
supaya rumah tidak menjadi sepi dan sunyi, kini aku sembari memutar musik di ponselku.
sembari mendengarkan musik, sembari juga membongkar oleh-oleh ku yang semalem aku beli.
"wah .. ini bagus banget baju capel sama mas Yunus, untung aja aku beli," titah ku yang menjabarkan baju di depanku.
"oh yah satu lagi ini baju batik yang capel aku dan ibu aku," racau ku yang mengeluarkan baju dari kantong plastik.
aku tidak bisa membayangkan, meskipun aku seorang wanita biasa yang bekerja di pabrik sepatu saja.
kini, aku bisa menjadi calon menantu dari seorang pria yang mempunyai kantor perusahaan terbesar di Jakarta.
"aku bersyukur banget bisa bertemu dengan mas Yunus, pria Sholeh dan baik hati," gumamku yang senyum-senyum sendiri.
"astaghfirullah hallazim, Ria, kalau kamu melamun terus nanti nggak selesai-selesai ini!" oceh ku yang sentak kaget.
bongkahan demi bongkahan, akhirnya selesai juga, namun tinggal satu barang saja yang belum aku bongkar.
yaitu kain batik khas Jogja untuk seserahan di saat aku akan lamaran kelak.
tidak lupa baju batik untuk calon mertua ku, mama dan papa.
tak terasa, waktu sudah menjelang siang bahkan adzan pun sudah berkumandang.
kini aku segera membereskan kantong plastik dan kardus bekas ku yang tadi bongkar bongkar.
langsung menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian dilanjutkan sholat dhuhur di rumah.
lima menit kemudian, selesai sholat dhuhur, segera aku bereskan mukenah dan sajadah ku dan ku taruh di tempat asalnya.
tiba-tiba saja, perutku bunyi bertanda lapar, dan langsung saja menuju dapur , kemudian memasak.
10 menit kemudian, aku keluar dari dapur sembari membawa piring yang berisikan makanan dan gelas berisi milk ice.
kebetulan cuaca di Jakarta agak panas jadi aku membuat minuman yang seger seger.
5 menit kemudian, makan sudah selesai, saatnya ku bereskan.
"Haaiikk Ups," ucapku yang menutup mulutku.
"Alhamdulillah, kenyang sudah perutku,"
saatnya aku lanjut duduk santai di depan televisi sembari menunggu turunnya makanan yang ada di dalam perutku.
"Dreetttt "
"Dreetttt "
ponsel yang kini sedang aku charge di dekat televisi, bergetar terus menerus.
'Halo, assalamu'alaikum mas,' salamku yang di ujung telepon.
'waalaikumsalam, kamu udah pulang liburan,' sahutnya.
'udah mas, maaf aku belum sempat ngabarin kamu, abisnya aku capek banget,' sambungku dengan nada lesu.
'iya gapapa, aku paham kok, oh yah kamu hari ini free nggak?' tanyanya dengan suara lantang.
'iya, emang mas mau ajak aku kemana?' titahku yang penasaran.
'gini, tadi mama aku suruh jemput kamu, katanya si kangen sama kamu,' pekiknya yang terkekeh.
'oh gitu .. kalau sekarang ya gapapa mas, gimana? aku kesana sekarang yah', sahutku yang penuh semangat.
__ADS_1
' e e .. tunggu dulu! aku jemput kamu aja, aku nggak mau calon istri ku kena polusi udara', godanya kepada ku.
', iih apaan sih mas, bisa aja hehe, ya udah aku siap-siap dulu yah,' singkatku seraya memutus telponnya.
setelah kami berdua ngobrol di telepon, kini aku segera siap-siap berangkat karena sebentar lagi akan di jemput.
tidak lupa aku membawakan oleh-oleh yang telah aku belikan khusus untuk mama dan papa nya mas Yunus.
"dah rapi, cantiknya aku Masya Allah," oce ku yang di depan cermin.
"Tiinn"
"Tiinn"
terdengar jelas dari luar yaitu bunyi klakson mobil Mas Yunus yang sudah di depan gerbang.
segera aku keluar dari rumah dengan membawa paper bag yang berisikan baju batik.
tepat di depan pintu mobil yang di hadapannya ada mas Yunus yang ada di tempat setir mobil.
"assalamu'alaikum manis, Masya Allah, cantiknya wanita ini," goda nya yang langsung di hadapanku.
membuat tersipu malu, sehingga muncul warna merah merona di pipiku.
"ayo masuk!" suruh nya, dan aku pun langsung menuju masuk ke mobil.
setelah masuk dalam mobil, aku yang tengah duduk di samping mas Yunus, layaknya seperti suami istri.
akhirnya mobil pun berjalan menuju rumah mas Yunus, dengan jarang yang lumayan agak jauh dari kost aku.
"oh yah gimana liburan kamu, seru!" tanyanya yang sesekali menoleh kepada ku.
"iya mas, seru banget, lagian aku juga pertama kali ke Bali dan Jogja, selama ini, nggak pernah liburan, ya di rumah terus," sambung yang tertunduk ke bawah.
"jadi, kamu selama ini belum tau wisata!" titahnya.
"kasian sekali kamu, tapi kamu tenang aja, setelah kamu sudah sah jadi istri aku, insyaallah aku pasti membahagiakan kamu," ungkapnya dengan memegang tanganku.
15 menit kemudian, kini sudah memasuki wilayah perumahan Graha Bunga Citra, yaitu tempat tinggal mas Yunus.
akhirnya sampai juga di depan pintu gerbang rumah mas Yunus, yang lumayan besar, kini di bantu dengan satpamnya.
ketika masuk ke rumah dsn segera memarkirkan mobilnya di depan pintu garasi mobil.
"ayo kita turun," ucap mas Yunus yang menyuruhku turun dari mobil.
kami berdua pun turun dari mobil, dan menuju ke depan pintu masuk rumah.
melewati tinggal satu dari luar dengan pintu masuk yang di atas dan ada banyak pelayanan di rumahnya.
"Ting Tung"
bel rumah di bunyikan mas Yunus, dengan sigapnya si pelayan langsung membukakan pintu.
"selamat siang tuan, nyoya!" ucap pembantu rumah tangga.
kami pun tersenyum manis kepada pembantu perempuan itu.
"ayo duduk dulu di sofa, aku akan panggilkan mama dulu," titah mas Yunus yang menyuruhku duduk.
"oh yah Bi tolong buatin minuman yang seger buat ria yah!" ujarnya ke bibi.
"siap tuan," singkat bibi Tutik.
__ADS_1
kini aku ke dua kalinya, di ajak ke rumah yang berasa di istana mas Yunus.
sembari menunggu mas Yunus dan mamanya keluar, kini aku mengabari ibu ku.
bahwa aku sedang ada di rumah calon mertua ku dan termasuk calon besan.
dengan ku foto sebagian dalam ruang tamu yang sangat megah untuk ku kirim ke WA ibu.
tak lama kemudian, mas Yunus dan mamanya keluar dari dalam dan menghampiri ku yang tengah duduk sendiri.
"eh Nak Ria, mama kangen banget sama kamu," ucapnya yang tersenyum kepada ku.
"iya Ma, Ria juga kangen sama mama,. mama gimana kabarnya," tanya balik ku ke mama Elis.
"papa kemana kok Ndak kelihatan?" tanya ku lagi.
"oh papa lagi ada di kantor, biasa tugas negara," sahut mama yang terkekeh.
"mah, Ria, aku pergi dulu yah, ini tiba-tiba ada telepon dari sekertaris ku, ada berkas penting yang harus di tandatangani," ungkap mas Yunus yang terburu-buru.
"iya Nak, Kamu hati-hati di jalan yah," pekik mama Elis.
tak lama kemudian mas Yunus berjalan keluar dan segera pergi ke kantor.
sedangkan aku dan mama Elis Kini, sedang asyik ngobrol di ruang tamu.
tidak berhenti di situ, aku di ajak mama Elis untuk ke taman belakang.
Ketika aku sampai di taman belakang, seakan-akan mata ku yang terbelalak kaget melihat keindahan taman belakang.
begitu luas dan banyaknya bunga-bunga yang tertata rapi, begitu juga kolam renang yang luas dan bersih.
kini aku dan mama Elis duduk-duduk di ayunan yang dekat dengan kolam renang, seraya di depannya.
"Nak, mama bersyukur banget, bisa kenal sama kamu," ucapnya yang menepuk pelan pahaku.
"makasih mah, mama sudah mau menerima saya, dan mama juga bisa bahagia dengan kedatangan ku," sambungku.
hampir sekitar 15 menit, kami ngobrol di taman belakang, tak terasa sudah memasuki waktu ashar.
Mama Elis yang kini tengah masuk ke dalam rumah duluan, dan aku kembali ke ruang tamu.
"Non kalau non butu sesuatu panggil bibi yah, bibi siap sedia," ucap bibi Tutik.
"iya Bi, ini saya mau sholat ashar dulu, di mana yah mushola nya?" ungkap ku ke bibi Tutik.
"oh mari non saya antar," sahutnya yang mengantar ku.
di saat aku di antar bibi Tutik menuju ruang mushola, kini aku masuk dan menyusuri ruangan yang lebih dalam.
langkah demi langkah, dengan mataku yang tidak bisa berhenti melihat ke atas kebawah dan ke kanan kiri.
sungguh luar biasa bagus sekali rumah mas Yunus ini, seperti istana negara.
"wah .. besar sekali rumahnya, sungguh rumah yang bernuansa megah," batin ku di dalam hati.
"Non ini musholanya, dan di situ tempat wudhu," pekik bibi Tutik yang menunjuk ke arah tersebut.
5 menit kemudian, aku selesai sholat, dan segera membereskan mukena dan sajadahnya.
selang waktu kemudian, aku kembali ke ruang tamu, yah tengah duduk sendiri sembari bersantai.
tak lama kemudian, mas Yunus yang kini baru datang dari kantor, tengah menghampiri ku yang duduk sendirian.
__ADS_1
"mas kamu capek banget yah! udah sana bersih-bersih dulu," ucapku yang menatap wajahnya.
tak banyak omong kini mas Yunus, hanya tersenyum menatapku dan pergi menuju kamarnya.