
Dengan wajah lesu, Gilang pun berjalan menuju kamar mandi. Bapak yang ga sengaja melihat Gilang lesu seperti itu, mencoba menggodanya.
"Tumben, sudah bangun Lang, biasanya juga paling susah dibangunin kalau hari minggu".
Gilang cuma manyun. Bapak jadi tertawa.
" Itu lah Lang, kenapa bapak ga mau pelihara ikan, lihat mulut kamu aja bapak sudah senang, mirip ikan koki", celetuk bapak asal, sambil tertawa terbahak - bahak.
Tiba - tiba Lilis datang menghampiri bapaknya.
"Pak , anterin Lilis berangkat sekolah ya", pinta Lilis.
"Oh ya, siap bos !! ", canda bapaknya. Lilis tertawa senang. " Oh iya Lis, bapak besok sudah berangkat ke pasar, nanti kamu dianterin nya sama ibu ya...!! ".
" Lho kok nanti pak ?", protes Lilis. "Tapi kan ibu masih di pasar ? ".
" Hadeeeehhh..., maksud bapak, besoknya nanti eh .....nanti nya besok...., walaaahhh gimana siiihhh ?, pokoknya besok gitu lho.. ", tukas bapak meyakinkan Lilis, dan Lilis cuma manggut - manggut, tapi ga tau ngerti apa engga, itu aja.Dan merekapun berangkat dengan motor bapak yang knalpotnya bisa mengeluarkan asap banyak, meninggalkan kepulan - kepulannya untuk Gilang yang berdiri bengong, lalu tersadar dan cepat - cepat menutup hidungnya dengan baju.
Dan sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Gilang sudah rapi amat( bukan Raffi Ahmad ye..). Sambil memandang pakaiannya yang biasa - biasa saja tanpa disetrika, ia senyum - senyum sendiri. Tiba - tiba Gilang dikagetkan dengan suara seperti orang batuk, tapi setelah dilihatnya keluar, ternyata itu bukan suara batuk melainkan suara knalpot motor yang dikenalnya.
"Lho kok balik lagi pak ? ", tanya Gilang heran.
" Adikmu itu lho, malu - malu'in bapak saja", celetuk bapak kesal.
"Memangnya ada apa sih ? ", tanya Gilang lagi sambil memandang ke arah Lilis, yang dipandang cuma cengar - cengir, kaya kuda.
" Masa ga ingat, hari ini hari minggu, malah minta di antar ke sekolah, bikin malu bapak saja, udah gitu orang - orang malah pada ngeliatin, ih..memang nya lagi karnaval, apa? ", ujar bapak sewot. Gilang jadi tertawa terbahak - bahak. Bapak cemberut manyun
__ADS_1
Wah.. Sekarang ikan nya jadi ada dua !! ", teriak Gilang sambil buru - buru lari ke dapur, sebelum dilempar sama bapak pakai sandal jepit yang sudah bolong bagian tapaknya.
Pagi ini memang pagi yang cerah, secerah hatinya Dhea, yang sudah menunggu Omah dihalaman depan. Pagi ini Omah sudah janji dengan Dhea ingin jalan sehat sama - sama.
Dan pagi - pagi sekali Dhea sudah bangun dan nunggu Omah nya yang lama, maklumlah, Omah kan sudah tua. Tapi biar sudah tua, Omah masih terlihat gesit lho. Pernah suatu ketika, dikebun belakang ada layangan putus melintasi kebun Omah dan Omah melihat dari pintu belakang. Omah pun panik, lalu cepat - cepat membuka pintu dan langsung berlari mengejar layangan itu, tapi bukan karena ingin memiliki layangan itu, melainkan Omah takut kalau layangan itu mengenai bunganya yang bagus - bagus. Soalnya sudah pernah kejadian, dulu banget. Bunga - bunga Omah banyak yang rusak akibat layangan - layangan nakal itu. Juga anak - anak nakal yang tidak bertanggung - jawab, yang dengan se'enaknya merusak bunga - bunga kesayangan Omah. Dan di antara anak - anak nakal itu, salah satunya adalah Gilang !. Andai saja Omah tahu, kalau Gilang yang merusak bunga - bunga kesayangannya waktu itu, sudah bukan pasti lagi. Dhea tidak direstui jatuh cinta sama Gilang !.( ih apa Omah sekejam itu ?, gak lah..) Tetap direstui dong, tapi pasti ada syarat nya(he..he..he..).
Dan sekarang ini, Dhea sudah menunggu sambil berolah - raga santai. Tidak berapa lama Omah keluar sambil berlari - lari kecil dan mengayun - ayunkan tangannya ke atas.
"Ayo Omah, kita tancap gas., eh maksud Dhea, kita jalan sehat sekarang.. ", ajak Dhea. Omah cuma mengangguk.
Lalu merekapun berjalan santai sambil tangannya di ayun - ayunkan ke kanan ke kiri lalu berjalan ke tikungan menuju taman di ujung komplek. Tidak berapa lama, Gilang muncul dari arah yang berlawanan sambil memegang secarik kertas. Sesekali melihat kertas itu lalu memandang ke arah sebuah rumah yang lumayan besar dengan cat dasar berwarna putih dengan ukiran - ukiran bunga batik yang di cat dengan warna kuning emas.
Tembok yang kokoh juga tiang - tiang dari beton membuatnya tak lekang di makan waktu, walaupun itu bangunan lama yang di desain menyerupai bangunan - bangunan model Belanda. Biarpun bangunannya terlihat besar. Tapi penghuni nya seperti jarang - jarang, bahkan terkesan seperti tak berpenghuni. Gilang pun jadi ragu.
"Apa benar ini rumahnya ? ", gumam Gilang.
Soalnya tadi Gilang sudah menanyakannya pada security bagian pos penjagaan pintu masuk komplek.
"Tapi..ah sudahlah, apa aku balik saja ya", bisik Gilang ragu. " Ah jangan deh.., tanggung sudah sampai sini.. ", ucap Gilang pada dirinya sendiri.
" Sudah rapi begini, masa balik lagi ke rumah, malu ah sama bapak, pasti di ledekin habis - habisan. Kalau ditelaah sepertinya Gilang memang lebih dekat dengan bapaknya. Dilihat dari cara mereka bercanda, kaya nya bapak sama anak akrab banget. Saking akrabnya pernah suatu ketika, Gilang di ledekin sama teman - teman sekolahnya dulu, kalau Gilang ini anak papa, ledek mereka. Tapi bukannya marah, Gilang malah senang banget. Lho memang sudah jelas - jelas kok , kalau Gilang itu memang anaknya Papa, masa anak orang lain. Itu lah jawaban Gilang kala ia di ledek teman - temannya pada waktu itu. Dan sampai sekarang Gilang selalu ingat dengan istilah "Like father like son".
Dan saat ini Gilang sudah berada didepan pagar dan siap - siap memencet bel. Tapi tiba - tiba saja muncul dari rumah, seorang bapak - bapak yang tampangnya ramah banget. Saking ramahnya, pernah sekali Omah bilang kalau wajah pak Karyo mirip sekali dengan wajahnya bang Rano Karno. Bahkan kadang - kadang Omah memanggil pak Karyo dengan nama Rano Karyo. Sayangnya pak Karyo tidak punya tahi lalat di dagu nya.
" Iya.., cari siapa ya mas.? ", tanya pak Karyo ramah.
" Eh.. Assalamualaikum pak, apa benar ini rumahnya Dhea Anasta Der Wijk..? ", tanya Gilang sambil tersenyum.
__ADS_1
" Waalaikumsalam.., oh iya benar sekali, tapi non Dhea nya lagi ga ada di rumah. Ada perlu apa yah mas ? ", tanya pak Karyo balik.
" Ah..engga ada apa - apa kok pak, saya cuma ingin main aja. Saya teman nya Dhea. Nama saya Gilang pak", ucap Gilang sambil memperkenalkan diri. Tiba - tiba saja pak Karyo kaget.
"Ooooooohh...nak Gilang yah..?, iya.. Iya..saya paham", ujar pak Karyo. Gilang cuma nyengir kuda.
" Kok bapak kenal saya..? ", tanya Gilang heran.
" Oh jelas dong. Non Dhea cerita banyak tentang nak Gilang kepada Omah. Kebetulan juga pak Karyo dipesenin non Dhea, kalau ada cowok yang datang nama nya Gilang, suruh masuk aja, tapi kalau cewek, nama nya Gilang, jangan kasih masuk, berarti itu yang palsu", ucap pak Karyo menirukan apa yang dikatakan Dhea. Gilang cuma tersenyum kecut.
"Ga apa deh pak, saya pulang saja, nanti siang saya datang lagi".
" Yakin, nak Gilang engga mau nunggu.?, sini masuk saja".
"Engga usah deh pak, lagian saya juga belum sarapan, nanti siang saya kesini lagi deh".
" Hem...iya deh, bapak ga bisa maksa, nanti bapak sampein aja yah sama non Dhea".
Gilang mengangguk setuju.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu ya pak".
" Iya, nak Gilang hati - hati deh".
"Assalamualaikum pak.. ", salam Gilang.
" Waalaikumsalam.. ", jawab pak Karyo sambil memandang Gilang yang sudah berbalik dan melangkah pergi.
__ADS_1