
"Halo, Ria, nanti kamu jemput aku kerja yah, motorku di pakai adek sekolah," ucap ria di ujung telepon seluler.
Pagi sekali ria sudah menelepon dr Ngan menyuruhku untuk menjemputnya.
"oke, aku otw kesana yah!" singkatku seraya mematikan ponselku.
siap di depan pintu luar gerbang, saatnya menuju rumah Wina yang tidak jauh dari kost ku.
jalanan masih sepi dan tidak begitu macet, akan ku percepat laju motor ku.
tepat di perempatan jalan, ada supermarket yang sudah buka di pagi hari, aku mampir sebentar untuk membeli minuman.
selesai membeli minuman, langsung saja melanjutkan perjalanan ku menuju rumah Wina.
10 menit kemudian, akhirnya sudah sampai di depan gerbang rumah Wina.
"Win, assalamu'alaikum," salam ku yang tengah berdiri sembari mengetuk pintu gerbang.
keluarlah ibunya Wina, yang kini menghampiri dan membukakan pintu.
"eh ada Ria, teman kerja Wina yah," sahut ibu Wina seraya berjabat tangan dengan ku.
"iya Bu, em .. Wina ada?" tanya ku mengangkat satu alisku.
"oh ada, bentar saya panggilkan dulu," titahnya yang menatap ku.
belum sempat ibu Wina memanggilnya, kini Wina sudah ada di awang-awang pintu.
"Bu assalamu'alaikum Wina langsung berangkat yah," ucap Wina yang terburu-buru.
"i - iya kamu hati-hati yah," jawab ibu Wina yang gagap dengan wajah heran.
"ayo Ria!"
"Bu saya pamit berangkat kerja dulu yah, assalamu'alaikum," pekikku yang bersalaman dengan ibu Wina.
"Eh Win kenapa kamu kok terburu-buru gitu tadi!" tanyaku yang heran dengan sikap Wina.
"oh itu anu, tadi malam Wildan chat aku katanya sih mau kasih aku sesuatu," jelas Wina yang aku bonceng.
selang beberapa menit kemudian, akhirnya kami tiba juga di pabrik.
kini saatnya aku segera menuju ke tempat parkir, sedangkan Wina sedang menungguku di luar.
selesai memarkirkan kendaraan ku, segera aku menghampiri Wina yang sudah menungguku.
"Hay Ria, sendiri aja," sahut Deni yang tengah berjalan menuju parkiran.
"eh nggak kok, tuh .. Wina di luar," titahku yang menunjuk ke Wina.
ketika ingin menghampiri Wina, kini dia sedang ngobrol dengan Nila.
"Hay Nil gimana kabar mu, istirahat nanti gabung kita yuk cari makan bareng," ajak ku ke Wina.
"hah, nggak deh, lu aja, gue bisa istirahat sama yang lain," tolaknya dengan raut kesal.
"lah, emang kenapa?" tanya Wina dengan mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"Nil, apa kamu masih marah sama aku, sudah lah, kalau kamu bener - bener suka sama Wildan, bisa kok aku bantu kamu," titah Wina ke Nila.
"idih .. ogah gue, jangan sok baik Luh, lu ngomong gitu supaya gue bisa berteman sama lu kan," sambungnya dengan wajah kesel.
"loh .. kok kamu ngomong kek gitu sih, ya udah kalau kamu nggak mau, tapi .. jangan harap kamu sama Wildan," ucapku sembari membuat panas hati Nila.
"eh dengerin yah, Wildan tu milik aku, kalau kamu sama dia, nggak pantes!" tukasnya yang menunjuk ke dada Wina.
"eh sudah, jangan bertengkar lagi, kamu yah Nila, Sudah baik di bantu sama Wina, malah sewot kek gitu," pekikku dengan hati emosi.
"dah yok Ria masuk, nggak penting ngurusin dia," singkat Wina yang menyindirnya.
tangan ku pun di gandeng paksa sama Wina yang menyeret ku kedalam pabrik.
***
Tak lama kemudian, jam istirahat sudah tiba, seperti biasa langsung menuju ke warung Bu Dia.
aku yang tengah berdiri di depan gerbang luar, yaitu pinggir jalan, yang sedang menunggu Wina keluar.
sembari menunggu Wina, kini aku tengah mengabari ibu dan mas Yunus.
"Dreetttt"
"dreetttt"
belum sempat aku ingin mengabari ibu, ibu sudah menelfon aku duluan.
'halo assalamualaikum ibu,' ucap salam ku di ujung telepon.
'waalaikumsalam Nak, kamu ini ada dimana?" tanya ibu kepada ku.
'***alhamdulillah baik Nak, ya Sudah kalau begitu, nanti ibu telfon lagi, assalamu'alaikum,'
'waalaikumsalam***,' ucap salamku dan memutus ponsel ku.
tak lama kemudian, Wina menghampiri ku di barengi dengan Wildan berjalan menuju kemari.
"Lah, kok barengan tumben?" tanyaku dengan muka heran.
"em nggak kok kebetulan saja," sahut Wildan di samping Wina.
"oh ... ya udah yuk," ajak ku.
kamu bertiga pun berjalan menuju warung Bu Dia.
"Wil!" ucap Wina ke Wildan.
"iyah," sahutnya seraya menoleh ke Wina.
sedangkan aku yang tengah sibuk memainkan headphone ku, tidak memperdulikan mereka berdua.
"oh ya Win aku pengen ngomong sama kamu,"
"mau ngomong apa," sahutku seraya berjalan kaki.
"em .. kamu mau jadi pendamping hidup ku," ungkapnya dengan muka tertunduk.
__ADS_1
tepat di ucapan Wildan, kini aku langsung sentak kaget mendengarnya.
"Hah, apa!" sahutku yang tersentak kaget.
"eh Wina, tu tadi, si Wildan nggak salah ngomong apa?" bisikku ke Wina.
"aku juga nggak tau, dia telah ngungkapin perasaannya ke aku," sambung Wina dengan suara pelan.
"kalian gapapa kan?" tanya Wildan, seraya ada di belakang ku.
"eh e - gapapa kok, kita gapapa kan win," ucapku seraya memberi kode ke Wina dengan pukulan di pundak.
"iya kita gapapa, ya udah yuk masuk," titahnya seraya sudah di depan warung Bu Dia.
kami bertiga telah masuk dan mencari tempat duduk, Wina yang sedang menuju ke depan untuk pesan makanan.
kini hanya aku dan Wildan yang ada di tempat duduk, Wildan tengah sibuk dengan handphonenya.
tak lama kemudian, deni datang ke warung Bu Dia untuk membeli rokok.
"eh Wil, ku ada di sini, pantesan gue cari ku di pabrik ga ada," ucap Deni yang tengah menyalakan api di ujung rokok.
"ayo ikut gue,udah di tunggu tuh sama yang lain," ajaknya.
"oh iya iya nanti gue nyusul, oke!" singkat Wildan kepada Deni.
Deni pun tersenyum dan segera pergi meninggalkan kami bertiga.
selang beberapa menit kemudian, makanan kami, sudah datang dan tertata rapi di meja makan.
"Makasih ya Bu Dia," ucap ku dengan senyum Pepsodent.
"iyah sama-sama," sahut Bu Dia seraya pergi kembali ke dapur.
"win, aku tunggu jawaban dari kamu, aku pergi dulu, udah di tunggu sama deni!" singkatnya yang terburu-buru.
kini Wildan hanya meneguk minuman sekali yang sudah ku pesan tadi, dan pergi begitu saja.
"Ria, kasih aku solusi dong!" ucapnya di sela-sela makan.
"gimana yah!" sahutku dengan garuk-garuk kepala.
"yah gimana gitu, atau aku suruh dia kasih waktu buat ngejawab yah!" tebak Wina yang sesekali menyuap makanan.
"Nah, boleh juga itu, biar kamu nggak kelabakan jadinya," Titahku ketika selesai makan.
"iya udah deh, nanti coba biar aku ngomong sama dia", pekik Wina dengan muka lesu.
selesai makan aku segera membayar di Bu Dia dan melanjutkan perjalanan menuju ke pabrik.
karena sebentar lagi, waktu sudah mulai abis dan segera masuk untuk bekerja kembali.
di saat ingin masuk ponsel ku bergetar setelah aku lihat ternyata telpon dari mas Yunus.
tak sempat aku angkat, ada pak Hendro yang sedang berjalan keluar dari kantor, kini langsung aku matiin panggilan dari mas Yunus tersebut.
segera aku bergegas masuk ke dalam pabrik, sebelum ketahuan sama pak Hendro.
__ADS_1
ketika suasana di pabrik agak mulai sepi, kini aku mengirim pesan kepada mas Yunus.
bahwa aku sudah masuk kerja, jadi nanti saja telfonnya dan akan ku matikan ponsel ku.