
"Lang, tadi Omah suruh Dhea mampir sebentar ke tempat paman nya Dhea ", tukas Dhea ketika motor Gilang sudah melaju meninggalkan komplek rumahnya.
" Oh ya, kira - kira kapan mau kesana ?".
"Ya tunggu kamu habis selesai latihan ".
" Hem...,emang ada apa Dhe..? ".
" Paman Dhea rencananya akan keluar kota besok pagi, nah...., terus.., Dhea disuruh bantu - bantu ditempat kerjanya. Gantiin paman Dhea sementara, paling cuma satu - dua hari..., Lang.. ".
" Ooohh.., oke deh, nanti Dhea kasih tau alamatnya, selesai latihan kita langsung kesana sebentar. Soalnya kita masih ada undangan dari mas Eki ".
" Emang cafe nya buka hari ini Lang..? ".
" Kalau cafe sih cuma perubahan Dhe, soalnya kedai itu sudah buka cukup lama.
"Dulunya kan kedai minuman, tapi tetap saja mau di ganti sama mas Eki,dan di ubah jadi mini cafe.
" Oh..., yang hari itu kamu beli minumannya itu yah ?, yang boba nya enak itu kan ? ".
" Iya...,yang BociL Boba itu ".
" Kalau diganti, apa minuman boba nya masih ada Lang ?, sayang kalau udah ga ada, padahal kan enak".
"Kayanya sih masih ada. Kopi itu cuma menu tambahan aja ".
" Ooooh.. ".
Ketika motor mereka melewati pos penjagaan. Memet sudah berdiri didepan pos sambil tersenyum.
" Nah, tuh dia anaknya", ujar Gilang sambil menunjuk ke arah Memet, Dhea cuma melotot. Motor Gilang pun berhenti di depan pos penjagaan, Dhea pun turun dari motor, sedangkan Memet nyengir kuda.
"Ya ampun Meeet..!!, ini beneran kamu Met?!", sahut Dhea masih melotot lalu tertawa lepas. Gilang cuma cengengesan.
" Memangnya kamu pikir aku siapa ?".
Dhea pun memandang Memet dari kaki sampai kepala.
__ADS_1
" Astaga, beneran ini Memet, tapi dulu ngga segendut gini !. Gila..!, pasti Memet makannya kenceng nih!! ".
" Ih...enak aja !, memang posturnya kaya gitu sih", tukas Memet sambil tertawa ngakak.
"Ya udah Met, nanti kalau ada waktu main ke rumah Dhea ya, kita ngobrol - ngobrol, lagian udah lama ngga ketemu. Sekarang Dhea mau ke kampusnya Gilang nih, jagoannya mau latihan biola", ucap Dhea sambil tertawa geli. Gilang cuma melotot, Memet tertawa ngakak.
" Oke deh..., kalau ada waktu senggang, Memet main deh kerumahnya Dhea".
"Ya deh...., kalau gitu...,.kita berangkat dulu ya Met", ujar Dhea sambil naik ke atas motornya Gilang.
" Kita mau "go !!,dulu Met, udah di tungguin nih !! ", ujar Gilang.
" Ya deh, hati - hati yaj ! ", ujar Memet sambil melambaikan tangannya.
Gilang dan Dhea pun membalas lambaian memet, lalu memacu motornya pergi dari situ.
Memet cuma memandang Gilang dan Dhea yang sudah melaju semakin jauh, lalu ia pun geleng - geleng kepala sambil tersenyum dan masuk ke dalam pos penjagaan.
Hampir satu jam, mereka berada di jalan, dan kini motor Gilang sudah memasuki gerbang kampusnya Gilang dan sesaat kemudian mereka berdua pun sudah di dalam tempat parkiran. Dhea turun dari motornya setelah itu Gilang memarkirkan motornya. Lalu mereka berdua sudah terlihat berjalan di koridor dan berjalan melewati ruang seni. Tapi disitu tidak ada Ipenk maupun pak Ketut. Namun Gilang melihat mobil pak Heri di tempat parkir.
Setelah itu mereka berdua memasuki ruang aula.
" Om Heri...?! ", panggil Dhea sambil mengernyitkan dahi lalu tersenyum.
" Lho.., Dhea?, kamu kapan pulang?, papa kamu ikut pulang? ", ujar pak Heri sambil tersenyum. Gilang dan Ipenk cuma melongo, sedangkan pak Ketut cuma memandang Dhea lalu ikut tersenyum.
" Kamu kenal pak Heri ....,Dhe? ", tanya Gilang.
" Om Heri?, dia itu teman baik papa ! ", sahut Dhea bersemangat. Pak Heri pun tersenyum pada Gilang.
" Kalau pak Heri teman baik papa kamu , berarti...., papa kamu.., pasti kenal juga sama papanya Ipenk, soalnya pak Hari juga kenal baik sama papanya Ipenk", ujar Gilang sambil menunjuk ke arah Ipenk.
"Yang Dhea tahu, ini yang pernah di ceritain papa itu cuma Om Hari sama Om Danu, mereka yang sering main ke rumah", tutur Dhea.
" Om Danu?, maksudnya pak Danuar?, kalau yang di maksud itu pak Danuar berarti benar, itu papanya Ipenk.
Dhea dam Ipenk pun saling berpandangan, lalu mereka berdua pun tersenyum geli.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Gilang pun sudah terlihat latihan dengan serius, ia pun tampak begitu bersemangat, apalagi kalau bukan karena Dhea yang berada disitu. Coba saja seandainya Dhea tidak ikut, mungkin ia sudah loyo. Sedangkan Dhea, ia terlihat sedang asyik mengobrol dengan pak Heri dan Ipenk. Namun sesekali pandangannya mengarah ke Gilang. Dan Gilang yang merasa diperhatikan cuma bisa tersenyum. Sesaat kemudian, terlihat Gilang sedang minum sambil mendengar pengarahan dari pak Ketut yang sambil sesekali memperagakan tehnik menggesek biola yang lentur, dan Gilang pun mengangguk - angguk paham.
Gilang pun mencoba memainkan sebuah titel dari Vanessa Mae yang berjudul "STORM ", dan ini akan ia mainkan nanti diacara peresmian cafe baru nya mas Eki. Gilang memang sudah mahir bermain biola, tapi ia masih perlu sentuhan - sentuhan atau polesan lagi dari pak Ketut untuk menjadi seorang maestro, inilah impian Gilang. Semua gerakan Gilang pun terekspos dengan begitu lentur dan meliuk - liuk seperti gerakan Vanessa Mae. Wajah Gilang begitu serius sehingga membuat Dhea benar - benar kagum dengan permainan biola dari Gilang, sungguh menghibur. Dhea pun sesekali memperlihatkan kekagumannya dengan bertepuk tangan riuh, matanya pun berbinar - binar. Kemudian Dhea berjalan ke arah Gilang setelah latihan selesai, ia pun meminta Gilang mengajarinya sedikit cara bermain biola. Tapi Dhea selalu mengeluh karena ia terlalu kaku.
"Ah..., susah banget sih Lang ! ", sahut Dhea kesal.
" Yahh..., semua pemula memang masih belum terbiasa dan agak susah memegang senar nya", tutur Gilang. "Kalau sering - sering latihan maka akan terbiasa nanti nya".
" Udah ah !!, Dhea engga bisa Lang, susah banget !!! ".
" Hem..,oke deh lain kali baru Gilang ajarin lagi, sekarang kita harus ke tempatnya mas Eki.
Ipenk sudah menunggu mereka sedari tadi, karena pak Heri dan pak Ketut memang sudah pergi dari tadi.
"Gimana...?", tanya Ipenk. " Sudah bisa belum ? ".
" Aduh..!, engga tau deh Penk, susah banget ", ujar Dhea.
" Yah.., pelan - pelan saja, sering latihan terus, lama - lama juga bisa", hibur Ipenk. Gilang cuma tersenyum.
"Oke deh.., kita berangkat sekarang ? ", tanya Gilang.
" Kamu anterin Dhea dulu deh Lang, aku nya terakhiran ", ujar Ipenk.
" Ya sudah, tunggu sebentar ya Penk, nanti aku balik lagi. Ga apa kan Dhe, aku nganterin Dhea dulu kesana? ", tanya Gilang ke Dhea.
Dhea pun mengangguk setuju.
" Tapi disitu ada temennya kan Lang ? ".
" Ada dong, nanti aku kenalin sama Ice, biar Dhea bisa ngobrol sama Ice".
"Tapi jangan lama - lama yah Lang ".
" Yuph..., ayo kita berangkat.. ", ajak Gilang ke Dhea.
" Kami duluan yah Penk ", sahut Gilang sambil melambaikan tangan, Ipenk pun membalas.
__ADS_1
" Hati - hati Lang !!!! ", sahut Ipenk .