Do'A Ibu Yang Sederhana

Do'A Ibu Yang Sederhana
Bab 21 Mohon Doa Restu


__ADS_3

Seketika selesai sholat magrib aku, mas Yunus dan ibu, kini berkumpul bareng di ruang tamu, untuk membahas masalah meminta restu dari ibunya Ria.


di saat, semua sudah pada kumpul dan duduk di sofa ruang tamu, kini saatnya mas Yunus membuka pembicaraannya.


"Bu, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada ibu dan Ria, sebelumnya saya minta maaf, kalau saya ingin menjadikan Ria sebagai pendamping hidup saya, apakah ibu merestuinya." jelasnya dengan nada sopan.


"kalau menurut ibu, kalau kalian saling mencintai dan saling menyayangi satu sama lain, insyaallah ibu akan merestui kalian berdua, tapi .. apakah kamu sudah menanyakan ini kepada Ria ?" tanya ibu dengan suara lembut.


"jadi begini, Ria sebelumnya sudah saya tanyain tetapi kata Ria, dia bersedia, alangkah baiknya saya langsung datang dan membicarakan ini kepada ibunya sendiri."


"ohh gitu, lah sekarang ada anak saya, silakan di tanyakan lagi, ibu pengen denger jawaban ria sendiri."


"Ria, apakah kamu siap, menjadi calon istri aku?" ucapnya dengan hati yang deg deg an takut gak di terima.


"bismillah bapak anak kamu perempuan sudah di kamar oleh lelaki yang insyaallah pilihan bapak yang terbaik buat eneng" batinnya di dalam hati.


setelah terdiam malu, kini Ria menjawabnya dengan ucapan bismillah.


"saya bersedia untuk menjadi ibu dari anak mas Yunus," dengan jelasnya Ria mengatakan membuat ibu meneteskan air mata.


"Alhamdulillah, terimakasih ibu dan Ria," ucap mas Yunus dengan penuh syukur.


sedangkan di posisi ibuku, kini tangisan ibuku adalah tangisan bahagia karena melihat anak semata wayangnya telah di lamar dengan lelaki Sholeh.


ketika pembicaraan kami bertiga sudah selesai, kini mas Yunus tiba-tiba mendapati panggilan dari sebuah sekertaris kantornya.


"Dreetttt "


Dreeettttt "


"Halo, Toni ada apa kamu telpon saya?' ucapnya yang di ujung telepon.


'jadi begini pak, besok bapak bisa ke kantor nggak, soalnya ada meeting mendadak besok pagi jam 8 an, tentang perusahaan kantor sebelah,' jelasnya di telepon.


'***apa nggak bisa di batalkan,'


'mohon maaf pak ini meeting penting sekali, jadi pihak dari kantor sebelah tidak bisa membatalkannya***,' sahutnya di telepon selulernya.


'baik, nanti jam tujuan saya akan pulang ke rumah, supaya besok saya bisa langsung ke kantor, ini saya lagi di Surabaya,' tukas mas Yunus.


'***baik pak, kalau begitu saya tunggu besok di kantor ya, terimakasih pak, maaf mengganggu waktu bapak,'


'iya sama-sama***,' pekiknya dengan langsung mematikan ponselnya.


ketika selesai bicara dengan sekertaris kini mas Yunus, menghampiri ibu dan Ria, Yanga dan di ruang tamu.


"Buk, Ria nanti aku jam 7 mau balik ke Jakarta, soalnya ada meeting mendadak, ini tadi Toni sekertaris aku, meneleponnya," ungkapnya dengan menatap mereka berdua.


"iya mas, gapapa, kamu hati-hati di jalan ya, nanti kalau aku balik ke Jakarta biar aku balik sendiri gapapa kok," titah di Ria.

__ADS_1


"iya nak Yunus, nanti kamu pulang naik apa, kamu hati-hati ya, salam buat orang tua kamu." sambung ibu Ria.


"iyah! aku siap-siap dulu ya di kamar," tukas mas Yunus.


kami berdua pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum, kini mas Yunus berjalan pergi menuju kamarnya.


kini waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, mas Yunus akan segera meninggalkan kami berdua untuk pulang ke Jakarta.


"buk, Ria, mas pamit pulang dulu ya, kalian berdua baik-baik di rumah ya, assalamu'alaikum ," ucapnya sembari bersalaman dengan kami berdua.


tak lama kemudian, Drive yang di pesan oleh mas Yunus sudah datang, dan di lanjut ke stasiun kereta api.


setelah mas Yunus berangkat, kini kami berdua di rumah untuk masuk dsn menutup pintunya.


"Nak, ibu bangga banget dengan mu, tak ku sangka ternyata anak ibu tumbuh begitu cepat, dan akan segera berumah tangga," ucapnya yang duduk di sofa seraya meneteskan air mata.


"Bu .." panggil ku dengan suara lembut dan sesekali menghapus air mata ibu.


"justru aku yang berterimakasih kepada ibu, karena ibu sudah membesarkan ku tanpa meminta imbalan apapun dariku"


"meskipun, ayah sudah tiada, dan sudah tidak bisa mendampingi ku di atas pelaminan, kini menjadi beban tersedih bagi ku," ungkap ku sembari menatap ibu.


"Nak, kalau nak Yunus kesini lagi, ajak dia bertemu dengan ayah kamu sembari berziarah ke makamnya, mintalah do'a restu pasar ayah kamu," sambungnya.


"iya Bu, pasti akan aku ajak mas Yunus ke makam ayahku," tukasku.


waktu yang sudah malam, dan saatnya ibu beristirahat di kamar dan memulai aktifitas kembali besok.


ibu pun segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya, sembari ku tuntun pelan.


...****************...


Keesokan paginya, tepat di jam subuh aku bangun tidur.


Aku keluar kamar, setelah membereskan tempat tidur ku, dan segera mengambil handuk untuk bergegas ke kamar mandi.


sedangkan ibuku, kini yang tengah selesai sholat subuh di lanjut memasak dan mencuci baju.


5 menit kemudian, selesai mandi aku melanjutkan untuk pergi ke kamar sholat subuh.


"Bu, biar aku bantu masak ya," ucap ku yang baru saja keluar dari kamar.


"Bu, aku goreng ya ikannya," teriak ku dengan ibu yang berada di halaman belakang.


"iya nak, ibu masih jemur baju," sahut ibu di luar rumah.


sepuluh menit kemudian, makanan sudah matang dan sudah tertata rapi di meja makan.


"Bu, ayo makan, semuanya sudah siap di meja makan," ajak ku dengan wajah sumringah.

__ADS_1


ibu pun menghampiri ku dan mencuci tangannya kemudian lanjut makan bareng dengan ku.


15 menit selesai makan, kini aku segera membereskan peralatan makan untuk ku cuci di dapur.


sedangkan ibu yang membereskan makannya untuk di taruh di lemari makanan.


"Hu selesai juga semuanya, sekarang aku ingin bersantai di teras depan," ujarku yang dan di dapur.


"Nak, ibu keluar sebentar ya, mau ke rumahnya By Ina,"


"iyah" seraya menganggukkan kepalaku.


sembari bersantai, aku menghubungi mas Yunus dengan mengirim pesan lewat ponsel ku.


"oh ya aku tanya mas Yunus dulu, apa dia sudah sarapan , apa sudah berangkat kerja," racau ku yang duduk di teras.


"eh Ria, kapan kamu datang, lama tak bertemu kamu, gimana sehat," ucap Ima


Ima adalah teman masa kecil ku, yang kini dia berumah tangga, namun takdir berkata lain, karena Ima yang baru saja cerai dari suaminya, akibat dia pernah menjadi korban KDRT dari anak dan istrinya.


"Alhamdulillah, sehat, kamu gimana?" tanya balikku.


"Alhamdulillah sehat kok, eh ngomong-ngomong kamu udah nggak kerja atau lagi liburan,"


"kebetulan aku lagi libur kerja, jadi aku pulang kampung deh!" sahutku.


"kamu abis darimana tadi?" tanyaku.


"oh tadi, aku abis dari warung pak Yanto tu di seberang jalan, eh lanjut nanti aja ya, ini mau bikinin susu buat anak ku," titahnya yang buru-buru pulang.


"oh ya, berapa anak kamu sekarang?" tanya Yang terkekeh


"oh masih 2 kok yang satu laki sudah kelas 1 SMP, dan yang ke dua masih umur 1 tahun perempuan," jelasnya.


"aku pamit dulu ya," singkatnya.


aku pun tersenyum dan menganggukkan kepalaku.


tak terasa hari sudah menjelang siang, dan aku masuk ke dalam untuk menonton televisi di ruang tengah.


badan terasa capek, kini aku pergi ke kamar untuk tidur, dan aku lupa untuk mematikan televisinya.


sedangkan di posisi ibuku yang baru saja datang, dan memanggilku, namun aku tidak dengar karena sudah tidur pulas.


"Nak, kok televisinya nggak di matiin, kamu dimana, Lo kok gak nyaut ibu panggil," kata ibu yang baru saja datang.


"oalah .. tidur to," intipnya di cela pintu kamarku.


ibu pun segera menutup lagi pintunya dan duduk bersantai di ruang tamu sembari menonton televisi,

__ADS_1


kini suasana di rumah sepi dan tenang, tak bisa di tahan rasa ngantuk di ibu sungguh berat untuk di tahan, dan akhirnya ibu ke tiduran di ruang tengah.


__ADS_2