
srakkk
srakkk
srakkk
tiga pasang kaki melangkah diantara lebatnya padang rerumputan ilalang,yang sudah hampir mendekati ujung dari sebuah hutan terlarang dengan keadaan berantakan,bercampur luka gores kecil yang menghiasi tubuh mereka.
cahaya merah kegelapan yang masih menyelimuti mereka sedikit memberi warna pudar,setelah berjuang dan aktif untuk melindungi mereka dari mahluk level tinggi yang mendiami hutan kematian.
BRUKk
"Yang mulia!!"panggil Dion kala melihat Arsen yang jatuh terduduk dengan tatapan kosong sambil menatap kearah belakang dimana bekas dari jalan yang mereka tempuh,kristal bening mengalir dari matanya yang tampak sayu dengan luka.
tangan Dion terulur dan merangkul pundak Arsen dan mencoba membawanya untuk kembali berdiri karena mereka tidak punya waktu terlalu banyak.
"kita harus cepat,jangan berhenti seperti ini!"ujar luangxi sambil tetap menatap kedepan,dan rupanya perkataannya itu memancing kemarahan dari Arsen,dengan rasa amarah besar iya menepis tangan Dion di pundaknya dan...
Bugh
"Aku kecewa!"Arsen menghapus lelehan air matanya dan melangkah cepat melewati luangxi yang baru saja mendapat satu pukulan pada wajahnya.
__ADS_1
"tuan pikir anda saja yang merasakan kekecewaan,saya juga bahkan mungkin lebih besar dari apa yang anda rasakan sekarang,Rumah saya dari kecil,ibu saya, saudara saya menghilang begitu saja tanpa bilang hanya untuk perjalanan ini,bukan berarti saya berkata untuk cepat seolah tidak memiliki beban anda salah kepala saya sangat penuh memikirkan bagaimana keadaan Nona saya sekarang,apa masih hidup atau sudah tia-"ucapan luangxi di potong oleh teriakan Arsen dan teguran Dion yang serempak terdengar bersamaan
"DIAM-DIAM SEKARANG!"
"Angxi"
luangxi melihat bagaimana Dion yang menghampiri Arsen yang sudah menangis histeris sambil terus memanggil satu nama yaitu'LEXKA' lalu memeluknya untuk menenangkan.
"Lexka aku akan membencimu seumur hidup kalau kamu berani meninggalkan aku sendirian!"batin Arsen sambil menyentuh jemari tangan manisnya yang tersemat cincin pengikat keduanya
"kau sungguh keterlaluan uban,kalau kau muncul akan aku cekik mati dirimu,yang berani membuat yang mulia Arsen sesakit ini"batin Dion yang masih berusa menenangkan Arsen
"Nona saya masih menaruh harapan tinggi untuk anda kembali,dan membuang jauh-jauh perasaan saya yang tidak dapat merasakan kehidupan anda di diri saya kembali"ujar batin luangxi sambil mengangkat pandangannya untuk menatap langit biru yang di hiasi gumpalan awan lembut.
Di sebuah kamar mewah nampak di atas kasur dengan selimut tebal berwarna dark blue terbaring sosok tampan yang gelisah dalam tidurnya,bahkan isakan kecil keluar dari selah bibirnya.
Mata yang awalnya tertutup terbuka lebar dengan nafas memburu sosok itu langsung menatap ke sekelilingnya untuk mencari sesuatu saat tidak mendapatkan yang iya cari jantungnya berdetak kencang penuh keresahan,dengan bangkit terburu-buru dari kasur sosok itu berlari menuju pintu kamar yang nampak elegan dan kokoh.
Cklekkk
belum sempat tangan putih milik sosok yang sedang panik itu menggapai pintu, ternyata pintu itu yang lebih dulu terbuka menampilkan dua sosok yang satu mempunyai usia jauh berbeda.
__ADS_1
"DADA"Sebuah suara teriakan super nyaring berasal dari sosok pria kecil berusia 4 tahun sambil berlari kearah sosok yang sedang berdiri kaku dengan pakaian tidur satin berwarna putihnya sambil menatap dalam sosok yang saat ini sedang tersenyum tipis padanya.
menghiraukan sang anak yang sedang berlari riang kearahnya,iya malah berlalu begitu saja melewati sang putra dan memeluk sosok dewasa yang nampak bingung.
"Why?"
"Bajingan,aku membencimu..................
Lexka!"ujar sosok yang tidak lain adalah Arsen sambil tersenyum tipis di balik pelukannya
"aku juga mencintaimu"ujar Lexka sambil terkekeh saat melihat putra kecil mereka yang sedang menggerutu lucu.
"Lorenzo"
"Dangan pandil-pandil Atu,lupatan caja atu nini yan tacat mata,Huh"ujar Lorenzo sambil berbalik membelakangi orang tuanya dengan kesal yang mana mengundang tawa geli dari lexka dan Arsen yang merasa sangat bahagia sekarang walau untuk mendapatkannya harus ada drama air mata yang cukup panjang,mengalihkan pandangannya Arsen menatap lexka yang juga menatapnya lalu-
cup
"jangan membuatku ingin mencekikmu seperti dulu"ujar Arsen setelah melayangkan satu kecupan manis di bibir lexka
"tidak akan pernah"
__ADS_1