
"Syukur deh Penk......,akhirnya .... ", ujar Gilang sambil bernafas lega. Ipenk pun menonjok bahunya Gilang.
" Kali ini kamu bisa lolos bro, tapi lain kali kayanya agak susah.... ", ujar Ipenk sambil tersenyum. Gilang pun terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Sudah...,sana ...,lakukan tugasmu, nanti ada yang menunggu kelamaan...!! ", tukas Ipenk memecahkan lamunan Gilang.
" Oke...thank's banget bro..!!, kalau begitu aku pergi dulu Penk, mungkin nanti malam aku kesini lagi ".
"Jangan lupa bawain makanan juga..!! ", ujar Ipenk sambil cekikikan.
" Martabak telor mau..?!! ", tanya Gilang.
" Boseeen....ah!!, yang lain kek..., roti bakar deh kayanya enak...!!, tapi pesan sama orang nya, bakarnya pakai arang jangan pakai kemenyan !! ".
" Ih....horor ah.....!!, stress kamu Penk..!! ", celetuk Gilang.
Ipenk pun tertawa terbahak - bahak.
" Oh iya Lang, motor aku dimana? ", tanya Ipenk.
" Lho tadi katanya minta di titipin dulu...".
" Eh iya... ya..., jadi lupa... ", tukas Ipenk sambil cengengesan... " Masih bisa di pakai ngga Lang? ",. " kayanya sih masih bisa.... "..
" Nanti coba kamu ke sana sebentar, kalau masih bisa dipakai kamu pakai aja. Biar ke rumah Dhea nya ngga makan waktu".
" Iya Penk aku ngerti, makasih banyak deh bro, aku pergi dulu ya", pamit Gilang. "Eh tapi Penk, kamu mau aku bantuin sampai ke dalam rumah ga? ", tanya Gilang sambil memegang Ipenk.
__ADS_1
" Ga apa deh bro, kamu pergi saja sudah di tungguin sama Dhea tuh.... ".
" Kamu yakin Penk? ".
" Iya, nanti aku bisa sendiri kok".
" Oke deh kalau gitu, aku berangkat dulu ya.!! ", ujar Gilang buru- buru.
" Yuph.., hati - hati bro... ".
Gilang pun tidak menunggu lagi. Setelah melambaikan tangannya kepada Ipenk ia pun langsung melangkah pergi dari situ, sambil tertawa kecil.
Setelah Gilang menghilang di tikungan jalan, Ipenk pun berjalan masuk kedalam rumah sambil terseok - seok. Ibunya yang hendak menjemur pakaian jadi tersentak kaget.
"I... Ipenk?!!...ka... Kamu Kenapa penk!! ", kok jadi seperti itu?! ", teriak ibunya Ipenk panik.
" Lagian penk, kamu itu ada - ada saja, acara karnaval tujuh belas agustus kan sudah lewat, ngapain juga kamu masih di " make over" kaya gitu ? ", celoteh ibunya asal.
Ipenk pun melongo ke ibunya.
Saat ini Gilang sudah berada di tengah jalan, ia mengendarai motornya Ipenk, melaju dengan pasti dan penuh semangat tapi sayang, ternyata motor itu mengalami sedikit kerusakan di bagian ban belakang, bisa saja motor itu jalan tapi sedikit imbal, jadinya motor itu meliuk kekanan dan kekiri membuat lajunya tidak bisa cepat. Gilang cuma bisa mendengus kesal. Mau tidak mau, motor itu harus masuk pit stop alias masuk bengkel.
" Sial banget..!! ", rutuk Gilang kesal.
Kini ia sedang duduk di bengkel yang ada didekat pasar. Sambil menunggu mekaniknya mengotak - atik ban belakangnya , Gilang pun mengeluarkan handphone.Lalu di lihat bagian menunya, ia pun kaget, karena ada lima SMS di aplikasi WhatsApp nya. Dari Dhea semua, ia pun buru - buru membukanya, lalu di baca satu persatu.
" Lang , lagi dimana kamu? ".
__ADS_1
" Jangan lupa jajannya ya.. ".
"Masih lama ngga Lang? ".
" Masih di tempatnya Ipenk ya...?
"Gilaaaang..!!, kok lama banget sih ? ".
Banyak juga emoji yang dikirimkan Dhea, dari emoji marah sampai emoji sedih. Gilang jadi panik dan gelisah, ingin sekali ia balas SMS itu, tapi ia jadi ragu, apa yang mau ia katakan, dan alasan apa yang akan ia berikan. Lebih baik ia jelaskan semuanya bila sudah bertemu Dhea nanti, jadinya ia membalas SMS dhea sekenanya saja.
" Iya, aku sudah OTW, sebentar lagi yah... ".
Gilang menunggu sebentar, tapi tidak ada balasan, juga SMS belum ada tanda di baca, karena ....,mungkin saja Dhea sedang tidur.
" Aduuuh...,kasus lagi.... , selalu saja bermasalah...., kenapa yah...? Apa itu tanda...., ah engga...., engga mungkin deh.... ",gumam Gilang pada dirinya sendiri. Gilang pun melamun di bengkel sambil menunggu motornya diperbaiki, maksudnya motor si Ipenk. Pikirannya tiba - tiba kacau balau. Tidak lama kemudian, motornya sudah selesai diperbaiki. Dengan lesu Gilang mendorong keluar dari bengkel kemudian motor itupun di starter. Setelah itu Gilang pun pergi mencari martabak telor titipan dhea. Dan dalam sekejap ia sudah mendapatkannya. Gilang juga sebentar - sebentar mengecek handphonenya dan itu semakin membuatnya gelisah. Gilang menggerutu sepanjang jalan. Wajahnya menunjukkan rona kekecewaan. Entah ada apa yang salah pada dirinya. Ingin rasanya ia berteriak keras, tapi takut dibilang gila oleh orang - orang disitu. Dan tak terasa, lamunan Gilang membawanya sampai ke depan pintu gerbang sebuah rumah besar dengan desainan bangunan model - model zaman Belanda dulu. Gilang pun celingak - celinguk mencari bel rumah itu . Setelah menemukan bel itu , Gilang pun menekannya dua kali, dan tiba - tiba terdengar suara anjing menggonggong di sekelilingnya, Gilang pun tersentak kaget dan melompat mundur, setelah itu iapun berlari kencang kearah sebuah pohon dan bersembunyi di belakang situ. Gilang pun sesekali mengintip kearah rumah Dhea,tapi sesuatu yang menggonggong itu tidak tampak disitu.
" Dimana anjing itu, kenapa tidak terlihat oleh mata? ", tanya Gilang dalam hati sambil menengok kekanan dan kekiri layaknya maling jemuran. Iapun perlahan - lahan berjalan ke pintu gerbang itu lagi. Lalu dengan perasaan was - was ia memencet bel itu dan suara itu muncul lagi, Gilang pun kaget, tapi kali ini ia agak lebih berani. Dan ternyata benar juga itu bukan suara binatang beneran, tapi suara itu datangnya dari mesin bel yang berbunyi jika di tekan . Dan bukan tanpa alasan jika keluarganya Dhea memasang alat seperti itu, dikarenakan untuk menghindari bel nya itu dari tangan - tangan jahil. Makanya jika bel itu di tekan dari luar , akan mengeluarkan suara gonggongan anjing dan suara itu betul - betul seperti nyata, dan jika kita mendengarkannya dari dalam rumah, suara yang terdengar adalah suara yang biasa - biasa saja umumnya bel - bel yang pernah kita dengar.
" Asem, aku di kerjain oleh mesin ini, benar - benar memalukan.... ", rutuk Gilang pelan.
" Aduh mana lagi tuh anak ?, jangan- jangan memang benar ketiduran... ".
Gilang mencoba menerobos kan pandangannya sampai ke jendela rumah Dhea. Tapi.
" Ga ada tanda - tandanya, apa jangan - jangan Dhea nya ngambek yah ?", ucap Gilang pelan sambil memandang martabak telor yang dipegangnya sedari tadi, lalu Gilang pun berbicara dengan martabak telor yang dipegangnya.
"Dhea.., maaf yah, bukan maksudku ingin membohongi mu, tapi entah kenapa setiap aku ingin bertemu denganmu, selalu saja ada halangan, selalu saja ada kendala yang muncul dengan tiba - tiba. Apakah aku tidak boleh menemui mu ?, apakah aku tidak boleh bersama mu ?", ucap Gilang sendu, biar kaya yang di sinetron - sinetron.
__ADS_1
" Aku sedih Dhea, aku benar - benar sedih.., kita ini bagaikan Romeo and Juliet.., cinta yang tidak kesampaian, rasa yang terpisah oleh... ".