
Dokter Danu masih belum mengambil sikap terkait desas desus ini . Ia tidak mau gegabah dan di anggap mencampuri urusan manajemen . Saat ini ia masih menunggu dan melihat perkembangan nya .
Rumahsakit semakin ramai , baik itu oleh pasien dan keluarga yang mendampingi nya mau pun keluarga karyawan yang masih datang . Kini mereka tidak melaporkan ke polisi karena yang sudah - sudah anggota keluarga mereka yang 'pergi ' tiba - tiba datang dengan sendiri nya ke rumahsakit itu , meski pun dalam keadaan yang mengenaskan . Sehingga mereka berkoordinasi dengan manajemen rumahsakit untuk saling mencari dan memberi kabar . Pihak manajemen pun berjanji akan membiayai pengobatan nya bagi karyawan yang telah ' datang ' kembali secara penuh . Dan bersedia memperkerjakan sesuai kondisi dan juga keinginan nya kelak .
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
" Nit , aku mau ke lantai sebelas dulu ya .. Ni ngasih ini " ucap Saras kepada teman satu ruangan nya , sambil memperlihatkan tumpukkan map yang sedang ia pegang .
" Ehmm kamu ga pa pa jalan sendirian , Ras ? " tanya Anita khawatir
" Ga pa pa , Nit .. Abis udah banyak nih , mesti segera di kirim ke bagian akunting . Kalo engga kan nanti mereka kudu pada lembur nyelesaian laporan keuangan nya , kasian " jawab Saras
" Oohh ya udah , kamu hati - hati ya .. Aku ga bisa nemenin Ras , lagi ngurusin asuransi para pasien nih " ucap Anita lagi
" Iyaa ga pa pa , ya udah ya .. I'll be back soon darling " ledek Saras sambil mengerlingkan sebelah mata nya
" Dasar ... " gumam Anita sambil tertawa .
Anita dan Saras merupakan staf administrasi yang mengurus pembayaran biaya pengobatan pasien yang menggunakan asuransi .
Siang itu sekitar jam dua lebih , Saras berjalan sendirian . Suasana rumahsakit masih cukup ramai , khusus nya di poli - poli spesialis . Saras mempercepat langkah nya menuju lift . Ia akan ke lantai sebelas memberikan berkas asuransi para pasien ke bagian akunting .
Semua berjalan lancar sampai Saras selesai memberikan berkas , dan berbincang sebentar dengan tim akunting .
" Alhamdulilah aman .. " batin Saras . Ia pun berjalan kembali menuju lift untuk ke ruangan nya di lantai dua . Tanpa sadar Saras pun bersenandung kecil .
Ia memasuki pintu lift yang telah terbuka , lalu memencet tombol angka dua .
Lift pun bergerak turun .. Semenit , dua menit , lima menit .. Sepuluh menit . Saras masih belum menyadari kalau lift nya bergerak tanpa henti .
Setelah ia cukup lama berdiri dan mulai merasakan pegal di kaki nya , baru lah ia menyadari .
" Kok lama amat niih lift nyampe nya .. Tumben , ga ada yang masuk lagi " gumam Saras .
Hawa aneh mulai menyeruak di dalam lift tersebut . Bau apek dan debu hingga membuat hidung Saras pun gatal , ia mengucek - ngucek hidung nya berkali - kali sampai merah .
" Duuhh ga bawa tissu lagi " pikir nya
Kemudian udara pun berubah , sangat dingin .. Saras serasa berada di dalam lemari pendingin . Semakin lama dingin itu menerobos pertahanan imun tubuh nya , Saras menggigil , gigi nya gemeretuk ..
Ia pun mulai panik , lalu mencoba menekan semua tombol satu per satu . Bahkan Saras juga menekan tombol darurat berulang kali . Ia juga berusaha memencet tombol microfon untuk meminta pertolongan .
__ADS_1
Namun lift tersebut tidak berhenti bergerak .
Tidak ada angka yang keluar , hanya tanda garis putus - putus di layar atas pintu lift .
Saras menggedor - gedor pintu lift nya , berharap ada seseorang di luar yang dapat mendengar ..
Bruug bruug bruugg ..
" Toloongg .. Tooloongg .. Paaakk , buuuu , mbaaakkk , maasss , deekk .. Tolooongg .. " teriak Saras dengan sekuat tenaga . Berulang - ulang kali ia berteriak sampai suara nya serak.
Ia berhenti teriak sejenak , menempelkan telinga nya ke dinding lift ... Hening , tidak ada suara apa pun .
" Hiikkss .. Gimana ini , aku di mana .. " ucap Saras lirih , ia duduk merosot ke lantai lift . Meringkuk di pojokkan menahan dingin , tenggorokan nya mulai gatal .
Saras mulai terbatuk - batuk di dalam lift .. Nafas nya pun semakin berat .
Saras terus terbatuk , hingga tiba - tiba keluar cairan merah dari mulut nya .
" Hhaaa .. Daraah ?! " ucap Saras panik setelah ia melihat darah di tangan nya yang tadi ia gunakan untuk menutup mulut nya .
" Toolooongg .. Seseoraang tolooong akkuuu .. Hhiik hiikks " ucap Saras lirih sambil terus menangis dan terbatuk - batuk .
Tubuh Saras mulai melemah , ia sangat lemas .. Sedangkan nafas nya semakin berat dan sesak . Blazer nya tidak mampu menghangatkan tubuh nya dari udara dingin dalam lift saat ini .
Entah sampai kapan ia terkurung di dalam lift yang tidak dapat berhenti ini ... Dan akhir nya Saras pun tak sadarkan diri .
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Sementara itu Anita , berkali - kali melirik jam tangan nya , sudah pukul lima sore .
" Kemana sih Saras , kata nya will be back soon .. Lha udah mo pulang gini masih belum back juga .. Aku tanya in aja deh " gumam Anita , lalu ia pun meraih ponsel untuk menghubungi ponsel Saras .
Kriing kriing kriing .. Terdengar suara dering ponsel dari meja di seberang nya .
Anita pun berdiri lalu menghampiri meja di seberang nya yaitu meja kerja nya Saras . Kemudian mencari sumber suara ..
Anita membuka laci meja Saras , dan di sana ia melihat ponsel Saras tergeletak .
" Ya ampuunn , dia ga bawa ponsel .. Aduuhh Saras , gimana siih " ucap Anita , ia pun kembali ke meja nya . Dan menghempaskan pantat nya ke kursi , Anita diam merenung ..
Lalu akhir nya , ia mengangkat telepon yang ada di meja nya .. Setelah menekan beberapa angka , tersambung lah ..
__ADS_1
" Halo , akunting di sini .. " sapa suara di seberang .
" Halo mbak , ini Anita dari admin asuransi lantai dua .. Ini dengan mbak siapa ya " jawab Anita
" Hai Nit , ini Nayla .. Ada apa Nit ?" tanya Nayla
" Ooh mbak Nayla .. belum pulang , mbak ?" tanya Anita berbasa basi
" Belum , sedikit lagi nih .. Tanggung Nit . Kamu kok belum pulang juga ?" ucap Nayla
" Belum mbak , masih nunggu Saras .. Tadi siang Saras kan bilang mau ngasih berkas ke akunting tapi kok belum balik - balik ke ruangan sampe sore gini .. Mbak Nayla liat ga waktu Saras balik dari akunting ?" tanya Anita
" Oohh liat , kan tadi pas aku yang nerima berkas nya . Terus kita ngobrol sebentar , sekitar lima belas menit lah .. Abis itu Saras pamit , turun lagi .. Kata nya kasian kamu sendirian ga ada yang bantuin , gitu " ucap Nayla menjelaskan
" Oohh gitu , mampir kemana ya tuh anak .. Mana ponsel nya ga di bawa lagi , mbak " ucap Anita
Tiba - tiba hening , tidak terdengar suara Nayla ..
" Mbak , mbaakk .. Mbak Nay " panggil Anita
" Eehh iyaa , kenapa Nit ?" tanya Nayla
" Kok melamun , mbak .. " jawab Anita
" Nit, mungkin ga .. " ucap Nayla yang langsung dia hentikan
" Iihh mbaakk , aku juga sempet mikir gitu .. Tapi aku takut bener maka nya aku ga berani ngeluarin . Gimana nih mbak .. " ucap Anita yang sudah mulai serak menahan airmata
" Tenang dulu Nit , coba kita telponin semua divisi siapa tau Saras di salah satu nya .. Lagi mampir . Atau ada yang liat Saras .
Ya udah , bagi tugas ya .. Aku hubungi sekuriti , kamu telpon divisi - divisi lain .
Nanti kita berkabar lagi , okee " ucap Nayla
" Iyaa mbak , makasii ya mbak .. Udah mau bantuin aku " jawab Anita yang sudah mulai terisak .
" Iyaa ga pa pa , Saras juga kan teman ku Nit .. Mudah- mudahan aja ada yang lihat " jawab Nayla
" Iyaa aamiin , mbak .. Ya udah dulu ya mbak , sebentar lagi kita berkabar ya mbak " jawab Anita
Sudah bukan rahasia lagi kalau saat ini rumahsakit sedang dalam teror . Hanya pasien saja yang tidak tahu .
__ADS_1
Kemudian Anita dan Nayla pun mengakhiri komunikasi nya , dan mulai menelpon .