
Sinar Mentari yang menyorot tembus di cela jendela, membuatku telat bangun.
"Astaghfirullah!! Aku telat bangun, jam berapa ini," teriak ku sembari melihat jam di dinding kamar.
"Lah!! Sudah jam 8 pagi, Ria .. tumben kamu bangun kesiangan," tukasku yang menyalahkan diri sendiri seraya memukul pelan kepalaku.
"sudah telat bangun, nggak sholat subuh, apa aku kecapean yah!" oce ku seraya membereskan tempat tidur.
"Dreetttt "
"Dreetttt "
Di saat ingin menuju ke kamar mandi, tiba-tiba ponselku bergetar di atas meja kamar.
"Siapa lagi! yang telpon," racau ku yang ingin mengambil ponselnya.
'Halo, Siapa yah?' ucapku di ujung telepon, dengan tidak sepengetahuan bahwa yang telpon itu mas Yunus.
'Lah!! ini mas Yunus lah, siapa lagi, Kamu nggak papa kan?' sahutnya dengan heran mendengar ucapan Ria.
'astaghfirullah, ma-mas maaf saya nggak tau kalau ini mas Yunus, maaf aku baru bangun,' sambung ku dengan nada gagap.
' hhh tumben kamu bangun kesiangan, hayu abis begadang yah ..' racaunya yang tertawa kecil.
'***heheh, aku semalem loh nggak begadang,'
'hmm mungkin kamu kecapean, oh ya jangan lupa nanti jam 10 aku jemput yah*** ..' titahnya di telepon selulernya.
'***i-iya mas,'
'ya udah aku mau meeting dengan klien, sampai bertemu nanti, assalamu'alaikum,'
'Waalaikumsalam***,' jawabku sembari memutuskan telepon selulernya.
obrolan dengan mas Yunus kini sudah selesai, saatnya aku bergegas ke kamar mandi.
keluar dari kamar mandi, dan selesai ganti baju, aku lanjutkan dengan beberes di dapur.
tidak lupa cuci baju, dengan aku sambi menyapu dapur hingga menuju ke halaman depan.
selesai menyapu, aku lanjut menjemur pakaian yang sudah ku cuci di halaman belakang.
jemur pakaian sudah selesai saatnya ganti menuju ke dapur untuk masak berhubung sudah lapar jadi aku masak yang singkat saja.
"Yah .. makan siap minuman juga siap, saatnya makan di depan televisi, menikmati hidup, mumpung masih ada waktu sebelum di jemput mas Yunus," titahku sembari membawa nampan berisi makanan.
selang beberapa menit kemudian, makan pagi sudah selesai, saatnya aku mencuci piring bekas makanku tadi.
tepat di jam 10 kurang 10 menit, aku segera ganti baju, karena sebentar lagi, akan di jemput mas Yunus.
"semoga nanti di saat bertemu dengan orang tuanya mas Yunus berjalan dengan lancar, Amiin," Titahku yang di depan kaca sembari tersenyum tipis.
"Tiiinn"
"tiinn"
__ADS_1
Terdengar Sur klakson mobil Mas Yunus dari dalam rumah, kini aku mengambil tas dan segera keluar menghampirinya.
tidak lupa mengunci rumah pintu, tepat di depan pintung gerbang, kini juga ku kunci.
dengan berjalan cepat aku segera masuk mobil.
"Maaf mas nunggu lama yah!" ucapku yang sedang mengenakan sabuk pengaman.
di saat aku ingin mendongakkan kepalaku ke arah mas Yunus, seketika mas Yunus terdiam seraya melototiku yang tanpa henti.
"Masyallah, kamu sungguh Sholehah sekali, dan cantik banget hari ini kamu," pujinya yang berlebihan.
"ihh! mas Yunus, jangan berlebihan memujiku jadi nggak enak akunya," sahutku dengan wajah merah merona.
"nggak kok, kamu benar-benar cantik, nggak salah aku pilih kamu," pujinya lagi.
"udah ayok mas kita jalan," sahutku yang mengalihkan perhatian mas Yunus.
dengan terkejutnya hingga melongo, kini mas Yunus melajukan mobilnya, untuk menuju rumahnya.
"aku heran, mas Yunus yang gagah dengan bertubuh kekar berkulit putih, Sholeh, bisa mau sama aku, yang cuman anak desa sederhana," batin ku di dalam hati sembari melihati mas Yunus menyetir mobil.
Dengan perjalanan yang lumayan lama dan juga jauh, mas Yunus hanya diam dan fokus menyetir mobilnya.
"Mas!!"
"Hmm iya," ucapnya yang melirikku sesekali.
"masih jauh yah!" tanyaku dengan menyerngitkan dahi.
"oh nggak papa kok," singkatku.
"Dreeettttt"
ponsel bergetar di dalam tas, dan segera aku lihat ada pesan dari siapa yang masuk.
ternyata pesan dari ibu dan Wina, sedangkan ibu yang menanyakan bagaimana mana acaranya lancar, dan si Wina mengirim pesan dengan tulisan Ria jangan lupa besok liburan di acara pabrik.
selesai ku balas satu persatu, tak terasa sudah sampai di halaman rumah mas Yunus.
dengan tidak bisa di kondisikan, mataku yang terbelalak melihat kemegahan rumah mas Yunus, kini menjadi perasaan yang campur aduk.
"Ria ayo turun dah sampai," ucapnya.
"i-ini rumah mas," ucap ku yang gagap melihat rumah berasa istana.
"iya, ya udah ayuk turun," ajaknya.
turun dari mobil kini aku dan mas Yunus berjalan menaiki anak tangga yang menuju pintu ruang tamu.
setelah di depan pintu rumahnya, aku dan mas Yunus di sambut oleh ART yang tengah membukakan pintu untuk kami berdua.
"Selamat pagi Tuan dan nyonya" ucapnya yang sangat ramah dengan majikan.
"Pagi Bi" singkat mas Yunus yang tengah melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ria ayuk masuk!" sahutnya yang menyuruhku.
tanpa basa-basi aku langsung masuk sembari melihat langit-langit atap ruang tamunya yang sangat mewah.
"ayo duduk dulu, bentar aku panggil mama dan papa ku dulu ya," ujarnya yang masuk ke dalam.
sedangkan aku yang tengah duduk di sofa bernuansa emas dan empuk.
tiba-tiba ART dari rumah mas Yunus kini mendatangi ku dengan menawarkan minuman.
"Neng mau minum apa, biar saya buatkan," ucap bibi Tutik ia adalah ART dari rumah ini.
"eh apa aja Bi, saya nggak ingin merepotkan bibi," sahutku dengan senyuman.
setelah beberapa menit kemudian, kini mas Yunus dan orang tuanya keluar dari dalam dan menghampiriku di ruang tamu.
"Bu, pak assalamu'alaikum," ucapku seraya berdiri dan bersalaman.
"Waalaikumsalam Nak, oh jadi kamu yang namanya Ria, ayo silahkan duduk," ucap ibunya mas Yunus yang menyuruhku untuk duduk.
"kamu cantik sekali, udah lama kah kenal sama Yunus," sahut papanya mas Yunus.
"belum lama kok pak, buk, sekitar satu bulanan," sambungku dengan nada sopan.
Yunus yang tengah duduk di samping dan orang tuanya duduk di sofa pinggir ku.
"oh gitu, iya lagian Yunus sudah pernah cerita sama saya, kalau akan ada calon menantu, eh .. ternyata kamu toh!" jelasnya yang terkekeh.
"hmm bisa aja Bu ini," Senyumanku membuat wajah malu.
selang beberapa menit akhirnya, mas Yunus yang ingin mengatakan sesuatu kepada orangtuanya langsung.
kini pembicaraan di mulai di hadapanku dan juga orang tuanya.
"Bu sebenarnya, Ria ingin bersilaturahmi sama papa dan mama, ada juga sesuatu yang ingin Yunus katakan pada mama dan papa," jelasnya dengan wajah agak serius.
"emangnya mau ngomong apa kamu Nak, ngomong saja," sambungnya dengan nada ramah.
"jadi begini, kami berdua ingin meminta restu dari mama dan papa, kalau Yunus ingin sekali menjadikan Ria sebagai bagian keluarga kita yaitu calon menantu dan calon istri ku, apa mama dan papa merestuinya?" jelasnya dengan panjang lebar seraya suara agak grogi.
"oh jadi itu yang ingin kamu sampaikan kepada mama dan juga papa," sahut papa mas Yunus.
" iya pah, mah" singkatnya.
beberapa menit kemudian, Bi Tutik yang kini keluar dari dalam dapur dengan menuju ke kami yang membawa nampan berisikan minuman.
"Monggo di minum tuan, Aden dan nyonya," ujar bi Tutik, sembari meletakkan teh di atas meja.
setelah Bu Tutik pergi ke dapur, kini mamanya mas Yunus menyuruhku untuk meminum teh nya.
"ayuk nak Ria, silahkan di minum dulu tehnya, biar nggak tegang," racaunya yang terkekeh.
"iya Bu, makasih saya minum tehnya," singkatku dengan mengambil secangkir teh di atas meja.
Ketika acara minum tehnya selesai, kini aku dan mas Yunus sedang menunggu jawaban dari orang tuanya.
__ADS_1