
Gilang cuma diam, lalu ia berucap.
"Gilang minta maaf pak...bu...,Gilang salah, Gilang benar-benar ga berguna, sudah menyusahkan bapak dan ibu.Gilang sudah bikin khawatir bapak sama ibu".
Gilang pun tertunduk sedih. Ia baru sadar kalau sikapnya selama ini membuat orang tuanya begitu khawatir. Dan ia ga menyangka kalau sikapnya juga ternyata telah menyusahkan kedua orang tuanya.
"Gilang memang bukan anak yang baik bu".
" Sudah lah, Gilang jangan ngomong begitu.Kalian berdua adalah anak ibu yang baik.Dan kalian berdua tidak pernah menyusahkan ibu sama bapak. Iya toh pak ? ", tanya ibu pada bapak tiba-tiba. Bapak jadi gelagapan.
" Ap...apa nya yang tidak menyusahkan..? ".
Ibu melotot ke bapak.
" Aaaaaahhh....iya... Iya.., kalian berdua memang....,memang anak yang baik..ha..ha...bapak jadi lupa".
"Gimana sih bapak, gini aja kok bisa lupa ?".
Ibu mendelik. Bapak pun misuh-misuh.
" Ya udah, sekarang semuanya sudah berlalu. Dan yang penting Gilang sudah kembali kesemula. Kembali ke saat-saat Gilang yang periang dan gembira.. ", hibur ibunya sambil mengusap sepercik air mata yang membasahi matanya.
"Oh ya Lang, kamu jangan menyalahkan Dhea ya.Dhea anak yang baik,kasihan....dia engga tahu apa-apa, jangan memojokkan dirinya".
Gilang menatap ibunya dalam-dalam,akhirnya ia mengangguk dan tersenyum.
" Gilang mengerti bu.. ".
" Hem, baiklah kalau begitu. Sekarang pergilah, ...temui dirinya".
"Ibu nya juga tersenyum.Lalu Gilang memeluk ibu nya. Ada rona haru di wajah Gilang.
"Gilang sayang banget sama ibu.....makasih udah mau ngertiin Gilang, bu....., Gilang bangga sekali sama ibu... ".
Bapak nya Gilang cuma misuh-misuh.
"Ehmmmm...,ada yang di kacangin nih..., hahhh..ga di sayang juga ga apa, yang penting seneeeeng aja...".
__ADS_1
Gilang dan ibu menengok ke arah bapak, lalu mereka berdua tersenyum geli.Setelah itu Gilang berpamitan. Bapak sama ibunya Gilang tersenyum lega, karena Gilang yang selama ini selalu murung sudah bisa tersenyum kembali. Gilang sudah kembali ke seperti waktu ia masih kecil, Gilang yang periang.
Di tengah jalan, Gilang yang sedang asyik bersiul, tiba-tiba di kagetkan oleh sebuah mobil sedan berwarna hitam metalik yang menhampirinya. Lalu jendela mobil itu terbuka.
"Gilang yah ? ", sahut orang yang berada di dalam mobil sedan itu. Gilangpun menengok. "Pak Heri..?, ujar Gilang sedikit kaget.
"Ah kebetulan sekali Lang, ketemu kamu disini".
"Bapak...., bapak mencari saya ? ".
"Iya...baru saja saya menghubungi temanmu, Ipeng, soalnya tadi saya menghubungi handphone mu,Tapi ga ada yang ngangkat.
" Waduuuuhhh...", Gilang menepuk dahinya, ia baru sadar kalau ia lupa membawa handphone dan handphone nya itu tertinggal didalam kamar. "Gimana ya sekarang? ".Batinnya.
" Oh iya Lang, dan kebetulan juga, hari ini saya ingin melihat sampai sejauh mana kamu berlatih. Karena kita juga lagi ngejar, biar kita bisa pesan tempatnya sebelum penuh. Soalnya banyak juga yang mau menyewa tempat itu.Dan mudah-mudahan kita bisa dapat gedung yang lumayan bagus untuk penampilan awalmu, gimana? ".
Lalu pak Heri membuka pintu sampingnya.
Gilang terdiam sejenak, ia tampak bingung.
" Lang..?, apa kita sudah bisa berangkat sekarang..? ", tanya pak Heri memecah lamunan Gilang.
" Ah...eh...iya..., bisa..bisa pak.. ".Gilang gelagapan. Sesaat ia tampak ragu,dan akhirnya Gilang masuk juga ke dalam mobilnya pak Heri. Tidak berapa lama, mobilnya pak Heri pun sudah melesat pergi meninggalkan kepulan debu yang berterbangan.
Di dalam mobilnya pak Heri, Gilang hanya bisa memandang kosong keluar jendela, kepalanya serasa mau pecah. Ia jadi seperti orang paling bodoh sedunia. Kini ia benar-benar merasakan dilema yang tidak seharusnya muncul, dan Gilang bingung, apa yang harus ia jelaskan pada Dhea nantinya. Dan seolah-olah ia seperti ingkar janji, atau bahkan dianggap balas dendam oleh Dhea. Ya Tuhan, kasihan sekali Gilang. Ia pun jadi gelisah seiring deru mobil yang melesat kencang menuju kampus nya Gilang.
Di lain sisi, waktu menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Dan saat itu, Dhea sudah kelihatan rapi, walaupun tampil apa adanya, hanya dengan kaos oblong warna biru cerah, secerah hatinya hari ini, dipadu celana jeans belel, Dhea pun tetap kelihatan cantik dengan rambut dibiarkan terurai kebawah dan poninya yang rata membuatnya tetap anggun. Hari ini Dhea begitu bersemangat sampai-sampai Omah merasa dicuekin.
"Omah dikacangin nih.. ", ucap Omah sambil pura-pura batuk. Dhea cuma tersenyum.
" Enggalah Omah, Dhea cuma gugup nih Omah, campur senang sih", ujar Dhea sambil merangkul Omahnya dari belakang. Omah jadi penasaran.
"Memangnya ada apaan sih ? ".
"Coba Omah tebak, ada apa hayoooo..? ".
Omah memandang Dhea sebentar dan tersenyum, lalu kembali menggunting daun-daun yang sudah mulai layu dan mengering.
__ADS_1
"Hem..., paling juga Dede lagi ada janjian sama seseorang.
" Yaaaaaaahh...., kok Omah tau sih, curang Omah".
"Memangnya Omah engga pernah muda ? ,lagian Dede lagi ada janjian sama siapa ?".
" Nah...sama siapa, hayooo..? ".
" Hem..sama siapa yah..? , Dede kan lama di Belanda. Masih kecil..,Dede sudah tinggal disitu, engga mungkin dong dapat teman secepat itu disini.., hem..siapa yah kira-kira ?".
"Hayooo....siapa Omah ?, Omah nyerah..? ".
" Tunggu..!!, potong Omah cepat. "Sepertinya Omah teringat dengan seseorang.., kalau tidak salah, anak itu yang tinggal diperumahan Candi Indah ya ? ".
Dhea pura-pura berpikir.
" Hem.., memangnya Omah yakin orang itu..?".
"Dede...,teman Dede itu, setahu Omah yah cuma dia yang paling akrab sama Dede, yang sering main bareng Dede".
" Aduuuuuhhh....yang mana Omah..? kok Dhea jadi lupa sih.. ", ujar Dhea sambil pura-pura berpikir lagi.
" Itu lho De....., anak kecil yang tampangnya agak-agak culun itu, yang rambutnya kaya mangkok ", celetuk Omah asal. Sambil membayangkan sesuatu. Dan kata-katanya terakhir itu membuat tertawa geli.
" Iiiihhhh .. Omah...masa culun sihhh..?!. ", protes Dhea sambil cemberut manja, mulutnya dimanyun-manyunin. Omah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Dhea.
" Tapi anak itu imut juga sih ", ujar Omah sambil mengusap air matanya karena tertawa
melebihi dosis. Dhea ikut cekikikan.
" Naaahhh..!!, kalau yang itu baru bener Omaahh.. ".
Omah cuma tersenyum geli.
" Hem...oh iya..,nama anak itu siapa yah..? ", tanya Omah.
" Siapa yah Omah..? ", tanya Dhea balik.
__ADS_1