
"saya akan berkuda sendiri"ujar Arsen,dan langsung saja naik keatas kuda hitamnya,iya ingin langsung mengendarai kudanya untuk segera melangkah tapi semua itu tertahan karena Lexka menghalanginya
"kau bersamaku"ungkap Lexka dengan menatap Arsen datar
"kau bersama pengawal Dion dan saya sendiri"perintah Arsen kepada Lexka
"saya tidak ingin bersama bedebah uban ini yang mulia"protes Dion sambil menunjuk Lexka,tentu iya menolak bersama dengan mahluk berwajah datar seperti Lexka
"jangan membantahku,pengawal Dion"Arsen menatap dingin kepada Dion,yang direspon tundukan kepala dari bawahannya itu
"baik yan-"perkataan seorang Dion terpotong karena perkataan si mahluk uban
"kau bersamaku atau kuda itu kubunuh dan jalan terakhir kita bertiga menggunakan satu kuda bersama,pilihlah!!"Lexka menatap Arsen dengan tatapan menuntut dan itu sangat tidak Arsen suka
"pilih yang terbaik yang mulia,kalau kuda itu mati dibunuh si uban,kan gawat mahal tadi saya beli habis uang saya, susah lagi dapatnya"Dion mulai menghasut,karena ngeri lihat wajah Lexka yang tidak ada bercanda candanya
"uang saya tadi"ujar Arsen sambil menatap Dion datar,sedangkan tersangka malah cengegesan
"hehehehe...."
"tik... tok... tik... tok.. tik.. tok"Lexka mengetuk lelunjuk tangannya pada jam tangan yang ada dipergelangan tangannya
"waktu terus berjalan,tentukan pilihan semakin lama menentukan semakin lama juga kita disini"ujar Lexka sambil menatap Arsen dan menghiraukan Dion yang sudah nemplok disampingnya,sambil memegang tangan lexka dan menatap berbinar pada pergelangan tangan lexka yang bertengger jam tangan hitam.
"untukku ya"pinta Dion sambil menatap Lexka dengan tatapan imut menurut wanita kurang belaian,tapi menurut Lexka malah seperti tatapan monyet minta pisang.
"mau..,beli"jawab Lexka sambil menarik tangannya dari Dion
"cih, dasar bedebah menyebalkan"Dion langsung berbalik mendekati kudanya
"terima nasib,cacing"
"diam uban sialan"Balas Dion,menatap dongkol pada Lexka
Lexka mengabaikan segala sumpah serapah dari Dion,sebenarnya bisa saja iya memberikan jam yang tidak seberapa ini kepada Dion,tetapi berhubung dion mahluk purba iya takut,jam itu tidak akan berumur panjang ditangan jahanam Dion
balik kepada Arsen yang menatap kedekatan antara kedua pengawalnya itu,entah kenapa rasa kesalnya semakin besar saat melihatnya,entah faktor apa iya bisa sekesal itu.
"yang mulia Arsen yang terhormat,jawabannya"ujar lexka tiba tiba"saya mulai lelah menunggu"sambung Lexka
__ADS_1
"terserah"jawab Arsen yang membuat Lexka tersenyum penuh kemenangan
"pilihan bagus"Lexka pun berjalan menuju kekuda hitam yang Arsen duduki,dan langsung menaikinya,dengan posisi seperti diawal keberangkatan mereka yaitu Arsen didepan dan Lexka dibelakang sambil memegang tali kekang kuda
sedangkan Dion berpikir"lah yang muliakan jawab terserah,terus kenapa si uban naik!?"kasian otak sejengkal Dion harus berpikir terlalu berat
" cepat naik,apa kau ingin ditinggal"kata Lexka kepada Dion,dan setelah itu langsung memacu kudanya untuk berlari
sedangkan Dion pun langsung naik keatas kudanya dan menyusul kuda milik Lexka dan tuannya,dan juga dibumbui dengan gerutuannya kepada mahluk seperti Lexka yang berani sekali meninggalkannya
kuda yang mereka gunakan melaju membelah kesunyian hutan,entah kemana hewan kecil yang ada dihutan karena suaranya saja tidak ada,Lexka sedikit menunduk dan melihat kearah Arsen yang ada didepan,terlihat yang mulia kita ini sedang mengamati sekitar,
kenapa Lexka tau itu karena tudung jubah yang Arsen gunakan,sudah tidak lagi menutupi kepalanya
Lexka dengan segera menarik Tudung jubah tersebut dan langsung memasang kembali,tudung itu kepada pemiliknya,
dan iya kembali fokus kejalan didepan,sedangkan Arsen hanya diam saja walau pipinya entah kenapa sedikit panas
"mungkin karena cuaca"batin arsen
saat mereka hampir sampai didermaga,karena untuk sampai diwilayah kekaisaran harus melewati 2 dermaga dan 7 desa.
penyerangan yang dilakukan para bandit itu,makin berutal kepada para prajurit,terbukti dengan luka luka yang didapatkan dari kubu yang diserang
sedangkan Lexka menatap malas kedepan,niat menolong tidak ada yang terselip dihatinya,baginya orang didepan memperlambat dirinya.
"kita harus menolong mereka,lihat para prajurit itu sebagian sudah pada tumbang"ujar Dion tiba tiba,dan sudah turun dari kudanya
"kau saja menolong aku malas"kata Lexka sambil terus menonton jalannya pertarungan,dan Dion mengabaikan ucapan dari lexka
"yang mulia saya butuh perintah"ujar Dion dengan wajah tegas,sambil menatap Arsen,sedangkan Arsen hanya mengangguk sebagai jawaban bahwa iya mengijinkan Dion membantu pihak dari prajurit itu.
Dion yang sudah mendapatkan ijin pun langsung bergegas lari kearah pertarungan yang masih berlangsung itu.
suara pedang yang saling berbentur satu sama lain terus terdengar,mengisi kesunyian dan irama yang Lexka suka,iya memejamkan matanya,tapi tidak lama karena mahluk yang didepannya yang dari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara juga
"kenapa tidak membantu mereka"tanya Arsen dengan suara tenang,dan pandangan yang masih melihat aksi serang menyerang yang pengawalnya lakukan pada sosok bandit bertubuh besar
"untuk apa,lagi pula pengawal Dion sudah cukup untuk itu"jawab Lexka
__ADS_1
"Hm"gumam Arsen
"lagi pula,prioritasku sedang duduk manis di depan sini,untuk apa aku menjauh untuk membantu disana,kalau yang harus aku lindungi disini"ujar Lexka sambil tersenyum tipis kepada Arsen yang sedang memiringkan kepalanya kebelakang agar bisa melihat sosok Lexka.
"jangan membual,saya bisa melindungi diri saya sendiri,saya bukan anak kecil lagi yang apa apa harus diawasi"jawab Arsen sambil membuang muka,agar Lexka tidak melihat pipinya yang terasa panas,yang iya yakini sedang bersemu.
"iya bukan anak kecil tapi anak ibu"ejek Lexka kepada Arsen
"cihh.."decih Arsen kesal,karena ucapan Lexka,ini pasti karena malam dimana Arsen sedang sakit yang merengek pada orang yang Arsen kira ibunya ternyata seorang Lexka,dan begitulah muncul ejekan seperti itu.
Lexka malah tersenyum geli mendengar decihan kesal arsen,dengan iseng iya mengusap kepala seorang Arsen yang tertutupi tudung jubah tapi malah Arsen tepis
"menyingkir kau"ucap Arsen
"uuu galaknya..."jawab Lexka
dan kita tinggalkan kedua orang itu dan kita beralih kepada Dion dan para prajurit yang tersisa.
saat ini mereka telah selesai dengan para bandit yang saat ini tergeletak dengan kondisi yang yah mengenaskan.
"terima kasih atas bantuannya tuan,perkenalkan saya Alen"ujar prajurit yang Dion duga adalah pemimpin disana
"iya sama sama,Dion"jawab Dion
"saya seperti pernah mendengarnya"ujar prajurit itu tiba tiba,dan juga memperhatikan Dion dengan intens,dan saat iya mengenali orang didepannya,iya sangat terkejut akan hal itu
" bukankah Anda ad-"omongan prajurit itu harus terpotong karena kedatangan tuannya yang merupakan seorang gadis cantik,berambut ungu,dan mempunyai permata yang sama dengan surainya,yang sedang berjalan anggun menuju Dion dan Alen bersama prajurit yang tersisa
para prajurit dan Alen langsung membungkuk memberi hormat
"SALAM YANG MULIA PUTRI MAHKOTA"ujar mereka secara bersamaan,tidak dengan Dion yang sudah berbalik menuju tuannya yang sedang bersama si uban,dan tidak menghiraukan gadis bergaun merah ngejreng itu
......................
......................
......................
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1