Do'A Ibu Yang Sederhana

Do'A Ibu Yang Sederhana
Bab 38 Dua hari lagi ...


__ADS_3

'Iya ini sudah di dalam kereta, otw ke Jakarta, emang kenapa?' tanya mas Yunus yang di ujung telepon seluler.


'Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ibu negara,' goda mas Yunus yang terkekeh.


'hehe siap, biasa aja, ya udah aku matiin yah, assalamu'alaikum,'


'waalaikumsalam,' sahutnya dengan memutus telepon selulernya.


dengan perjalanan yang lumayan lama, kini aku mencoba beristirahat sejenak di kursi.


hampir sekitar setengah jam an akhirnya sampai di stasiun Jakarta di waktu isya.


kini aku langsung mengemasi barang bawaan ku yang ada di bagasi atas.


dengan menuju pintu gerbang keluar dari kereta api yan bergantian tanpa harus ber desak desakan.


keluar sudah dari kereta api, kini saatnya aku menuju gerbang luar stasiun untuk segera mencari taksi online.


"Pak, pak berhenti," sahutku dengan melambaikan tangan ku.


taksi pun menepi di pinggir jalan dan pak sopir pun keluar untuk membantu ku menaruh koperku di bagasi mobil.


selesai sudah, kini aku sedang dalam perjalanan menuju rumah kost ku.


hampir lumayan jauh sih, jarak antara stasiun dengan rumah ku sekitar 45 kilometer.


kini aku berjalan menuju rumahku sekitar jam 9 sampai di sana.


"Neng baru pulang kampung yah," ucap pak sopir yang di depan ku.


"iya pak!" sahut ku.


setelah beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai juga di depan rumahku.


kini saatnya aku keluar dan mengambil koperku, tidak lupa segera membayar taksinya.


"ini pak, makasih yah .. bapak ati-ati di jalan," tukasku dengan mengulurkan uangnya.


pak sopir pun tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya lalu pergi.


ketika sudah ada di dalam rumah, aku langsung bersih-bersih dari mulai menaruh koper dan ganti baju.


tidak lupa juga sholat isya, setelah sholat kini aku segera beristirahat karena besok harus bangun pagi untuk bekerja.


sebelumnya aku sudah makan malam tadi di dalam kereta, jadi sekarang tinggal rebahan saja.


tak lupa aku mematikan lampu ruang tamu dan langsung menuju ke kamar.


****


Keesokan harinya ...


"sudah wangi, cantik lagi," racau ku di depan cermin.


bersiap untuk berangkat kerja, dengan memulai di pagi hari.

__ADS_1


'Halo win, udah di pabrik belum?' tanyaku di ujung telepon.


'oh ini baru mau otw, kenapa kamu udah pulang,' tanya balik.


'ya udah lah, kalau belum mana mungkin aku tanyain kamu udah berangkat apa belum!' protes ku dengan wajah murung


'hehe .. ya udah kita ketemu di pabrik aja yah, oke bay!' tukasnya sembari menutup telfonnya.


tak tinggal diam, saatnya aku berangkat menuju tempat bekerja ku.


15 menit kemudian, akhirnya aku sampai juga di pabrik, dan langsung saja menuju ke parkiran.


sembari melihat ke daerah parkiran, ternyata si Wina belum datang juga.


aku keluar dari tempat parkiran sembari berjalan pelan, dengan menunggu Wina datang.


tak lama kemudian, akhirnya dia datang juga, segera aku tunggu di depan pintu masuk pabrik.


"Hay Ria, gimana sukses!!" tanya Wina yang menghampiri ku.


"Alhamdulillah sukses dong, hehe" sahutku yang terkekeh.


"terus terus gimana, cerita dong ... masak sama sahabat sendiri nggak mau cerita," rajuk nya dengan muka kek bantal.


"iya iya, nanti pas istirahat aku ceritain kok, tenang aja!" sambung ku dengan nada slay.


"beneran nih, awas nanti kalau nggak!" ancamnya dengan muka serem.


***


sembari menunggu Wina keluar, kini aku mengabari ibu dan juga calon suami ku.


"Hey yuk, ke Bu Dia, dah lapar aku, tadi belum sempat makan, cuman nyemil roti aja!" pekiknya dengan berjalan pelan.


"ya udah deh yuk," singkat ku.


kami pun berjalan menyebrangi jalan karena warteg Bu Dia ada di sebelah kanan jalan.


belum sampai di wartegnya, aku mampir dulu ke sebuah konter Cell untuk membeli pulsa.


sedangkan Wina kini membeli minuman dingin 2 botol, selesai sudah di konter.


aku melanjutkan lagi ke warteg Bu Dia, karena warteg dengan konternya agak dekat jadi cepat sampainya.


"Bu Dia .. gimana kabarnya, wah .. lama nggk kesini aku, abis liburan soalnya," sahutku di barengi dengan masuk ke wartegnya.


"Alhamdulillah sehat, wa abis liburan nih, eh ya, mau makan apa," tanya Bu Dia dengan tawaran menu makanan.


"aku seperti biasanya Bu, eh Ria kamu mau makan apa?" tanyanya dengan menepuk pundak ku.


"eh aku juga sama deh kayak Wina," sahutku diselingi senyum tipis.


"siap!!" singkat Bu Dia dengan senyum lebar.


kembali di sebuah cerita, yaitu persoalan tentang tunangan ku dengan mas Yunus.

__ADS_1


"Ria ceritakan yang masalah kamu dengan mas Yunus kemarin," titahnya yang terkekeh.


"iya deh aku cerita, oh ya mana minuman yang tadi kamu beli di konter, mau satu dong," pinta ku seraya mencari minumannya.


"Nih, ayo cepat cerita!" racaunya yang tidak sabaran sembari menyodorkan minuman.


"Nah ini neng cantik makanannya," sahut Bu Dia dengan membawa nampan berisi makanan yang sudah tertata rapi di meja makan.


"makasih yah Bu," pekik Wina.


"jadi begini cantikku," goda ku dengan mencubit pipi gemoy nya.


"iii sakit tau!" ucapnya dengan cemberut.


"kemarin selama aku cuti pulang kampung, itu keluarga mas Yunus sowan ke rumahku, dan ingin menentukan tanggal tunangan ku dengannya, alhamdulilah akhirnya tanggal tunangan ku sudah dekat," jelasku ke Wina.


"terus .. tanggal berapa?" tanya Wina dengan ekspresi makin kepo.


"Lah emang harus aku spil tanggal tunangannya, kan jadi nggak suprise dong!" ujarku yang menyerngitkan dahi ku.


"hmm buat sobat sendiri masak ga boleh, yah kasih tau dong, pliis," ungkapnya dengan muka memohon.


"hadeh .. iya deh iya aku kasih tau," sahutku dengan muka pasrah.


"tanggal tunangan ku tepat di tanggal cantik insya Allah yang akan di selenggarakan tanggal 12 bulan 12 tahun 12," sambung ku dengan menatap wajah Wina.


"haaaaaaaa serius," sentak kaget dengan mata yang terbelalak mendengar ucapan ku.


"waaaa sobatku mau tunangan, celamat sayang kuu," ucapnya dengan nada lebay dan memelukku.


"iya makasih yah, ya udah yuk makan, keburu nggak enak nanti makanannya," anakku kepada Wina.


"oh ya jangan lupa undang semua karyawan pabrik yah, termasuk aku," pekiknya di sela-sela makan.


"iya tenang aja, kamu bakalan aku undang kok," singkat sembari menyuap makanan ke mulut ku.


"Win, aku nggak nyangka dulu mas Yunus yang pernah nolongin aku dari kecelakaan, sekarang sudah menjadi calon suami ku," curhat ku kepada Wina.


"itu tandanya keajaiban dari doa ibu kamu dan juga restu dari ayah kamu yang sudah meninggal, kamu harus selalu bersyukur," jelasnya seperti orang dewasa.


aku pun menganggukkan kepalaku dan tersenyum haru di hadapan Wina seraya di sela-sela makan siang.


"makasih yah," ucapku di selingi senyuman dan pelukan.


"iya sama-sama," sahutnya yang manggut-manggut.


15 menit kemudian, akhirnya kami berdua selesai makan dan ngobrol.


saatnya kembali ke pabrik, karena waktu istirahat sudah mau abis.


selesai membayar makanan kami berdua pamit dengan Bu Dia.


"Bu Dia makasih yah, mari!" ucapku sambil berjalan keluar warteg.


kini kami berdua jalan menuju pabrik Untuk melanjutkan kerja hingga jam pulang kerja mendatang.

__ADS_1


__ADS_2