Dokter Indigo

Dokter Indigo
EPISODE : PUSPA PART . 3 .


__ADS_3

Malam hari ketika di rumah nya , ia pun masih merasakan hal yang sama . Namun kali ini terasa saat ia sendirian . Di rumah itu Raihan tinggal bersama orangtua dan saudara kandung nya juga , karena ia juga masih single seperti dokter Danu .


Sekelebat bayangan putih terlihat dari sudut mata nya , ketika ia sedang berada di dapur untuk membuat secangkir kopi . Raihan menahan nafas nya lalu memejamkan kedua mata nya sejenak dan berusaha agar tetap tenang .


Perlahan ia membuka mata nya , hawa dingin semakin terasa menusuk ke tulang - tulang nya .


" Hhhh tidak ada apa - apa .. Ngopi di kamar aja deh " gumam Raihan sambil menghela nafas lega .


Kemudian ia berjalan menuju kamar nya sambil membawa secangkir kopi di tangan kanan nya . Ia urungkan niat untuk ngopi sambil nonton tv di ruang keluarga .


Setelah menyeruput kopi nya sedikit , ia meletakkan cangkir nya di atas meja kerja nya . Kemudian Raihan pun mendekati ranjang dan duduk di pinggir nya .


Ia mengacak - acak rambut nya , entah kenapa perasaan nya sangat gelisah . Tidak biasa nya ia seperti ini , semenjak berdinas menjadi seorang polisi dan menyelesaikan berbagai macam kasus kejahatan sampai pembunuhan , dia tidak pernah gelisah seperti ini .


" Ga usah deh , tumben udara nya dingin .. Padahal ga ujan " batin Raihan sambil meletakkan kembali remote ac ke tempat nya .


Untuk menghilangkan rasa gelisah nya Raihan pun bermain games sambil menyetel musik dari ponsel nya dengan memakai headset .


Setelah beberpa jam kemudian , Raihan melihat jam di layar ponsel nya ..


" Sudah hampir jam sebelas .. Hooaamm " ucapnya sambil menguap . Lalu ia pun mematikan games dan musik nya , ketika ia hendak bersiap tidur , tiba - tiba lampu kamar nya berkedip - kedip .. Lalu meredup ..


" Wuaahh kok gini , tadi ga kenapa - napa .. minta di ganti nih lampu .. " ucap nya sambil memperhatikan bohlam lampu yang bertengger di atap kamar nya .


" Ya sudah lah , tidur aja .. Besok baru ganti lampu " gumam nya


Namun saat ia hendak berbalik menuju ranjang , tiba - tiba lampu kamar nya mati .


Bleep


" Allahu akbar .. " jerit Raihan terkejut , dengan suara tertahan .

__ADS_1


Hawa dingin di dalam kamar tidur semakin menusuk ke tulang - tulangnya , membangkitkan bulu kuduk di leher dan lengan nya ... Raihan merasa sangat merinding malam ini .


Ia membiarkan saja kamar nya yang gelap , lalu masuk ke dalam selimut .


" Ya Allah tolong hamba Mu doong .. Gimana ini Ya Allah ?" doa Raihan dalam hati sambil memejamkan mata nya .


Tubuh Raihan bergetar kala ia merasakan ada yang menarik selimut nya perlahan .. Keringat dingin mulai keluar membasahi tubuh nya . Tangan nya gemetar memegang selimut dari dalam sambil menutup mata nya rapat - rapat .


Sreettt .. Sreeett .. Perlahan dan lembut selimut itu terus merosot meski pun Raihan sudah menahan nya sekuat tenaga . Akhir nya ia melepaskan genggaman nya dari selimut yang terus bergerak turun , lalu ia menutup wajah dengan kedua tangan nya .


Terdengar sebuah suara cekikikan dari arah yang sangat dekat ,


Kiikkiikkiikk .. Hiii hii hiii ..


Raihan mencoba membaca doa dalam hati yang dia hapal .


" Ya Allah, salah terus.. " batin Raihan ketika ia kembali salah berulangkali dalam membaca doa .


Tubuh nya mendadak lemas , ia sudah pasrah .. Doa nya selalu terputus di pertengahan , dan otomatis tercampur dengan kalimat doa yang lain , membuat Raihan frustasi sendiri .


Di saat Raihan sudah pasrah , tiba - tiba lampu kamar nya menyala terang kembali .


Perlahan Raihan membuka mata nya sedikit demi sedikit , ia mengintip sebelum merasa aman .


Setelah di rasa cukup terang dan aman , barulah ia membuka mata nya lebar - lebar .


" Alhamdulilaah .." ucap nya sambil mengelus dada untuk menenangkan jantung nya yang masih berdebar .


Lalu ia pun mencoba untuk tidur tanpa mematikan lampu kamar nya .


🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

__ADS_1


Raihan berlari sekuat tenaga , nafas nya tersengal - sengal .. Perempuan itu terus mengejar nya .


Raihan terus berlari sambil sesekali menengok ke belakang , memastikan jarak perempuan itu . Namun setiap kali Raihan menoleh , jarak ia dan perempuan itu tidak berubah semakin jauh . Ia merasa seperti berlari di tempat .


Ia melihat wajah perempuan itu begitu mengerikan ...


Pakaian putih nya berkibar ketika ia melesat , darah mengucur dari kepala nya yang retak - retak .


Mulut nya terus menyeringai , memperlihatkan deretan gigi - gigi yang hitam dan runcing . Mulut nya sangat lebar , wajah nya tidak simetris . Sebagian wajah nya berada sedikit turun dari yang sebelah nya .


Kedua bola mata nya tampak besar dan menonjol keluar , posisi nya juga tidak sejajar .


Sebelah mata nya bergelantung di wajah nya dengan posisi yang hampir lepas .


Tangan nya menjuntai sangat panjang , kaki nya tak terlihat .


Raihan sudah lemas , ia tak sanggup berlari lagi .. Perempuan itu semakin dekat . Jari jemari dengan kuku yang runcing dan panjang mulai menyentuh leher Raihan . Terasa sangat dingin seperti batu es yang di tempelkan ke kulit nya .


Raihan mencoba untuk melepas kan kedua tangan perempuan itu dengan menarik nya nya namun tidak terlepas juga . Hingga ia mulai merasakan kuku - kuku itu menggores kulit leher nya . Terasa perih ..


" Le .. Pas.. Aakhh .. Aak .. Kkuuu " ucap Raihan terbata - bata sambil terus berusaha melepaskan diri .


Kini wajah perempuan itu hanya berjarak sejengkal dari wajah Raihan , menebar kan aroma yang sangat anyir dan bau busuk .


Tatapan nya tajam dan mengerikan , seperti nya ia sangat menikmati penyiksaan nya terhadap Raihan .


Raihan berusaha memutar otak di tengah kondisi nya yang berada di ujung tanduk saat ini , ia merasa tidak mengenal perempuan ini .


" Si aap aa khaa mu ?" tanya Raihan di tengah nafas nya yang tersisa .


###############################

__ADS_1


__ADS_2