas, ayo kita makan siang bersama," panggilku di luar pintu kamar.
"CEKLEEKK"
mas Yunus membukakan pintu kamarnya, dengan wajah yang baru bangun tidur dan rambut yang berantakan.
"iya aku akan segera kesana, aku cuci muka dulu ya,"
"mas, kamu kecapean ya, maaf ya aku sudah mengganggu tidur kamu, kalau mas kecapean biar saya nanti mengantarkan makanan ke kamar kamu." jelas ku yang menatap wajahnya.
"hmm nggak usah, aku baik-baik saja kok," pekiknya yang tersenyum dengan ku.
"ya sudah aku tunggu di meja makan ya mas," ucapku.
***
setelah beberapa menit kemudian.
mas Yunus keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan, untuk makan siang bersama ibu.
"Nak .. bangun tidur ya, maaf ya ibu mengganggu tidur kamu,"
"nggak kok Bu, aku nggak papa," sahutnya.
Ria yang sedang menyajikan nasi di piring ibu dan mas Yunus dengan memberikan air putih di gelas masing-masing.
"mas kamu mau ikan apa biar aku ambilkan?" tawarku.
"apa aja, gapapa kok,"
aku pun mengambilkannya lauk ayam Taliwang dan sayur lompong buatanku sendiri.
"Nak, ayo di makan, maaf cuman ada lauk Yang sederhana saja," ujarnya.
"iya gapapa Bu, lagian ini sudah lebih dari cukup kok,"
selang bicara, dengan suapan pertama di mulut mas Yunus.
"hmm enak sekali, apa ibu yang masak!" tanyanya dengan kagum.
"enggak, si Ria yang masak tadi," ucapnya dengan menuju ke arah ku.
aku pun tertunduk malu.
"ooh pantesan enak sekali masakannya, pertama kali aku nyobain masakan Ria, ternyata kamu jago masak juga ya," sambungnya dengan memujiku.
"hmm makasih, nggak kok cuman masak yang aku bisa aja," sahut dengan menunduk ke bawah.
5 menit kemudian, setelah selesai makan.
aku segera membereskan bekas makan tadi dan ku bawah ke dapur untuk di cuci.
sedangkan ibu, yang akan menyimpan sisa masakan tadi di laci khusus makanan.
mas Yunus yang selesai makan, kini sedang bersantai di teras depan, sembari melihat pemandangan hijaunya pekarangan ku.
5 menit kemudian.
aku selesai beberes di dapur, kini menyusul mas Yunus untuk menemani di teras.
dengan duduk di samping mas Yunus yang dihalangi oleh meja di tengahnya.
"Ria, ak pengen ngomongin soal yang kemarin lusa, apa kamu mau jadi pasangan hidup ku," ucapnya dengan suara jelas.
"emm, alangkah baiknya jika mas, membicarakan ini kepada ibu ku langsung," terang ku.
__ADS_1
"baik, kalau begitu, nanti malam bada magrib, aku akan bicarakan ini dengan ibu kamu." sahutnya dengan wajah polos.