
...Jangan lupa komen vote dan like ya...
TRANggg
TRinggggg
"sadarlah Zuan apa yang kau lakukan tidak akan membuatmu bahagia"ujar seorang pria tampan dengan mata berwarna kelabu menatap sosok yang sang adik yang saat ini menampilkan senyum miring
"apa yang kau tau tentang diriku Ardes,memang sejak awal kebahagian tidak ada pada takdirku,jadi untuk apa aku harus memikirkan hal yang terjadi,mau bahagia atau tidak terserah"Zuan mendorong tubuh kakaknya dengan kuat dan kembali melayangkan pedangnya untuk menebas leher Ardes tetapi mampu di tangkis oleh sang kakak dengan membalik serangan
CRASHH
pedang Ardes berhasil menyabet bagian dada Zuan sampai menimbulkan luka yang menganga lebar
"ZUAN"sungguh didalam diri Ardes tidak pernah terpikir sama sekali akan menorehkan luka ditubuh adiknya,iya begitu menyayangi zuan sosok sang adik yang kala mereka masih kecil selalu menunggunya di balik pintu kamar untuk mengajaknya bermain.
"Zuan sudahi ini,jika kau menginginkan tahta kau boleh menempati posisi itu aku tidak membutuhkan nya"
"Aku tidak menerima belas kasihan pemberian percuma darimu BRENGSEK"teriak Zuan dan kembali menyerang Ardes Tampa memikirkan lukanya
pedang saling beradu dari kedua saudara tersebut yang satu terus berusaha menghindar sedang yang satu terus menyerang dengan nafsu membunuh,di tambah serangannya juga mengandung sihir membuat keadaan disekitar mereka hancur berantakan
TRANggg
TRinggggg
BUMMM
BRUKk
tubuh Zuan terhempas cukup kuat sampai menabrak batang pohon sampai tumbang
uhukkk
__ADS_1
memuntahkan seteguk darah iya menertawakan dirinya yang begitu lemah kenapa iya tidak pernah bisa diatas kakaknya,kenapa iya selalu dibawah tingkatan terendah,kenapa dirinya tidak pernah di pandang bahwasanya ini dirinya tanpa bayangan orang lain terlebih kakaknya yang menjadi perbandingan.
ayah,ibu dan orang lain tidak pernah memberi kasih sayang yang adil antara dirinya dan sang kakak,tidak pernah merasakan diprioritaskan dalam beberapa hal dirinya tidak minta banyak tapi semua itu hanya kesiaan perhatian kasih sayang hanya tertuju kepada Ardes, Ardes dan Ardes tidak ada yang namanya Zuan.
"ibunda sapu tangan itu sangat indah bisakah aku memilikinya satu"
"tidak ini khusus kubuat untuk Ardes,kalau mau sapu tangan minta pada madam Tarra dia pasti akan membuatkannya untukmu"ujar permaisuri tanpa memandang wajah putra bungsunya yang sudah menampilkan tatapan kecewa
"tapi aku ingin dirimu yang buat sendiri melalui tangan mu ibu,bukan tangan orang lain!"batin Zuan tersenyum getir
"kak apa aku boleh ikut latihan berpedang bersamamu dan ayahanda"ujar si bungsu sambil menatap sang kakak penuh harap
"tentu saja ***-"ucapan sang kakak di potong oleh suara lain yang tidak lain merupakan ayah mereka berdua dalam kata lain kaisar itu sendiri
"berlatih sendiri"
"ayahanda"Ardes protes akan perkataan ayahnya saat melihat adiknya menundukkan kepalanya sedih
"tidak mengapa kak,aku berlatih bersama jenderal Leo saja"setelah mengatakan hal tersebut Zuan berlalu pergi setelah berpamitan pada ayah dan kakaknya.
"Aku MEMBENCIMU ARDES SANGAT BENCI KAU PENGHALANG KEBAHAGIAN KU MATI SANA"teriak Zuan menggila sambil menggambar sesuatu di tanah menggunakan darahnya yang bercucuran membuat lingkaran dengan mantra rumit yang tidak lain mantra pemanggil dan tanda perjanjian jiwa dengan hal gelap.
dan dari sanalah dimana Zuan terjerumus dalam kegelapan dosa dan dimana tangannya harus berlumuran darah saudaranya sendiri hanya karena sakit hati yang disebabkan oleh banyaknya kekecewaan yang iya terima tanpa tau bahwa orang yang dirinya lenyapkan merupakan orang yang selalu berusaha memberi kebahagiaan kepada dirinya walau sekecil apapun itu.
"uhukkk"darah mengalir keluar dari mulut Ardes tatapan sendu iya layangkan pada adiknya dimana saat ini tubuhnya sedang terambil alih oleh hal jahat mata berwarna kelabu milik Ardes menyorot mata merah milik adiknya dimana mata beriris merah itu bukanlah milik adiknya
melangkah maju menghiraukan sakit pada bagian dadanya dimana tangan Zuan menusuk dirinya dengan kuku tajam yang iya miliki,dengan menggapai tubuh tersebut Ardes memeluk tubuh adiknya dan berbisik lirih bahkan setitik air mata mengalir dari matanya.
"ka-kak Menya-yangimu Zuan, Berbaha-gialah!"setelah mengatakan hal tersebut tubuh Ardes melemas bersamaan dengan jatuhnya tubuhnya ketanah sedangkan Zuan terdiam tidak melakukan apa-apa tapi terlihat mata merah darah tersebut memancarkan kesedihan.
"Hiks-hiks"kala mata merah tersebut berubah kembali ke warna irisnya semula air mata mengalir deras disertai oleh hujan yang turun membasahi bumi,Zuan menatap sosok Ardes yang sudah terbaring tidak lagi punya jiwa yang bisa menggerakkan raga berparas rupawan tersebut
__ADS_1
"ARGGGGGGGGGGG"tubuh tersebut jatuh terduduk di samping jasad sang kakak dengan tangan yang meremas kuat rambutnya bahkan sesekali tangan tersebut memukul dengan kuat kepala yang dihiasi Surai berwarna kelam.
sedangkan di sebuah istana utama kekaisaran GALAXY seorang wanita hamil kaget dengan suara petir yang menyambar dengan kuat,perasaanya tidak karuan bahkan pikirannya langsung tertuju pada prianya
"Ardes kamu baik kan!?"ucap wanita tersebut sambil mengusap perutnya yang membuncit bahkan air mata menetes dari mata indahnya.
......................
Menatap singgasana didepannya yang saat ini sedikit berantakan dengan bagian bawah terdapat tanah berhamburan dimana beberapa keramik berubah posisi
"kau akan selalu berada disini untuk melihat tumbuh kembang anakmu kak,dan kau juga harus berada di belakangku untuk melihat bagaimana aku memimpin kekaisaran ini dan menyiksa orang yang kau sayangi"berbalik meninggalkan bagian aula dimana terdapat singgasana emas yang mulai sekarang menjadi tempat bersemayamnya seorang kaisar sesungguhnya berada.
4 tahun berlalu dimana sosok putra mahkota kekaisaran GALAXY yang usianya menginjak tiga tahun lebih sosok yang selalu menantikan kehadiran sosok ayahnya yang belum pulang-pulang dari berperang kata ibunya sejak dirinya masih dalam kandungan.
hari-hari dengan segala hal terjadi sosok pangeran mahkota yang diberi nama ARSENDRA LEHANCY BRILLIANT harus menerima kepahitan dimana ibunya harus meninggalkan nya dengan cara tidak wajar dengan keadaan tubuh mengering di tambah sebuah pisau yang tertancap di lehernya.
saat itu Arsen ingin menolong ibunya dengan menyingkirkan pisau tersebut tapi apalah daya iya malah dituduh sebagai pembunuh ibunya dan dari sanalah iya dikucilkan semua orang membencinya.
disaat keterpurukan nya sosok sang ayah pulang tapi tidak sendiri melainkan membawa dua perempuan yang salah satunya menggendong bayi mungil dari sana Arsen berkesimpulan bahwasanya ayahnya tidak pergi untuk berperang tetapi ayahnya pergi untuk berkhianat dari ibunya.
"Dasar pembunuh"sebutan yang selalu Ardes/Zuan berikan kepada arsen
"atu butan pembunuh"serta elakan yang selalu Arsen berikan untuk membantah segala tuduhan yang selalu dilayangkan pada dirinya
cahaya yang Arsen inginkan hadir dari ayahnya sirna begitu saja saat segala macam siksaan caci maki yang selalu iya dapatkan,tapi dengan segala kenekatan dalam dirinya Arsen berusaha bertahan di tengah badai yang menerjangnya sampai diusianya yang kesepuluh tahun kewarasannya menghilang selama kurang lebih 6 tahun lamanya dirinya dirundung dengan masalah kejiwaan,karena mendapatkan pelecehan seksual dari sekitar 4 orang laki-laki yang dikirim oleh ibu tirinya yang menyandang gelar permaisuri menggantikan mendiang ibunya.
Sembuh dari masalah kejiwaan nya Arsen bersama Dion sang pengawal satu-satunya yang sudah bersama dengannya dari umur 8 tahun lebih suka menghabiskan waktu di luar istana, menjelajah keberbagai tempat!!
kadang melakukan perkerjaan,atau untuk sekedar menjernihkan pikiran,sampai iya dipertemukan dengan pemilik iris Biru yang mengubah susunan cerita dalam hidupnya.
......................
......................
__ADS_1
......................
^^^Bersambung....^^^