
Pagi - pagi sekali Gilang sudah bangun, pasalnya Gilang berencana untuk menjemput Ipenk dan berangkat ke kampus sama - sama.
"Hari ini kuliah Lang...? ", tanya ibunya sambil menyeduh kopi buat bapak.
"Hari ini masuk dong bu, soalnya kemarin Gilang sudah izin engga masuk satu hari, takutnya ketinggalan mata kuliah".
Gilang berjalan ke meja makan, di situ sudah ada bapak sama Lilis, tidak lama kemudian ibu menyusul dan duduk di samping Gilang.
" Itu motornya Ipenk jangan lupa dikembalikan",ujar ibu.
"Ini juga sekalian mau jemput Ipenk, terus ke kampus nya barengan", ucap Gilang sambil sibuk sarapan .
Selesai dengan sarapannya Gilang pun siap - siap untuk berangkat kuliah. Setengah jam kemudian Gilang sudah berada di jalan, yang padat dan macet, debu- debu beterbangan, pedagang - pedagang kaki lima yang sibuk menjajakan dagangannya. Angkot - angkot yang sedang mangkal menunggu penumpang. Para ojol yang sedang asyik ngobrol. Gilang mulai gelisah, ia pun berusaha mencari celah jalan yang bisa ia lewati supaya terhindar dari kemacetan. Ia pun melihat, beberapa pengendara motor yang berbelok dan masuk kesebuah jalan kecil. Sebelumnya Gilang hanya celingak - celinguk, dan pada akhirnya ia pun mengambil pilihan yang sama. Gilang pun mengikuti beberapa pengendara motor untuk melewati jalan kecil. Dan jalan kecil yang ia lewati sebenarnya tidak macet atau padat kendaraan, melainkan ramai dengan anak kecil dan ibu - ibu. Jalan yang kecil dan ramai itu, mau ngga mau membuat Gilang memperlambat laju motornya, dan sesekali tampak ia mendengus kesal. Dan setelah hampir setengah jam ia melewati jalan kecil itu, ia pun keluar dan sampai kesebuah ruas jalan yang lumayan besar. Gilang mengenali jalan itu, ternyata jalan itu adalah jalan menuju kearah pasar tempat ayahnya Gilang berjualan, lalu disamping pasar ada gang kecil yang menembus sampai ke rumah Ipenk. Dan Gilang pun berbelok dan menuju ke gang kecil itu. Lima belas menit kemudian, Gilang sudah memasuki kawasan perumahan Ipenk, sesampai di halaman depan rumahnya pun Ipenk masih belum terlihat, dan Gilang pun turun dari motor. Lalu hendak mengetuk pintu, tapi seseorang sudah membukakan pintu untuknya.
"Eh.... Assalammualaikum bu... ".
" Waalaikum salam Lang, tunggu sebentar ya , Ipenknya masih di kamar... ".
" Iya..., nggak apa bu, saya tunggu disini saja.
"Gilang mau minum apa...?, atau sarapan dulu yah di dalam bareng Ipenk... ".
" Iya, makasih bu, saya sudah sarapan kok dirumah... ".
" Minumnya.... ?".
" Ga usah bu..., tadi juga sudah minum banyak di rumah ", ujar Gilang sambil cengar - cengir.
"Kalau gitu ibu masuk dulu ya Lang".
" Iya bu... ".
Setelah ibunya Ipenk masuk, Gilang pun iseng - iseng mengeluarkan handphone nya. Ternyata handphonenya padam, mungkin baterei nya habis. Gilang pun beranjak masuk kerumahnya Ipenk.
" Penk ", panggil Gilang.
"Yuph..!, bentar lagi Lang !!, masuk dulu bro...!! ", teriak Ipenk dari kamarnya. Ibunya Ipenk yang sedang menyiapkan sarapan pun melihat Gilang dan berujar
" Masuk saja Lang, Ipenk lagi di kamarnya tuh... ".
" Iya bu.... ", ucap Gilang sambil tersenyum ramah.
Gilang masuk kedalam kamar Ipenk, ia pun melihat Ipenk yang sedang mengganti perban kakinya.
" Gimana keadaan kamu Penk...? ".
__ADS_1
" Udah lumayan baikan deh... ".
" Masih pakai perban...? ".
" Pakai aja deh, takut kena debu, soalnya belum begitu kering nih... ".
Gilang manggut - manggut.
"Eh Penk, pinjam cas handphone dong, handphone aku padam nih... ".
" Tuh, diatas meja... ".
Gilang pun mengambil cas handphone yang yang terletak di atas meja lalu mulai mencolok cas itu ke stop kontak yang terpasang didinding rumah dan kemudian Gilang menyalakan handphone nya. Setelah handphonenya nyala dan menampilkan ke layar utama, mata Gilang terbelalak kaget. Betapa tidak, dua puluh panggilan masuk dan lima belas pesan suara serta delapan belas pesan teks, cukup membuat jantung Gilang lepas dari tubuhnya. Ia mulai panik.
Lang...? ", panggil Ipenk ketika melihat ada yang tidak beres dengan Gilang,namun Gilang seperti ling - lung ia terlihat ingin bicara, tapi suaranya tidak terdengar , seperti hilang ditelan bumi.
" Lang..?, Gilang... ? ; kamu.., kamu kenapa Lang?", panggil Ipenk lagi dan kali ini, ia mulai panik. Gilang pun menunjukkan handphone nya ke Ipenk.
"Ah...,gila kamu Lang.., kirain ada apa.. ", ujar Ipenk sambil bernafas lega.
" Penk.., pu.., punya air minum ga..? ", tanya Gilang terbata - bata. "Teng...,tenggorokan..aku ..ke..kering banget.. ".
Ipenk pun buru - buru memberikan air putih untuk diminum oleh Gilang.
" Makanya Lang , punya handphone kaya engga punya handphone. Kadang - kadang ada masalah penting kita sampai engga tahu, kerabat, keluarga, bahkan teman pun dibikin kesel, gimana engga?, menghubungi ponsel kita, kaya lagi menghubungi artis yang super sibuk... ".
Nah ,kaya gini kan bikin kerjaan, alasan apa yang mau kamu jelaskan sama Dhea...? ", tanya Ipenk, dan Gilang hanya bisa geleng -geleng kepala.
" Gimana yah Penk...? ", ucap Gilang bingung.
" Jujur adalah kiasan yang tepat, jadi ngga usah aku jelasin lagi. Awas jangan sampai kamu berbohong...!!, jika kamu bohong...,Gilang, itu nantinya akan jadi kebiasaan kamu..!! ".
Gilang pun menganggukkan kepala.
" Thank's bro, udah ingatin aku".
Ipenk pun mengacungkan jempol(jempol tangan ,tapi bukan jempol kaki).
Setengah jam kemudian Gilang dan Ipenk sudah berada di lampu merah, mereka juga terjebak macet yang lumayan panjang. Sinar matahari yang terik di pagi ini membuat banyak pengendara motor yang mengeluh bahkan ada yang sampai berteduh, tidak terkecuali Gilang yang sedang membonceng Ipenk .
"Aturannya tadi kita jangan lewat sini, Penk... ", ucap Gilang sambil menyeka keringatnya yang segede jagung.
" Sebenarnya tadi ada jalan memutar yang lebih praktis cuma lebih jauh sampai ke kampus".
"Yah mendingan memutar jauh dari pada panas - panasan di lampu merah... ".
__ADS_1
" Iya juga sih", kata Ipenk sambil mencari - cari celah untuk berbelok, sebab jalan yang ingin mereka lalui sekarang sepertinya sudah tidak memungkinkan. Ipenk melihat ada sesuatu.
"Nah tuh dia... ", ujar Ipenk sambil menunjuk ke arah penjual es doger.
" Oh gang kecil yang ada di samping penjual es itu... ", tebak Gilang. Lalu ia pun berbelok, dan mengikuti beberapa orang yang masuk lewat gang kecil itu.
" Lang..., Lang..., stop Lang, beli es dulu dong, buru - buru banget nih, cuaca kaya gini, minum es sebentar deh... ".
Gilang pun menghentikan motornya, lalu mangkal di samping penjual es doger yang sedang berteduh di bawah sebuah pohon besar.
" Penk nanti pulang kuliah... ". Gilang tidak meneruskan kata - katanya, mulutnya malah di isi oleh es.
" Nanti kamu..., engga mau latihan lagi? ", tebak Ipenk. Gilang terdiam sejenak lalu mengangguk masih sambil menikmati es nya
" Kamu sudah mangkir latihan berapa kali Lang? ".
Gilang menggeleng.
" Jangan sering - sering deh Lang, ngga enak sama pak Heri... ".
Gilang pun diam. " Memangnya nanti sore ada ya Penk? ", ujar Gilang setelah berpikir lama.
" Mungkin... ".
" Kasih aku satu hari lagi yah Penk... ".
" Aku ngga tau Lang, alasan apa yang harus aku jelaskan ke pak Heri ? ".
Gilang pun terdiam kembali.
" Memangnya tadi pagi, Dhea ngambek lagi, sewaktu kamu engga angkat telponnya ? ".
" Masalah itu sudah aku jelasin tadi sama Dhea... ".
" Lalu....? ".
" Ak....aku sudah janji..., sama Dhea untuk temenin dia hari ini, itu sepulang kuliah Penk... ".
Kini giliran Ipenk yang terdiam. Lalu ia pun menatap Gilang.
" Ya sudah, kali ini aku akan bantu kamu, tapi Lang..., lain kali kamu harus bersikap profesional, karena ini menyangkut karir dan masa depan kamu... ".
Gilang mengangguk pelan.
" Makasih banyak Penk, kamu memang sahabat yang paling baik, yang paling ngertiin aku... ".
__ADS_1
" Oke...., sekarang kita berangkat deh.... ", ujar Ipenk sambil mengembalikan gelas dan membayar es nya untuk berdua.