
Akhirnya...,mau tidak mau Omah pulang juga bersama pak Karyo. Sementara Gilang sedang menghubungi Ipenk dengan handphone nya, dan panggilan pun terhubung.
"Ya ,kenapa Lang....? ",tanya ipenk
" Penk....,.nanti kayanya aku ngga bisa ke rumah nih.... ".
" Ga masalah bro, emang kenapa sih...? ".
" Aku lagi di rumah sakit nih, tadi Dhea pingsan... ".
" Gimana keadaannya sekarang bro? ", tanya Ipenk.
" Sudah baikan, tapi belum di izinin pulang nih, takutnya drop lagi, jadi aku yang temenin Dhea saat ini.
" Besok gimana bro, masuk ga? ".
" Besok off dulu deh, kamu tolong bilang sama pak Enji kalau aku lagi ada urusan keluarga..., bisa kan Penk...? ".
" Oke deh.... Sip... ".
" Oh iya penk, hampir lupa.... , motor kamu ada di rumahnya Dhea, soalnya tadi aku pakai ambulans".
"Ga apa deh bro, besok aku naik bis aja...".
"Yakin, nggak apa...? ".
" I'ts oke bro.... ".
" Thank's banget deh penk".
"Sama - sama bro".
Gilang pun mengakhiri pembicaraannya dan memasukkan handphone nya kembali kedalam saku belakang celana lalu ia berpaling ke arah Dhea dan tersenyum.
"Gimana Ipenknya? ", tanya Dhea sambil mengernyitkan dahinya.
" Sudah beres, aku sudah pesan sama Ipenk, pokonya besok dia yang atur deh... ", ujar Gilang tersenyum dan berjalan ketempat Dhea lalu duduk di samping ranjangnya.
" Ipenk kelihatan baik ya orang nya... ".
" Bukan kelihatan baik lagi, tapi sudah benar - benar baik".
"Kenapa gitu Lang....? ".
__ADS_1
" Hem..., Ipenk sama aku sudah lama berteman, kami akrab banget, bahkan kami jarang berselisih paham, kalaupun ada,itu bisa di hitung dengan satu tangan. Keluargaku malah menganggap Ipenk sudah menjadi bagian dalam keluarga kami. Ia selalu main ke rumah dan kadang sampai menginap, bagi Ipenk, itu adalah rumah keduanya... ", ucap Gilang sambil tertawa. Dhea pun ikut tertawa.
" Bagaimana dengan keluarganya? ", tanya Dhea serius.
" Ayahnya seorang marinir, sedangkan ibunya adalah seorang guru TK...dan Ipenk..., Ipenk adalah anak tunggal... ".
Dhea benar - benar mendengarkan dengan serius.
Apa Ipenk juga bermain musik, sama sepertimu Lang? ".
" Engga..., Ipenk cuma menemaniku latihan, ia seperti manager buat aku, dan Ipenk sudah banyak membantuku".
"Hem, kapan- kapan Dhea di kenalin yah Lang, sama Ipenk... ", pinta Dhea.
" Yuph...., pasti dong..., orangnya enak kok... tapi bukan enak di makan, maksudnya enak di ajak ngobrol , enak di ajak bercanda, sama enak di kerjain", ucap Gilang sambil tertawa. Dhea cuma senyum - senyum geli
"Oh iya...!!, Dhe, kamu lapar ngga ? ".
" Lapar banget Lang.... ", ucap Dhea sambil memegang perutnya.
" Ya sudah tunggu sebentar yah, aku pergi dulu beli makanan, kalau ada keperluan lain, Dhea telpon ya...? ".
" Siap bos ! ", ucap Dhea sambil tertawa.
Tinggal Dhea sendiri di kamar, ia pun iseng - iseng membuka layar handphone nya. Lalu mencari - cari nomor kontak papanya yang berada di Belanda, dengan menekan tombol menghubungi,sesaat Dhea menunggu,tapi tidak ada yang mengangkat, Dhea pun menutup panggilannya. Lalu berpikir sejenak sambil memandang ke atas. Tiba - tiba handphone nya berdering tanda ada panggilan masuk.
"Papa? ". Dhea pun buru - buru mengangkatnya.
" Halo...,iya De.., ada apa? ", tanya papanya.
" Papa kapan pulang kesini?, katanya mau nyusul Dhea? ".
" Hem coba lihat nanti ya De, soalnya papa lagi sibuk, ada proyek baru yang ngejar waktu, jadi papa belum bisa pastikan.... ".
" Tapi nanti papa pasti jadi pulang kan? ".
" Hem...,papa engga bisa janji De, mudah- mudahan saja bisa cepat selesai, jadi papa bisa jenguk kamu. Doa'in papa biar bisa cepat - cepat selesai deh... ".
" Emangnya papa engga kangen sama Dhea ? ".Kangen dong, papa kangen banget sama kamu, kangeeen banget..., banget- banget... ".
Dhea pun tersenyum ceria.
" Ya sudah, pokoknya Dhea tungguin sampai papa kesini, awas lho kalau engga jenguk Dhea, nantinya . Dhea diam, engga mau ngomong sama papa... ".
__ADS_1
" Iya...iya..papa pasti jenguk kamu , oke? ".
" Oke bos.... ", tukas Dhea sambil tertawa. " "Ya sudah, papa kerja lagi yah, bye sayang... ",
" Bye papa... ".
Dhea pun menutup panggilan dari papanya, lalu memandang jam yang ada di handphone nya .
" Kemana sih Gilang, kok belum balik - balik..?",.gumam Dhea pelan. "Hem...jangan - jangan Gilang kelupaan terus langsung pulang ke rumahnya...,atau karena terlalu ramai jadinya Gilang bantuin yang jualan, bungkus- bungkusin nasi", gumam Dhea lagi sambil membayangkan Gilang yang lagi sibuk bungkusin nasi, Dhea pun jadi tertawa cekikikan.
Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu depan.
" Horee..!!, Gilang datang... ", sahut Dhea senang. Tapi ternyata yang mengetuk pintu itu adalah seorang suster. Suster itu pun berjalan menghampiri Dhea.
" Mba ini obatnya diminum dulu.. ".
" Tapi suster, sayakan belum makan... ".
" Engga apa - apa kok, belum makan juga boleh minum obat ini", ucap suster itu menyakinkan Dhea, lalu ia menyerahkan obat itu kepada Dhea. Mau tidak mau Dhea pun menelannya, rasanya pahit banget. Dhea pun buru - buru minum,setelah suster itu pergi, masuklah Gilang sambil membawa beberapa bungkus makanan. Dan Gilang pun menunjukkan bungkusan yang ada di kedua tangannya.
"Malam ini kita makan sepuasnya", ujar Gilang tersenyum lebar. Dhea membelalak kan matanya melihat bungkusan yang begitu banyak.
" Gila kamu Lang..?!, habis borong ya? , beli apa saja kamu? ".
" Pilih saja sendiri, ada siomay, ada martabak, nasi goreng, pecel lele, minumannya es teh manis sama es jeruk peras..., ga usah pilih deh, kita sikat sama - sama..!! ", teriak Gilang. Dhea pun tertawa geli.
Sesaat kemudian Gilang dan Dhea benar - benar seperti orang yang sedang kelaparan, tapi betul sih, mereka belum makan sedari tadi, makanya jangan heran kalau mereka begitu lahap. Dhea saja sudah menghabiskan sebungkus nasi goreng dan kini sedang menikmati pecel lele, mulutnya pun penuh dengan lalapan sampai mereka tidak sanggup lagi berbicara. Gilang yang melihat Dhea jadi tersenyum, begitu juga Dhea yang tersenyum geli melihat mulut Gilang yang penuh dengan nasi. Gilang pun melihat ada beberapa butir nasi yang menempel di pipinya Dhea, secara refleks Gilang pun mengusap nasi itu dengan tangannya. Dhea jadi terdiam dan memandang Gilang dalam - dalam. Sesaat kemudian Dhea tertunduk malu , pipinya yang putih pun menjadi merah merona, perasaannya benar - benar bergejolak saat itu, jantungnya berdegup dengan kencang membuatnya sulit bernafas.
Dhea pun mengambil es jeruknya dan meminumnya dengan cepat, tenggorokannya benar - benar kering, sehingga air es yang di telan nya mengeluarkan suara yang nyaring. Dhea pun makin malu. Lalu Gilang menengadahkan dagu Dhea ke atas supaya ia bisa memandang wajah Dhea. Dhea pun menatapnya penuh arti. Ia pun menunggu apa yang akan dikatakan Gilang. Gilang ingin sekali mengucapkan sesuatu tapi lidahnya terasa kelu, tenggorokannya pun terasa kering. Dan ia berusaha melawan semua kegugupannya, walaupun degupan di jantungnya semakin kencang. Tapi Gilang tidak menyerah dengan sekuat tenaga ia pun berhasil berucap.
"Dhe.... Dhea...ak...aku...aku tidak tahu...harus me...memulai dari man...mana.. ", ucap Gilang terbata - bata, ia pun berhenti dan mengatur nafasnya. Dhea tetap menunggu sambil mengernyitkan dahi.
" Ehm..., ak...aku..., belakangan ini...ada...ada sesuatu yang membebani pikiranku...dan...ak...aku tidak bisa melawannya, ak...aku tidak dapat....membohongi diriku sendiri....kalau....kalau". Gilang pun berhenti lagi ia pun menarik nafasnya dalam - dalam... Dhea pun menunggu dengan gugup.
"Kalau aku sayang kamu Dhea..!! dan..ak...aku.. Aku telah jatuh cinta sama kamu..!! ", Gilang bernafas lega.
" Ak...aku tahu kalau semua itu bodoh, dan....dan jika kamu, tidak menyukai kata - kata aku tadi...aku akan menariknya kembali... dan..dan aku... ".
" Dan aku juga jatuh cinta sama kamu Lang. ..
ak.. aku juga sayang banget sama kamu.... ', ucap Dhea sambil tersenyum. Gilang pun tersenyum lega. Kini perasaan mereka berdua pun berbaur jadi satu.
"Kamu....kamu enggak bohong, soal perasaan kamu ke aku kan Lang? ".
__ADS_1
Gilang menggeleng. " Aku enggak pernah bohong dan jika aku tidak mengungkapkannya sekarang, itu akan menyiksa ku setiap hari... Dhe... ".