Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).

Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).
Bab 10 : Kegalauan Dhea


__ADS_3

Ipenk adalah teman baik Gilang, boleh dibilang sudah seperti saudara sendiri oleh Gilang. Dan Ipenk jugalah yang memperkenalkan pak Heri dengan Gilang.


Karena pak Heri adalah teman dekat bapaknya Ipenk, dan Ipenk tahu dari bapaknya


kalau pak Heri adalah seorang pencari bakat, dan sekarang ini pak Heri sedang mencari seorang pemain alat musik apapun, karena nantinya pak Heri akan menggelar sebuah konser mini dimana nantinya setiap peserta akan menunjukkan kepiawaian nya dalam memainkan sebuah alat musik.Dan yang lebih mantul lagi, konser itu akan di siarkan di salah satu televisi swasta.Maka gilang lah salah satu orang yang dicari Ipenk untuk projek nya pak Heri. Lalu sekarang, diruangan musik yang cukup luas itu terdapat sebuah panggung dan juga banyak kursi yang masih tersusun rapi. Mungkin itulah Aula di kampusnya Gilang. Dan pak Ketut sebagai guru musik di kampus itu, di mintai pak Heri yang tidak lain tidak bukan, adalah adik kandungnya pak Ketut sendiri, untuk membantunya melatih Gilang agar bisa lebih mahir lagi atau istilah gaulnya, lebih "JOSS" lagi. Dan kini, di gedung Aula itu,mereka berempat berkumpul disitu.Sebelum Gilang memulai latihan, ia dan Ipenk mendapat sedikit pengarahan dari pak Ketut. Pak Heri berdiri di samping sambil memperhatikan mereka.


"Oke Lang...,sudah bisa kita mulai ? ", tanya pak Ketut.


Gilang tersentak kaget, ternyata dari tadi ia melamun.


" Bis...bisa pak ", ucap Gilang gugup.


" Lang, kamu baik - baik aja kan ? ", tanya pak Heri.


" Ah..ya pak, saya baik - baik saja".


"Kamu yakin Lang..?, apa kita tunda dulu latihan nya ? ", tanya pak Heri lagi.


" Jangan pak..., saya..., saya baik - baik aja pak.. ", ucap Gilang meyakinkan pak Heri. Tapi tidak dengan Ipenk, ia menatap Gilang dalam kegelisahan.Dan Ipenk tahu betul Gilang, karena ia sahabat karib nya. Ipenk pun mendekati Gilang dan pura - pura merapikan kerah baju Gilang.


" Kamu kenapa gelisah Lang..? , ada janjian sama siapa ? ", tanya Ipenk setengah berbisik. Gilang jadi kikuk, tapi ia tidak bisa berbohong sama Ipenk, karena mereka sudah sangat dekat.


" Iya nih Penk, aku bingung banget..", bisik Gilang.

__ADS_1


"Dhea ya..? ", tebak Ipenk. Gilang cuma mengangguk.


" Gimana Penk, ada solusi gak ? ".


" Waduh bro, lagi blank nih, momen nya engga tepat... " I have no choice " nih, aku engga ada pilihan bro", bisik Ipenk lesu, dan Gilang lebih lesu lagi.


"Oke...., kita sudah bisa mulai kan ? ", tanya pak Ketut. Ipenk pun pura - pura menepuk - nepuk baju Gilang, seolah ada kotoran yang menempel.


" Semangat bro... ", bisik Ipenk.


" Oke pak, kita bisa mulai sekarang.. ", sahut Ipenk.


Dan siang itu menjadi siang yang benar - benar menjemukan bagi Gilang, setiap break istirahat ia sesekali menanyakan waktu pada Ipenk. Dan rona gelisah di wajahnya tidak hilang sampai ia pulang. Ia pun memutuskan bahwa hari ini adalah hari sial nya, hari yang membosankan dalam hidupnya.


"De.... Dede... ".Seseorang mencoba membangunkan nya.


Dhea bangun pelan - pelan lalu mengucek - ucek matanya dan menatap orang yang memanggilnya.


" Omah..? ", panggil Dhea serak.


" Kok cucu Omah bobo disini sih..?, memangnya si Gilang nya sudah pulang ? ", tanya Omah. Dhea cuma tersenyum kecut, lalu menggeleng pelan.


" Gilang tidak kesini Omah, dia tidak datang.. ", ucap Dhea lesu, ada rona kecewa yang membias penuh diwajahnya, tapi ia berusaha tegar.

__ADS_1


" Aduuuuuuuuhh..., jadi cucu Omah ketiduran dari tadi di sofa ini. Padahal Omah dari tadi juga bolak - balik tapi kok engga lihat Dede ya?", ujar Omah. Dhea cuma diam.


" Ya sudah, kalau Dede masih ngantuk, tidur saja di kamar yah ? ".


Dhea cuma mengangguk lesu, ia pun berjalan ke kamarnya. Omah cuma menggeleng - gelengkan kepala, kasihan melihat Dhea.


Di balik pintu kamar, Dhea berusaha untuk tidak sedih, ia harus terbiasa dengan hal yang seperti ini, ia harus baik - baik saja.Ia adalah cewek yang kuat.


" Aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh kecewa, lagian ini cuma janji biasa, tidak ada yang istimewa. Lagiankan kami cuma teman biasa, tidak lebih. Dhea berusaha menahan air matanya agar tidak keluar, lalu menuju ranjangnya dan merebahkan tubuhnya pelan - pelan. Ia pun mengeluarkan handphone nya, dan di lihatnya, tapi..., tetap saja tidak ada panggilan masuk atau SMS yang masuk. Ia pun menghela nafas dan dari wajahnya terpancar kekecewaan yang dalam, walau sudah tegar tapi tetap saja masih berharap. Dhea pun memejamkan matanya, ia pun perlahan - lahan mulai tertidur.


Malam itu, waktu menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Dan terdengar suara gemercik air yang ternyata berasal dari air hujan yang mengguyur deras, membuat suasana di malam itu semakin terasa dingin.


Dhea keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah dengan handuk kecil, lalu berjalan menuju kamar tidurnya. Sebelum masuk,Omah sudah berpesan.


"Dede...., sebentar lagi makan malam yah.., Omah sudah masak sup ayam.. ".


" Iya Omah..! ", jawab Dhea sambil buru - buru masuk ke kamarnya. Tidak berapa lama, Dhea sudah keluar lagi dengan piyama nya yang bergambar Dora Emon dan menuju meja makan.


Di tempat Gilang, tidak jauh beda. Hujan yang turun begitu derasnya, sedari sore tadi, sekitar jam tiga'an. Tapi untung saja Gilang diantar pulang oleh pak Heri dengan mobil sedannya, sehingga Gilang tidak kehujanan.


Dan sekarang, Gilang bersama keluarganya sudah berada dimeja makan. Karena dari ia pulang tadi sampai sekarang, Gilang benar - benar tak berkutik, karena hujan yang mengguyur begitu deras, membuatnya tidak bisa ke rumah Dhea. Lalu ia mengecek handphone yang tertinggal di kasurnya. Ia benar - benar kaget, karena disitu ada dua puluh lima panggilan masuk. Dua panggilan dari pak Heri, tiga panggilan dari Ipenk, dan sisanya adalah dua puluh panggilan masuk atas nama Dhea. Gawat deh.


Dan Gilang pun buru - buru menghubungi Dhea, tapi sayang, terdengar suara dari operator bahwa telepon yang dituju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Di coba berkali - kali, tapi jawabannya tetap sama, Gilang pun melengos kesal, tubuhnya serasa lemas tak bertulang. Ia tahu, kalau Dhea pasti kecewa berat dan sengaja mematikan handphone nya. Dan Dhea pasti tidak mau mendengar semua alasan yang dikatakan oleh Gilang. Dan yang paling parah, Dhea pasti tidak mau menemui diri nya lagi. Segala pikiran berkecamuk dikepala nya Gilang dan pikiran itulah yang membawanya sampai ke meja makan. Disitu ia benar - benar membisu. Ibu dan bapaknya yang menatap heran pun saling berpandangan.

__ADS_1


__ADS_2