
ketika itu aku sudah berada di pabrik dengan Wina Yeng sedang di depan gerbang, berhubung jam kerja belum di mulai, jadi aku ngobrol santai dengannya.
di saat aku dan Wina ngobrol, tiba-tiba ada Nila yang nyamperin kami berdua dengan wajah super duper kesal, paska mengingat kejadian kemarin.
"eh centil! tolong ya di jaga, jangan sok centil di depan Wildan, Wildan tu punya gue," ucapnya dengan nada tinggi.
"eh apa-apaan ini, lu kalau punya mulut di jaga dong, jangan seenaknya ngomong,lagian siapa juga centil ke Wildan, dianya aja yang suka sama aku!" sahut baliknya dengan nada tinggi.
"Wildan suka sama Lo itu, gara-gara Lo nya aja ganjen," sahutnya yang semakin memanas, seakan-akan makin membuat emosi Wina.
sedangkan Ria pun merelai mereka berdua.
"sudah-sudah Nila tolong kamu pergi, jangan tambah Susana makin panas, udah sana!," singkat ku menyuruh pergi.
"Win sabar ya, jangan di masukan hati omongannya Nila tadi," ucapku yang menenangkan hatinya.
Wina yang menangis seakan-akan tidak rela dia katain sama sama Nila.
"Udah jangan nangis lagi, ayo masuk!" ajak ku.
"Tapi kan aku nggak terima kalau dia menuduh ku seperti itu," ucapnya yang sesak nafas.
"iya, aku ngerti dengan perasaan kamu, kamu yang sabar ya," ucapku dengan mengelus pundaknya.
Kami berdua masuk ke dalam, karena jam masuk kerja sudah di mulai.
"hmm coba nanti aku, akan ngomongin ini sama Wildan," gumamku di dalam hati.
***
Aku dan Wina keluar untuk menuju ke warung makan langganan ku, karena jam istirahat sudah tiba.
"Win ayo kita ke Bu Dia ada yang aku omongin sama kamu, tapi kamu tunggu di depan gerbang dulu ya, aku akan segera kembali," tukas ku ke Wina.
aku berjalan menuju tempat gerombolan para karyawan laki-laki untuk mencari Wildan.
"he Ria lu kesini lagi nyariin siapa?" tanya Deni.
"itu lagi nyari si Wildan!" jawabku.
"ohh, tu dia masih di dalam tunggu aja dulu," ucap deni dengan berjalan keluar.
setelah beberapa menit kemudian, Wildan keluar juga.
"Wil ayo ikut aku, sekarang!" pekik ku dengan singkat.
aku dan Wildan segera menghampiri Wina yang ada di depan gerbang.
"kamu mau ajak aku kemana?" titahnya.
langkah ku terhenti seketika, aku langsung bilang ke Wildan.
"temui kami di warteg Bu Dia, sekarang !" tukasku.
__ADS_1
sesampainya aku menghampiri Wina,aku langsung mengajak Wina pergi ke warteg.
"ayo Win kita ke warteg, maaf kamu jadi nunggu lama," ujarku.
"emang tadi kamu kemana?", tanya yang heran.
aku tidak banyak bicara, dan langsung menggandeng tangan Wina untuk segera tiba di warteg.
kami pun tiba di warteg Bu Dia.
"Neng mau makan apa?" tawarnya kepadaku.
"nanti saja Bu, aku akan pesan!" sahutku.
bu Dia meresponnya dengan anggukan kepala, lalu pergi ke dapur.
seakan itu, Wildan sudah datang dsn duduk di hadapan kami berdua.
"ada apa Wildan kesini Ria?" tanya ke yang ke heranan.
"Lo kok ada Wina disini, sebenarnya ada apa Ria, kamu memanggilku?" titahnya yang kebingungan.
"maksudku memanggil kamu untuk ke sini, ingin ngomongin antara Wina dan Nila," jelasku.
"emang kenapa Wina dan Nila?" tanya yang kebingungan.
"jadi gini, tadi pas aku dan Wina ingin masuk kedalam, si Nila tiba-tiba melabrak Wina, dengan menuduhnya yang nggak-nggak, terus masalahnya," ucapku terputus saat ingin mengatakan yang sebenarnya.
"terus masalahnya apa Ria, jangan bikin kami penasaran," tukas nya dengan barengan.
terkejutnya Wina yang mendengar ucapan ku, kalau Wildan suka masa dia.
"jadi kalau kamu Wil deketin Wina terus, aku pastikan si Nila pasti bikin ulah, karena dia tidak suka kalau kamu deket-deket sama Wina." titahku.
"la-lalu aku harus apa, kenapa ini salah ku, emang salah ya kalau aku suka sama dia," terangnya dengan menunjuk Wina.
sedangkan Wina hanya diam dan mendengarkan ucapanku.
"Ri sudah biarin aja, ak nggak mau nerusin masalah ini, biarkan saja," tegur nya dengan menghela nafas seraya pasrah.
"lebih baik, saranku, kamu Wil harus jauh dulu Wina, supaya Si Nila tidak mengganggunya." jelasku ke Wildan.
"kenapa harus begitu, aku nggak akan jauh dari Wina, bagaimana mana pun juga, aku akan menjaganya sekuat tenaga ku, karena aku sayank sama dia," ucapnya yang menunduk kebawah.
"Gini saja, biar Nila jadi urusan ku, besok aku akan bicara dengannya, kamu tenang saja," titahnya.
"ya sudah kalau mau kamu seperti itu," tanggapku dengan nafas lega.
"ya sudah aku pergi dulu ya, tolong jaga sahabat mu untukku," pekiknya yang tersenyum dan meninggalkan kami berdua.
akhirnya masalah kami bertiga pun selesai dengan kepala dingin, meski masih ada satu masalah yang belum aku jalanin.
"Ria, apa benar Wildan suka sama aku?" tanya dengan nada lesu.
__ADS_1
"iya dia suka sama kamu, tapi aku mengerti dengan perasaan kamu," ucapku menatapnya.
"tapi .. aku masih belum siap untuk berdua, aku masih ingin sendiri, dan aku masih trauma dengan masa lalu ku." jelasnya raut muka sedih.
"udah kamu tenang saja, jangan di pikirkan, pasti semua masalah kamu dan aku insyaallah berjalan dengan lancar." tukas untuk menghilangkan sedih di muka Wina.
"ya sudah, ayo skarng makan nanti keburu waktunya abis," ajak ku.
"nggak, aku nggak mood makan, aku pesan minum saja," titahnya dengan wajah masih sedih.
"Lo kalau kamu sakit gimana? aku nggak mau sahabat cantik ku sakit, makan ya aku akan pesankan buat kamu," jelasku dengan tersenyum kepadanya.
Wina pun membalasnya dengan anggukan kepala yang terpaksa.
aku pun segera ke depan untuk memesan makanan dan minuman di Bu Dia.
setelah selesai pesan makan, aku kembali duduk di samping Wina, seraya menenangkan hati dan pikirannya.
"sudah jangan di pikirkan lagi, senyum dong," rayu ku.
Wina pun tersenyum meski yang terlihat hanyalah senyuman terpaksa.
"la gitu dong, kalau gini kan makin cantik," goda ke Wina.
tak lama kemudian, Bu Dia datang membawa nampan yang berisi makanan dan minuman yang tadi kamu pesan.
"ini, buat neng cantik, Monggo di nikmati," titah Bu Dia dengan tersenyum.
"makasih ya Bu," ucap penuh syukur.
Bu Dia membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman, lalu kembali ke dapur dengan membawa nampannya.
"ayo di makan dong, apa mau aku suapin?" goda ku lagi ke Wina.
Wina pun tertawa kecil dan mulai menetralkan pikirannya.
kami berdua pun menikmati makanannya dengan tenang.
selesai makan aku menuju kasir untuk membayar semua tagihannya, selesai membayar aku mengajak Wina untuk segera kembali ke pabrik, karena sebentar lagi jam sudah habis.
"ayo Win kita balik," ajakku.
Wina pun bangkit dari tempat duduknya dan tidak lupa berpamitan dengan Bu Dia.
"Bu makasih ya, kami berdua balik kerja dulu," ucapku.
"iya neng!" sahutnya di dalam dapur.
ketika sampai di depan gerbang Wina terhenti langkahnya seakan ada yang menarik tangannya dari belakang.
"Win maafin aku ya," ucap Wildan.
Wina pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum paksa.
__ADS_1
kami berdua masuk untuk melanjutkan pekerjaan dan menunggu jam pulang mendatang.