Dokter Indigo

Dokter Indigo
EPISODE : SANTET PART . 6 .


__ADS_3

Setelah pak Dewangga tiba di ruang IGD , ia segera di tempatkan di kamar isolasi . Agar tidak menganggu pasien lain . Karena pengalaman sebelum nya , pak Dewangga bisa saja teriak - teriak kembali akibat rasa sakit nya .


Benar saja , mulai dari keluar dari ambulance pak Dewangga sudah berteriak - teriak .


" Aduuhhhh gateeellll , paanaaaasss ... Adduuhh peeriiihhh .. toloongg cepaatt dook .. " jerit pak Dewangga sambil terus saja menggaruk - garuk kulit nya tak tentu arah


" Baik , sabar ya pak " ucap dokter Danu dengan sabar .


Dokter Danu mulai mengecek bentol - bentol yang terdapat di seluruh tubuh pak Dewangga .


Ia segera memberikan obat gatal yang paten melalui suntikan , bagaimana pun ia harus mendahulukan medis .


Suster sempat menanyakan apakah pak Dewangga alergi terhadap makanan atau obat , apa yang di konsumsi pak Dewangga sesaat sebelum terjadi bentol - bentol .


Semua pertanyaan dan jawaban nya di catat di lembar medical record . Dokter Danu menyempatkan untuk membaca lembaran tersebut agar lebih memahami keluhan pak Dewangga .


" Kita tunggu obat nya bereaksi dulu ya bu .. Kurang lebih sekitar tiga puluh menit an " ucap dokter Danu kepada istri nya yang sedang mendampingi .


Bu Leni , istri pak Dewangga pun mengangguk lesu . Ia tidak tega melihat suami nya tersiksa begini .


" Sus , tolong nanti di update kondisi pak Dewangga ke saya setiap lima belas menit ya " perintah dokter Danu


" Baik dok " jawab suster itu sambil melihat jam tangan nya .


Dokter Danu masih berdiri di samping bed pak Dewangga ,


" Sabar ya pak .. Semoga obat nya segera bereaksi " ucap nya sambil mengecek kembali cairan infus yang sedang mengalir setetes demi setetes masuk ke dalam tubuh pak Dewangga .


"Tahan sedikit pa , di usap aja ya .. Sini mama usapin biar ga pecah " bujuk istri nya

__ADS_1


Sedangkan istri nya masih setia menunggui suami nya , ia terus saja membujuk agar suami nya menahan sakit nya dan tidak menggaruk - garuk terus .


Karena semakin di garuk akan semakin banyak bentol yang pecah dan mengeluarkan darah .


"Gimana mau di tahan , gataall sekalii ini , maa .. haduuhhh , hssstt .. Periiihhh " ucap pak Dewangga sambil terus berteriak , terkadang meringis .


" Santet biriang , sesuai dugaan ku .. kasihan sekali pak Dewangga , kalau tidak segera di obati kulit nya akan bernanah dan membusuk perlahan " benak dokter Danu sambil mengatur aliran infus yang masuk .


" Sudah ya pak .. Ini obat nya sudah kami berikan yang bagus , semoga cepat bereaksi nya " ucap dokter Danu menoleh sekilas ke arah pak Dewangga yang masih menjerit - jerit , karena memang sehebat apa pun obat jika bukan penyakit medis maka tidak akan ada pengaruh nya .


" Mari , bu .." pamit dokter Danu kepada istri nya pak Dewangga .


" Iyaa dok " jawab istri nya lirih .


Lalu ia pun kembali ke ruangan dokter , tak lama kemudian ..


" Permisi dok " sapa dokter Sony sopan


Dokter Danu yang sedang membaca laporan medrec beberapa pasien menoleh spontan , dan terkejut melihat kepala rumahsakit sudah berdiri di depan pintu .


" Silahkan masuk dok,


Marii duduk , dok " sapa dokter Danu sambil beranjak dari duduk nya dan mempersilahkan dokter Sony duduk di sofa melingkar di dalam ruangan dokter IGD .


Dokter Sony pun segera masuk dan duduk di samping dokter Danu .


" Sedang jenguk pak Dewangga , dok ?" tanya dokter Danu berbasa basi


" iyaa dok , barusan lihat sebentar ... Ga tega saya lihat kondisi anak saya , dok

__ADS_1


Menurut dokter Danu gimana ? anak saya ini kena penyakit biasa atau bukan ?" tanya dokter sony dengan raut wajah sedih sekaligus bingung .


Dokter Danu sudah menduga kalau kedatangan dokter Sony pasti akan menanyakan hal ini .


" Bukan dok " jawab dokter Danu singkat , ia ingin melihat reaksi dokter Sony , apakah percaya atau tidak .


" Saya masih ga habis pikir , apa iya ada yang tidak suka atau jahat dengan anak saya .. Setahu saya , Dewa itu baik sama siapa aja .


Kenapa ya , apa iyaa ?" ucap dokter Sony , lebih kepada bicara ke diri nya sendiri nya .


Dokter Danu diam saja , entah dia harus jawab apa . Seperti nya dokter Sony memang bukan orang yang mudah percaya , apalagi hal yang di luar logika .


" Tadi dokter Sony sudah baca medical record pak Dewangga ?" tanya dokter Danu lagi


" iya sudah " jawab dokter sony


" Menurut dokter Sony bagaimana dengan obat yang saya berikan , apakah sudah cukup bagus atau masih kurang ? " tanya dokter Danu mencoba memancing logika dokter sony


" Kalau untuk obat sih udah bagus ya , itu bukan cuma mahal tapi juga paten - paten semua . Dosis nya juga sudah benar dan tepat .


Harus nya ga sampai tiga puluh menit sudah bisa meredakan rasa gatal , perih dan panas nya . Biasa nya sekitar sepuluh atau lima belas menit sudah bekerja efek obat nya , karena kan di masukkan melalui cairan infus jadi lebih cepat bereaksi " ucap dokter Sony menjelaskan , lagi - lagi seperti menjelaskan ke diri nya sendiri . Karena ia bicara sambil merenung dan sesekali mengusap wajah nya , sambil menghela nafas .


Dokter Danu pun melihat jam tangan nya , sudah hampir lima belas menit .


" Sudah hampir lima belas menit , saya tadi memberikan jangka waktu tiga puluh menit . Dua kali lipat lebih lama , seperti yang dokter Sony sampai kan barusan harus nya saat ini sudah mereda .


Kita coba tunggu sampai tiga puluh menit ya dok " ucap dokter Danu sambil ia menunggu kabar dari suster tadi .


Ia yakin beberapa menit lagi suster itu akan menemui nya untuk meng update status kondisi pak Dewangga .

__ADS_1


__ADS_2