
Setelah pak Dewangga tiba di ruang IGD , ia segera di tempatkan di kamar isolasi . Agar tidak menganggu pasien lain . Karena pengalaman sebelum nya , pak Dewangga bisa saja teriak - teriak kembali akibat rasa sakit nya .
Benar saja , mulai dari keluar dari ambulance pak Dewangga sudah berteriak - teriak .
" Aduuhhhh gateeellll , paanaaaasss ... Adduuhh peeriiihhh .. toloongg cepaatt dook .. " jerit pak Dewangga sambil terus saja menggaruk - garuk kulit nya tak tentu arah
" Baik , sabar ya pak " ucap dokter Danu dengan sabar .
Dokter Danu mulai mengecek bentol - bentol yang terdapat di seluruh tubuh pak Dewangga .
Ia segera memberikan obat gatal yang paten melalui suntikan , bagaimana pun ia harus mendahulukan medis .
Suster sempat menanyakan apakah pak Dewangga alergi terhadap makanan atau obat , apa yang di konsumsi pak Dewangga sesaat sebelum terjadi bentol - bentol .
Semua pertanyaan dan jawaban nya di catat di lembar medical record . Dokter Danu menyempatkan untuk membaca lembaran tersebut agar lebih memahami keluhan pak Dewangga .
" Kita tunggu obat nya bereaksi dulu ya bu .. Kurang lebih sekitar tiga puluh menit an " ucap dokter Danu kepada istri nya yang sedang mendampingi .
Bu Leni , istri pak Dewangga pun mengangguk lesu . Ia tidak tega melihat suami nya tersiksa begini .
" Sus , tolong nanti di update kondisi pak Dewangga ke saya setiap lima belas menit ya " perintah dokter Danu
" Baik dok " jawab suster itu sambil melihat jam tangan nya .
Dokter Danu masih berdiri di samping bed pak Dewangga ,
" Sabar ya pak .. Semoga obat nya segera bereaksi " ucap nya sambil mengecek kembali cairan infus yang sedang mengalir setetes demi setetes masuk ke dalam tubuh pak Dewangga .
"Tahan sedikit pa , di usap aja ya .. Sini mama usapin biar ga pecah " bujuk istri nya
__ADS_1
Sedangkan istri nya masih setia menunggui suami nya , ia terus saja membujuk agar suami nya menahan sakit nya dan tidak menggaruk - garuk terus .
Karena semakin di garuk akan semakin banyak bentol yang pecah dan mengeluarkan darah .
"Gimana mau di tahan , gataall sekalii ini , maa .. haduuhhh , hssstt .. Periiihhh " ucap pak Dewangga sambil terus berteriak , terkadang meringis .
" Santet biriang , sesuai dugaan ku .. kasihan sekali pak Dewangga , kalau tidak segera di obati kulit nya akan bernanah dan membusuk perlahan " benak dokter Danu sambil mengatur aliran infus yang masuk .
" Sudah ya pak .. Ini obat nya sudah kami berikan yang bagus , semoga cepat bereaksi nya " ucap dokter Danu menoleh sekilas ke arah pak Dewangga yang masih menjerit - jerit , karena memang sehebat apa pun obat jika bukan penyakit medis maka tidak akan ada pengaruh nya .
" Mari , bu .." pamit dokter Danu kepada istri nya pak Dewangga .
" Iyaa dok " jawab istri nya lirih .
Lalu ia pun kembali ke ruangan dokter , tak lama kemudian ..
" Permisi dok " sapa dokter Sony sopan
Dokter Danu yang sedang membaca laporan medrec beberapa pasien menoleh spontan , dan terkejut melihat kepala rumahsakit sudah berdiri di depan pintu .
" Silahkan masuk dok,
Marii duduk , dok " sapa dokter Danu sambil beranjak dari duduk nya dan mempersilahkan dokter Sony duduk di sofa melingkar di dalam ruangan dokter IGD .
Dokter Sony pun segera masuk dan duduk di samping dokter Danu .
" Sedang jenguk pak Dewangga , dok ?" tanya dokter Danu berbasa basi
" iyaa dok , barusan lihat sebentar ... Ga tega saya lihat kondisi anak saya , dok
__ADS_1
Menurut dokter Danu gimana ? anak saya ini kena penyakit biasa atau bukan ?" tanya dokter sony dengan raut wajah sedih sekaligus bingung .
Dokter Danu sudah menduga kalau kedatangan dokter Sony pasti akan menanyakan hal ini .
" Bukan dok " jawab dokter Danu singkat , ia ingin melihat reaksi dokter Sony , apakah percaya atau tidak .
" Saya masih ga habis pikir , apa iya ada yang tidak suka atau jahat dengan anak saya .. Setahu saya , Dewa itu baik sama siapa aja .
Kenapa ya , apa iyaa ?" ucap dokter Sony , lebih kepada bicara ke diri nya sendiri nya .
Dokter Danu diam saja , entah dia harus jawab apa . Seperti nya dokter Sony memang bukan orang yang mudah percaya , apalagi hal yang di luar logika .
" Tadi dokter Sony sudah baca medical record pak Dewangga ?" tanya dokter Danu lagi
" iya sudah " jawab dokter sony
" Menurut dokter Sony bagaimana dengan obat yang saya berikan , apakah sudah cukup bagus atau masih kurang ? " tanya dokter Danu mencoba memancing logika dokter sony
" Kalau untuk obat sih udah bagus ya , itu bukan cuma mahal tapi juga paten - paten semua . Dosis nya juga sudah benar dan tepat .
Harus nya ga sampai tiga puluh menit sudah bisa meredakan rasa gatal , perih dan panas nya . Biasa nya sekitar sepuluh atau lima belas menit sudah bekerja efek obat nya , karena kan di masukkan melalui cairan infus jadi lebih cepat bereaksi " ucap dokter Sony menjelaskan , lagi - lagi seperti menjelaskan ke diri nya sendiri . Karena ia bicara sambil merenung dan sesekali mengusap wajah nya , sambil menghela nafas .
Dokter Danu pun melihat jam tangan nya , sudah hampir lima belas menit .
" Sudah hampir lima belas menit , saya tadi memberikan jangka waktu tiga puluh menit . Dua kali lipat lebih lama , seperti yang dokter Sony sampai kan barusan harus nya saat ini sudah mereda .
Kita coba tunggu sampai tiga puluh menit ya dok " ucap dokter Danu sambil ia menunggu kabar dari suster tadi .
Ia yakin beberapa menit lagi suster itu akan menemui nya untuk meng update status kondisi pak Dewangga .
__ADS_1