
Tidak berapa lama, terlihat Gilang yang berlari mengejar Dhea, dan ketika mereka melewati pos penjagaan, kedua orang security itu cuma bengong melihat Gilang dan Dhea kejar- kejaran. Sesaat kemudian Gilang sudah mencapai depan pintu pagar rumah Dhea, dan ternyata Dhea sudah masuk kedalam rumahnya. Gilang sampai kewalahan lalu ia berusaha mengatur nafasnya yang naik turun. Cepat juga itu anak lari, gumam Gilang dalam hati. Gilang menunggu sesaat, tapi tetap sunyi. Tidak ada tanda - tanda kalau Dhea akan keluar lagi. Tapi Gilang mencoba untuk bertahan disitu. Sejenak ia merenung dalam - dalam dan memutuskan, biarlah malam ini Dhea beristirahat, biarlah malam ini Dhea menenangkan pikirannya, mungkin esok hari dia akan lebih baik. Akhirnya Gilang berbalik dan melangkah pergi dari rumah Dhea. Diam - diam ternyata Dhea mengintip dari balik jendela rumahnya. Ia melihat Gilang berjalan pergi dengan lesu.
" Maafin aku Lang, aku belum bisa melupakan kesalahan aku. Mungkin aku belum siap untuk memaafkan diriku sendiri. Lalu Dhea menunduk sedih sambil menghapus air matanya. Omah memandang Dhea dari samping kamarnya. Ternyata Omah sudah berdiri lama disitu, tepatnya sejak Dhea berdiri dekat jendela rumah. Lalu Omah berujar pelan, kepada Dhea.
" Dede....,kenapa Gilang nya ga disuruh mampir saja sebentar? ".
Dhea jadi kaget mendengar suara Omah dari belakang. Ia pun buru - buru menyeka pipinya yang masih basah karena air matanya. Lalu berusaha menguasai keadaan supaya bisa kelihatan tenang, tapi yang ada malah jadi salah tingkah.
" Dede kenapa? ", tanya Omah. "Kok Dede nangis sih, ada apa? ", tanya Omah cemas karena sempat melihat Dhea menghapus air matanya.
" Ah, engga... engga..ada apa - apa Omah, Dhea cuma kelilipan", bohong Dhea. Omah tersenyum.
" Kelilipan masa air matanya sampai basah kuyup begini? ", selidik Omah.
" Ga...ga tau nih Omah", Dhea mulai gugup.
" Kamu itu sama persis sama mama kamu, paling ga bisa bohong, suka gugup, salah tingkah. Kan ketahuan jadinya", celoteh Omah sambil terseyum geli. "Sudah... ,sana..,Dede mandi, Omah sudah siapin air hangat",ujar Omah.
__ADS_1
" Dingin nih Omah, bilas- bilas aja ya Omah", pinta Dhea manja.
" Iya...iya....sana cepat", suruh Omah. Dhea pun ngeloyor pergi ke kamar mandi, Omah cuma bisa geleng - geleng kepala. Tiba - tiba Omah terbayang sesuatu. Lalu Ia berucap.
" Anakmu sudah besar Siska, dia benar- benar mirip sekali dengan kamu. Sifatnya tidak jauh beda dengan kamu. Kalau aku melihatnya sama saja seperti sedang melihat dirimu. Empat belas tahun berlalu sudah.
Kepergian mu benar - benar menyisakan duka yang mendalam buatku Siska. Bahkan sampai saat ini, aku masih belum bisa menerimanya. Tapi pada akhirnya aku harus bisa mengikhlaskannya, karena itu akan membuatmu lebih tenang di Sisinya, mata Omah pun berkaca - kaca, seketika itu, ada air yang menetes dari mata ke pipinya dan air itu terasa begitu hangat. Omah tak kuasa menahan air matanya. Begitu Dhea keluar dari kamar nya, Omah buru - buru menghapus air matanya. Lalu Dhea merangkul dari belakang.
" Dhea sudah wangi Omah, soalnya Dhea jadi mandi, lepek sih Omah,kalau ngga mandi ngga enak", celoteh Dhea. Omah berbalik sambil tersenyum. Dhea kaget
" Omah cuma kelilipan De.... ".
" Hayooo, Omah pasti bohong ya? ".
" Masa sih Omah bohong sama Dede..?".
" Iya deh, Dede percaya kok sama Omah", ucap Dhea sambil tersenyum, Omah pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"Sudah malam nih Omah, kita bobo yuk Omah", ajak Dhea, Omah mengangguk setuju. Lalu mereka berdua pun masuk ke kamar.
Malam itu memang terasa panjang, terasa begitu lama. Untuk mencapai esok hari, itu membutuhkan proses yang berjam - jam. Dan bila kita bisa tertidur lelap, maka akan terasa singkat. Tapi tidak dengan Gilang. Malam ini mungkin adalah malam yang terpanjang buatnya, kok bisa?, itu karena Gilang belum bisa memejamkan matanya. Gilang belum bisa tidur. Walau berbagai cara telah di lakukan Gilang. Misalnya, menghitung jumlah domba yang ada didalam handphone, membaca berita di handphone, bermain game di handphone dan memandang wajah Dhea di handphone. Yang terakhir itu membuatnya lebih susah untuk memejamkan mata. Sekarang ini wajah Dhea yang selalu mengusik pikirannya tiap malam. Gilang merasakan desiran yang membuatnya selalu melayang dalam kasmaran. Dan setiap kali ia membayangkan wajah Dhea, disaat itu pula jantungnya berdegup kencang.
"Aku kasmaran Dhea, entah mengapa aku merasakan rindu yang begitu dalam. Rindu yang semakin menyerang, hingga dadaku terasa sesak. Aku kangen sama kamu Dhea", dan aku sayang kamu, ucap Gilang pelan.
Masalah ini memang membuatnya berpikir sangat keras, sampai kadang - kadang ia lupa untuk makan siang. Tiba - tiba saja ada secercah angin yang bertiup lewat jendelanya. Angin itu terasa membawa kesejukan dan membawa ketenangan di dalam hatinya dan angin itulah yang membuat Gilang perlahan - lahan memejamkan matanya. Pikirannya melayang entah kemana. Dan saat itu pula Gilang sudah mulai tertidur, karena lelah berpikir.
Angin yang membawa kesejukan di kamar Gilang kini berhembus melewati kisi - kisi jendela dan melayang bersama angin, bertiup ke segala penjuru dan mencari kisi - kisi yang bisa ditelusuri. Lalu hembusan pelan itu kini menelusuri kisi - kisi kamar Dhea. Dan Dhea merasakannya, hembusan yang pelan , mengibas rambutnya yang terurai. Dhea tidak peduli itu, karena ia sedang melamun. Sambil merebahkan badannya di kasur. Sesaat kemudian ia mengalihkan lamunannya ke handphone membuka menu galery dan memandang foto yang paling atas. Foto itu ternyata di ambil sewaktu ia duduk di bawah pohon akasia dekat taman Green Akasia, disampingnya Dhea, tampak Gilang sedang menjulurkan lidahnya, Dhea tertawa kecil melihat tingkah Gilang.
" Kenapa aku harus memikirkan kamu Lang, kenapa aku harus memikirkan kamu bukan sebagai sahabat, tapi memikirkan kamu sebagai orang yang spesial, rasa itu telah berubah Lang. Dan rasa itu begitu menyiksaku.Rasa itu kini tumbuh cinta, dan aku tidak bisa berdusta kalau aku telah jatuh cinta Lang, jatuh cinta sama kamu. Dan bila rasa itu ku pendam maka rasa tersiksa itu akan semakin mencengkram batinku,
aku harus bagaimana Lang?, perasaan ini seperti terombang - ambing tak tentu arah. "Aku galau banget Lang....".
Dhea menghapus air matanya, pipinya basah dengan air mata, dan matanya mulai sembab, perlahan - lahan ia seperti mengambang lalu ia pun mulai tertidur lelap. Mungkin Dhea juga cape dengan pikiran yang menjerat seluruh batinnya.
Malam itu begitu sunyi, semua serasa membisu, bahkan jangkrik pun enggan bersuara, mereka seperti tertelan bumi.Hanya sinar rembulan yang masih setia memancarkan cahayanya. Dan malam itu sudah menunjukkan pukul dua malam. Langit boleh saja membisu, tapi tidak dengan manusia. Karena disaat tidur pun mereka masih bisa mengeluarkan suara (alias mendengkur).
__ADS_1