Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).

Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).
Bab 44 : Gilang Ngantuk Berat.


__ADS_3

Kegembiraan memang terasa lebih cepat berlalu tidak seperti kesedihan yang kadang sampai berlarut - larut. Begitu juga kegembiraan yang mereka rasakan tadi malam memang benar - benar berkesan dan sulit untuk di lupakan, tapi sayang, kegembiraan tadi malam hanya sesaat saja. Pagi itu cuaca benar - benar sedang cerah, mungkin imbas cuaca tadi malam . Dan pagi itu waktu sudah menunjukkan tepat pukul enam pagi, Gilang sudah duduk di meja makan sambil memegang handphone meski sudah mandi tapi wajahnya masih terlihat ngantuk.Walau masih dalam keadaan mengantuk, tapi mimik wajahnya sesekali terlihat begitu serius,seperti sedang menyimak sesuatu.Rupanya ia sedang mendengarkan pesan suara dari Dhea yang sudah berbunyi sejak tadi pagi.


"Met pagi Lang....".


" Udah bangun belum..? ".


" Tadi malam Dhea seneeeeeng banget.., sampai kebayang terus Lang...".


"Kapan yah, kita bisa joget ramai - ramai kaya gitu lagi ? ".


" Kamu jangan lupa sarapan ya ".


" Nanti siang, Dhea ikut latihan lagi ya, Lang".


"Cup...cup..., sayang kamu Lang ".


Gilang pun membalas pesan suara dari Dhea.


" Pagi juga Dhe...,oke ".


Pesan dari Gilang benar - benar singkat,setelah ia menyimpan handphonenya. Ibu nya yang sedari tadi memperhatikan kelesuan Gilang pun tersenyum kecil.


" Lang, hari ini kamu berangkat kuliahnya gimana ?, naik angkot yah ? ", tanya bapaknya.


" Nanti di jemput sama Ipenk pak ".


" Ipenk...?, memangnya Ipenk sudah bisa naik motor ? ".


" Wah..!!, bukan naik motor lagi pak, tadi malam saja sudah bisa dangdutan ! ", ucap Gilang sambil tertawa geli.


" Ah..., masa sih..?!! ", ujar bapak sambil tertawa ngakak. Gilang pun menceritakan kemeriahan acara tadi malam yang diadakan di cafe nya mas Eki.


" Hebat juga mas Eki itu..., bisa juga dia bekerja keras seperti itu, sampai sanggup menghidupi dirinya dan adiknya", tukas bapak.


"Mas Eki itu memang benar - benar seorang yang pekerja keras lho pak.. ".


" Iya, memang bisa dijadikan panutan, kamu juga harus bisa seperti itu nantinya, Lang ".


" Iya, mudah - mudahan Gilang bisa pak.. ", ucap Gilang percaya diri.


" Tuuhh..!!, itu pasti si Ipenk ", sahut bapak ketika mendengar suara motor didepan rumah. Gilang langsung melompat hendak berlari ke depan, tapi tiba - tiba ia kembali lagi masuk ke kamar, karena ia baru sadar kalau tas nya hampir tertinggal. Begitu ia sudah berlari keluar lagi, Ipenk dan bapak sedang mengobrol sambil menengok ke kaki Ipenk yang sudah berangsur sembuh. Gilang pun pamitan dengan kedua orang tuanya begitu juga Ipenk yang ikut berpamitan ke orang tuanya Gilang.


Lima menit kemudian, Gilang dan Ipenk sudah berada di jalan raya menuju ke arah kampus. Hari ini mungkin bisa pulang lebih awal, soalnya ada ujian dikelas nya Gilang.

__ADS_1


Makanya Gilang masih terlihat ngantuk, pasalnya tadi malam ia belajar sampai benar - benar larut malam. Dan benar juga, Gilang tidak fokus dengan soal ujiannya, ia terlihat beberapa kali menguap dan menyeka air matanya akibat terlalu mengantuk. Ipenk saja sampai tertawa geli melihat Gilang yang sedari tadi hanya menguap - nguap terus. "Pacaran sampai malam terus sih.. ", goda Ipenk pelan.


" Yeey..,enak aja.., tau dari mana kamu Penk ? ", gumam Gilang


" Sejak jadian sama Dhea, handphone kamu kan bunyi terus Lang, engga kaya dulu. Kalau dulu handphone kamu jarang - jarang ada suara, batre nya aja awat.., dua hari baru lowbat..",tutur Ipenk sambil berbisik.


Giling cuma mengulum senyum nya.


Lima belas menit kemudian, Gilang sudah berjalan keluar lalu disusul dengan Ipenk dari belakang.


"Parah.. , kamu Lang..., sepanjang ujian cuma nguap aja.. ", ujar Ipenk ngakak, setelah mereka sudah berada diluar kelas lalu duduk di taman kampus.


" Tadi malam, aku itu belajar sampai jam dua subuh Penk. Ngobrol sama Dhea mah, jam dua belas udah kelar. Itu juga.., aku yang suruh bobo, kalau engga..., pasti lanjut sampai pagi ", tutur Gilang.


" Nanti latihan, minta ikut lagi ? ".


" Wah.., jangan tanya..., udah di pesan dari tadi malam ".


Ipenk pun cekikikan.


" Kamu seriusan sama Ice.., Penk? ", tanya Gilang dadakan.


Ipenk yang ditanya mendadak cuma tersenyum. " Menurut kamu..? ".


"Kok aku sih, emang nya yang pacaran sama Ice itu, aku..??! ".


" Ya...., kalau aku lihat sih, Ice anaknya baik, pekerja keras, engga manja ,mandiri,engga nakal,walaupun orang tua nya sudah engga ada tapi mereka bisa mengontrol diri", tutur Gilang. Lalu Ipenk pun merenung sambil menggigit - gigit kuku nya.


"Hem.., aku juga berpikir seperti itu. Salut juga sih buat mereka berdua, di zaman seperti ini banyak anak - anak yang salah pergaulan, tapi mereka berdua malah tidak terpengaruh.


" Mudah - mudahan, pilihan kamu engga salah Penk, aku sih gimana pun tetap mendukung kamu, semoga kamu dapetin yang terbaik.. ".


" Iya, makasih, begitu juga kamu Lang.. ".


" Ya sudah, ayo kita masuk kelas lagi, masih ada satu tes yang nungguin kita.. ".


******


Di rumah Dhea yang memang terlihat sepi, kadang - kadang membuat tetangga yang berada disekitar situ, selalu menyangka, kalau mereka sedang pergi berlibur, tidak ada di rumah atau sebagainya. Tapi nyata nya, didalam memang selalu ada kesibukan, seperti yang terjadi saat ini, dimana Omah sedang sibuk mondar - mandir seperti sedang mencari sesuatu. Omah terlihat sedang kebingungan.


"Yooo..!!, Karyo..!!! , panggil Omah dari dapur. " Kemana sih Karyo ini,kok lama sekali..? ", gumam Omah pelan.


Tidak lama kemudian, pak Karyo setengah berlari ke arah dapur. Omah langsung menengok ke arah nya.

__ADS_1


" Gimana Yo ?!, ada..?! ", tanya Omah.


" Ga ada Omah.., memang dulu Omah simpan dimana ? ".


" Yooo...., Yo.., kalau saya tahu simpan dimana, sekarang kita engga usah cari seperti ini..., gimana sih kamu Yo..? ".


Pak Karyo cuma nyengir kaya kuda.


Dhea yang kebetulan hendak berjalan ke kamar mandi pun heran melihat kesibukan Omah dan pak Karyo.


" Omah.., lagi pada cari apaan sih..?


Omah pun menengok sebentar ke arah Dhea.


"Ini lho De.., Omah lagi cari kartu nama nya pak Steve yang punya kedai bunga " Angela "itu lho..".


" Memang nya ada apa Omah ? ".


" Omah mau pesan bunga De, jadi nanti biar di antar kesini aja.. ".ujar Omah.


" Kenapa kita engga langsung ke kedai nya aja Omah ?, lagian Omah kan sudah lama engga ke sana, gimana Omah ? ".


Omah pun menghela nafas panjang.


" Iya deh..., tapi Omah ganti baju dulu yah.. ".


Dhea mengangguk. Lalu Omah menengok ke arah pak Karyo.


"Sudah Yo..!, engga usah dicari lagi, siapin mobil aja Yo, kita langsung ke kedai nya saja. Kamu masih hafal jalan nya ga Yo ? ".


Pak Karyo berpikir sejenak. " Agak - agak lupa ingat gitu Omah", tukas pak Karyo sambil cengar - cengir.


"Dhea tau alamatnya kok Omah.., itu kan ruko nya satu deret sama supermarket nya paman.. ", ucap Dhea.


" Maksud kamu paman Kodir..? ".


Dhea mengangguk dua kali.


" Memang paman kamu engga jadi keluar kota hari ini, De..? ".


" Engga jadi Omah, mungkin besok.., katanya sih kalau jadi keluar, paman akan kabari Dhea".


Omah cuma mengangguk pelan.

__ADS_1


"Hari ini De ikut Gilang latihan lagi ? ", tanya Omah.


" Ikut Omah, soal nya Dhea mau latihan biola juga kaya Gilang, Omah.. ", ujar Dhea begitu semangat. Lalu Dhea teringat acara tadi malam dan dengan penuh semangat juga ia menceritakan segala yang terjadi, mulai dari permainan biola nya Gilang yang menakjubkan hingga seru nya joget dangdut beramai - ramai. Omah, Dhea dan pak Karyo pun tertawa lepas. Dan tawa mereka bertiga pun mengiringi perjalanan mereka untuk ke kedai bunga.


__ADS_2