Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).

Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).
Bab 11 : Aku Jatuh Cinta, Lang !


__ADS_3

"Kamu kenapa lagi Lang ?, bertengkar sama Dhea yah ? ", tanya ibunya, Gilang cuma diam, lalu ia menggeleng.


" Gilang tidak jadi ketemu Dhea bu ", ucap Gilang tak bersemangat. Ibu dan bapak jadi heran.


" Lho kok bisa ?, memangnya kamu belok ke mana Lang ?, apa kamu nyasar ? ", tanya bapaknya sambil garuk - garuk kepalanya yang jelas - jelas tidak gatal.


" Atau kamu sudah lupa alamat rumahnya Dhea ? ", timpal ibu nya. Gilang tetap saja menggeleng. Adiknya cuma menatap heran lalu kembali menyuapkan sisa nasi goreng ke mulutnya.


" Lalu apa yang kamu lakukan seharian ini ? ", tanya ibu nya heran.


" Gilang bertemu dengan pak Heri tadi, ditengah jalan..., jadi.. ".Gilang terdiam sesaat.


" Jadi...? ", tunggu bapak sama ibu.


" Jadinya Gilang batal ke rumah Dhea, soalnya rpak Heri mengajak Gilang ke kampus untuk melihat latihan Gilang sudah sejauh mana".


"Lalu...? ".


" Yahh..., pak Heri ingin secepatnya mengadakan pertunjukan musik itu sebelum gedungnya disewa sama orang lain ".


"Memangnya acara pertunjukan itu benar - benar akan disiarkan di televisi ? ", tanya bapak.


Lalu Gilang pun bercerita tentang kegiatannya itu kepada bapak tapi Gilang seperti tidak bersemangat. Padahal jauh - jauh hari sebelumnya, Gilang begitu antusias bila ada yang menanyakan hal - hal yang menyangkut tentang hoby dan kesenangannya. Apalagi tentang biola. Dan Gilang selalu bersemangat bila sedang latihan. Bahkan dengan tidak sabar ia menunggu sampai hari nya pertunjukan itu. Ipenk saja sampai bosan di tanyai terus oleh Gilang yang setiap hari menunggu kabar dari pak Heri.


Tapi sekarang, entah kenapa dengan sekarang, Gilang jadi kurang fokus. Sejak kehadiran Dhea kembali, Gilang jadi terpecah fokusnya, ia seperti sedang dilema. Entah harus memilih yang mana yang harus di utamakan,latihan untuk pertunjukannya nanti atau teman bermain masa kecilnya. Semuanya di ambang kebimbangan. Semuanya bikin Gilang jadi pusing, dan membuatnya lebih banyak melamun.


"Sudah, Lang...makan dulu..", tegur ibu nya. " Besok kan hari minggu, kamu main saja kesitu sambil bawain oleh - oleh, atau makanan kesukaannya Dhea ", bujuk ibu nya, bapak cuma mengangguk. Gilang pun mengiyakan dan mulai makan.


Di lain sisi, Dhea sedang makan malam bersama Omah nya. Dhea tampak murung, apalagi tidak ada penjelasan dari Gilang sedikit pun tentang apa yang terjadi hari ini.


Dhea jadi tak bergairah, entah kenapa ia jadi lemas, seperti kehilangan raga. Nasi yang ada di depannya cuma buat mainan, sendok nya di putar - putar, sedangkan orang nya melamun manyun. Omah jadi bingung, lihat Dhea seperti ini.Sedih juga sih, lihat cucunya jadi tak bersemangat hidup.

__ADS_1


"Dede......, Dede makan dulu yuk... ".


Dhea cuma diam saja.


" Kalau Dede engga makan, nanti Dede bisa sakit ".


Akhirnya Dhea mau tersenyum walau terasa hambar. Tapi Dhea juga engga mau Omah jadi khawatir, soalnya Omah kan juga lagi sakit.


Jadinya Dhea langsung saja makan meskipun dengan terpaksa. Omah pun tersenyum lega, akhirnya Dhea mau makan juga. Dan setiap suapan nasi yang masuk semuanya tidak berasa. Bukan karena Omah masaknya engga enak, tapi nafsu makan Dhea yang lagi ga ada, ga ada mood. Omah pingin banget bicarain masalah itu, tapi Omah jadi mengurungkan niat nya, itu karena Dhea nya lagi mau makan, mungkin setelah selesai makan baru Omah akan membahasnya. Setelah menyendoki suapan terakhir juga diiringi nafas lega, Dhea pun mengambil gelas yang berisi air putih lalu meneguk nya sampai habis. Ia pun menyandarkan diri perlahan - lahan pada kursi nya dan mulai menerawang.Omah pun memulai percakapan dengan hati - hati.


"Emm..De..., Omah boleh tahu ga, apa yang terjadi tadi siang ? ".


Dhea cuma memandang Omah, lalu tersenyum.


" Ga ada apa - apa Omah.. ".


" Dede yakin ?, tanya Omah memastikan.


"Iya Omah..., I'm fine (aku baik - baik saja).


Dhea cuma diam, lalu menggeleng sambil tersenyum kaku.


" Kenapa bisa begitu ? , apa Gilang juga tidak menghubungi handphone nya Dede ? ".


Dhea tetap saja menggeleng lalu tertunduk. Omah jadi kasihan lihat Dhea seperti itu. Dan Omah pun mulai paham apa yang telah terjadi dengan cucu nya itu. Dengan hati - hati, lalu Omah bertanya pada Dhea.


" Dede sayang...sama Gilang..? ".


Dhea yang ditanya Omah tetap diam tertunduk.


" Atau jangan - jangan..... ", batin Omah.

__ADS_1


" Dede....cinta ya sama Gilang ? ".


Dhea perlahan - lahan menengadahkan kepalanya dan memandang Omah dalam - dalam, matanya mulai berkaca - kaca, lalu ia mengangguk pelan. Omah pun tersenyum.


" Rupanya cucu Omah sedang jatuh cinta.. ", ucap Omah masih tetap tersenyum, Dhea pun berjalan ke arah Omah, lalu duduk di samping Omah. Dhea pun merebahkan kepalanya berbaring di pangkuan Omah sambil menangis terisak - isak. Omah membelai lembut rambut Dhea dengan penuh kasih sayang.


" Kalau Dede memang sayang sama Gilang, kalau Dede suka sama Gilang, kenapa tidak Dede ungkapin saja ke Gilang ? ", ucap Omah lembut.


" Omaaaahh..., masa harus Dhea dulu sih..?", tanya Dhea masih tetap terisak, lalu Dhea bangun dan duduk menghadap Omah.


"Dede...", ucap Omah pelan. " Cinta itu boleh di ungkapin oleh siapa pun, tidak harus cowok, tidak harus cewek, siapapun boleh duluan. Jangan gengsi. Itu wajar dan tidak akan menjatuhkan martabat atau pun harga diri orang itu. Karena cinta itu indah, jadi siapa pun boleh mengungkapkan nya. Dan jika itu di pendam hanya akan menyiksa diri kita sendiri. Dan omah sudah pernah merasakan itu", ucap omah sambil mengusap air mata Dhea, yang sudah membasahi pipinya.


" Tapi Omah.... ", sejenak Dhea ragu. Omah menunggu.


" Tapi apa Dhe....? ", Omah penasaran.


" Tapi tadi gilang tidak datang Omah, apa Gilang masih marah sama Dhea, apa Gilang hanya ingin balas dendam sama Dhea....? ", ujar Dhea sedih.


" Jangan berpikir yang bukan - bukan, mungkin Gilang lagi ada masalah", ujar Omah menenangkan Dhea.


" Terus kenapa gilang tidak mengangkat telepon saat Dhea menghubunginya, Omah....? ", tanya Dhea masih belum puas dengan penjelasan Omah.


" Bisa jadi saatnya tidak tepat untuk mengangkat telepon dari Dhea... ".Omah berusaha menyakinkan Dhea supaya bisa tenang.


" Gitu yah, Omah? ", tanya Dhea lagi. Omah cuma mengangguk dan tersenyum lembut.


" Makasih banyak Omah.. " ucap Dhea sambil memeluk Omah. Pikirannya sudah lebih tenang. Omah pun membelai rambut Dhea dengan lembut.


"Dhea sayaaaaang banget sama Omah", ucap Dhea sambil mengusap air matanya yang masih menetes.


" Omah juga saaaayang banget sama Dede", ucap Omah pelan sambil mengusap matanya yang sedikit berkaca - kaca, karena Omah teringat sesuatu. Sesuatu yang belum kita ketahui, begitu juga Dhea.

__ADS_1


"Omah.., Dhea minta maaf yah, karena sudah melibatkan Omah ke dalam masalah ini, jadinya Omah ikut -ikutan sedih.. ".


" Ga apa De....., Dede jangan ngomong seperti itu..., Dede kan cucu Omah, jadi sudah sepatutnya Omah ikut merasakan apa yang Dede rasakan. Dhea makin terharu, ia pun memeluk Omah erat - erat.


__ADS_2