
"Nak Ria!" panggil mama Elis yang berjalan keluar kamar.
"Iyah mah," sahutku di barengi berdiri.
mama Elis yang kini sampai menghampiri ku di tempat duduk sofa yabg ada di ruang tamu.
"Nak .. Yuk makan bareng! tadi bibi Tutik sudah menyiapkan untuk kita, yuk!" ajaknya makan bersama.
"Ndak usah mah, nanti ria akan makan di rumah saja, ria nggak mau ngerepotin mama," tolak ku dengan nada lembut.
"loh .. gapapa Nak, mama nggak merasa direpotkan kok, yuk," pintanya yang kedua kalinya.
"Ria .. kamu disini sudah saya anggap seperti anak perempuan mama, dulu mama pengen sekali punya anak perempuan, Tapi .. Allah berkehendak lain," Sambung mama yang tertunduk sedih.
"loh .. emang anak mama yang perempuan kemana?" tanyaku dengan wajah panik.
"dulu anak mama yang perempuan sudah meninggal dunia, akibat kecelakaan saat mau pulang kerja," cerita mama Elis yang membuat ku tersentak kaget.
"astaghfirullah hallazim, Ria turut berdukacita atas kepergian anak mama yang perempuan," sambung ku dengan wajah gelisah.
"iyah, makasih yah Nak, Ya udah Yuk makan!" ajaknya seraya mengusap air mata yang menetes.
ketika mendengar cerita dari mama Elis, kini aku menjadi ikut sedih dan prihatin.
tak kusangka selama ini mas Yunus punya adik perempuan yang sudah meninggal dunia akibat kecelakaan.
"tapi!! kenapa mas Yunus nggak pernah cerita sama aku," batin ku di dalam hati.
yah, tepat di depan meja makan yang sangat lebar serta sudah di penuhi makanan dengan kandungan gizi terbaik.
tak lama kemudian mas yunus, kini yang keluar dari kamarnya, menuju meja makan untuk makan siang bersama.
"eh sayang .. yuk makan bareng!" panggilan mama Elis dengan penuh kasih sayang.
"mama ambilkan yah, nak kamu mau lauk apa?" tanya mama seraya membawa piring.
"apa aja mah!" singkat mas Yunus.
selesai mengambilkan makanan untuk mas Yunus, kini mama juga mengambilkan untuk ku.
"Ria, mama ambilkan juga yah!" tukas mama yang membawa piring ku.
aku hanya mengangguk dan tersenyum manis kepada mama Elis.
di saat mama Elis tengah membenarkan posisi duduknya, kini aku menawarkan untuk gantian aku yang melayaninya.
"Mah, mama duduk saja, biar Ria saja yang gantian melayani mama," tawarku dengan senyuman.
mama yang tengah melihat ku dengan wajah tersenyum seraya air matanya berkaca-kaca.
karena beliau teringat akan anak perempuannya yaitu adik kandung dari mas Yunus, yang telah meninggal dunia.
10 menit kemudian, kamu bertiga telah selesai makan, kini aku tidak hanya numpang makan saja.
tetapi juga ingin membantu bi Tutik yang tengah membereskan piring kotornya.
__ADS_1
ketika itu, mama berpamitan dengan ku ingin ke kamar sebentar, sedangkan mas Yunus berjalan duduk di sofa depan televisi.
bibi Tutik yang kini sedang beberes piring kotor, segera aku hampiri untuk membantunya.
"Bi, biar saya bantu!" ucapku yang sama-sama memegang piring kotor.
"eh, Ndak usah non, nanti kalau ketahuan sama nyonya dan tuan, nanti saya yang di marahi," sahut bibi dengan wajah ketakutan.
"gapapa Bi, lagian aku juga bosen duduk-duduk terus, biar saya bantu yah!
"aduh! non sudah biarin aja di situ, saya takut di marahin nanti," pekiknya dengan wajah cemas.
"Bi, tolong sekali aja, yah!" singkatku yang memotong pembicaraannya.
bibi Tutik yang kini mendengar jawabanku, akhirnya terdiam dan cuman menganggukkan kepalanya.
tidak ada lima menit, kami berdua sudah selesai beberes, kini saatnya keluar dari dapur dan menuju ruang tengah.
"Alhamdulillah sudah selesai bi, makasih yah sudah di izinkan saya beberes, aku mau nyamperin mas Yunus dulu!" titahku dengan bibi Tutik.
"iya non, sama-sama," sahutnya dengan manggut-manggut.
tak terasa sudah hampir setengah hari di rumah mas Yunus, dan saatnya aku pulang kerumah.
"Mah aku pamit pulang dulu yah, salam buat papa nanti kalau sudah pulang," ucapku sembari bersalaman.
"oh yah mah ini ada sedikit rezeki buat mama, maaf cuman bisa ngasih gituan," pekikku seraya mengasih bingkisan ke mama.
"Masya Allah, Nak nggak usah repot-repot, mama jadi nggak enak sama kamu," sahut mama yang merasa nggak enak.
"gapapa mah lagian Ria cuman bisa ngasih ini untuk mama dan papa," jelasku.
mama yang tengah berdiri di hadapan ku kini menerima bingkisan dari, sembari tersenyum manis.
potonglah pembicaraan ku dengan mama, yang saat itu, mas Yunus menanyakan bingkisan untuknya.
"loh .. kok mama sama papa doang yang di kasih, buat aku mana!" goda mas Yunus dengan muka manjanya.
"east kamu apa apa an sih," ucap mama yang menepuk bahunya.
"hehe nggak kok, aku hanya bercanda, ya udah yuk aku antar pulang," tukas mas Yunus sembari bersandar di tembok.
"ya udah mah, kami jalan dulu yah, assalamu'alaikum,"
"waalaikumsalam, hati-hati ya Nak," sahut mama Elis.
***
perjalanan pulang pun telah kami lalui bersama di dalam mobil dengan mas Yunus.
kini saatnya aku mengasih bingkisan kepada mas Yunus, berhubung bingkisan tadi aku taruh di kursi belakang.
jadi memudahkan aku untuk kasih surprise kepada mas Yunus.
"Mas!" panggilku dengan nada pelan.
__ADS_1
"hmm iya," singkatnya.
"aku mau kasih kamu sesuatu," ucapku pelan.
"sesuatu, apa itu?" tukasnya yang kebingungan.
"Ta Ra .. ini oleh-oleh buat mas," pekikku yang tertawa kecil sembari menyodorkan bingkisan.
"lah .. ta - tapi, aku tadi cuman becanda, kenapa sekarang malah beneran," ungkapnya yang kebingungan.
"gapapa mas, sengaja aku belikan juga buat mas, oh yah batik ini capel dong sama aku, kamu suka nggak?" jelasku kepadanya.
"i - iyah suka kok, makasih yah, kamu udah belikan oleh-oleh aku dan mama papa," ucap penuh syukur.
"iyah sama-sama," singkat ku.
"oh ya mas, jangan lupa di pakai saat ke kantor atau lagi meeting, biar tambah ganteng," godaku yang menatap wajahnya.
"hehe siap ibu negara," racau nya dengan nada senang.
tak terasa sudah, aku sudah berada di depan rumah kost aku, dan kini saatnya pamit sama mas Yunus dulu.
"mas, aku pulang dulu yah, makasih udah nganterin aku," tukasku yang tengah membuka pintu mobil.
mas Yunus dengan senyum manis dan anggukan kepala seraya menatap wajah ku.
setelah mobil mas Yunus, sudah pergi jauh, saatnya aku segera masuk ke dalam rumah.
seketika itu aku segera mandi dan beberes rumah, sembari menunggu adzan Maghrib.
selesai mandi, saatnya aku menyapu lantai dapur hingga halaman depan.
tidak lupa juga aku memanasi motorku yang sudah 4 hari nggak ku nyalain.
selesai memanasi motorku, aku kembali masuk ke dalam, karena cuaca sudah mulai gelap.
"Alhamdulillah sudah adzan, sholat dulu deh, lepas itu langsung rebahan," racau ku yang tengah menuju ke kamar mandi.
10 menit kemudian, aku selesai sholat dan segera ku bereskan.
tidak enak rasanya jika menonton televisi tidak ada sandingan cemilan.
kini aku pergi ke dapur untuk mengambil cemilan di dalam kulkas sembari membawa botol air dingin.
ponselku yang tengah ku charger di dekat televisi, kini bergetar, setelah aku cek ternyata pesan dari ibu dan Wina.
ibu yang mengirim pesan kepada ku tentang menanyakan kabarku apa sudah pulang dari liburan.
sedangkan Wina, yang tengah mengirim foto dia dengan memakai baju batiknya yang semalem iya beli.
"Allahuakbar!!! .."
terdengar suara adzan isya telah berkumandang, dan segeralah aku menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
tidak lupa sebagai contoh umat muslim yang Sholehah, kini aku segera sholat isya di rumah.
__ADS_1
Alhamdulillah selesai sholat, aku lanjutkan dengan beberes cemilan ku dan segera aku tidur.
karena besok aku akan masuk kerja dan berangkat pagi.