
Saat ini Gilang sedang berjalan menyusuri sebuah koridor lalu melewati ruang kesenian, kemudian Gilang berhenti sejenak, ia pun mencoba menengok ke dalam jendela kaca yang berwarna gelap.
"Pak Ketut sendirian , berarti pak Heri belum datang", gumam Gilang pelan. Setelah itu ia beranjak pergi dari ruangan kesenian, tanpa ada maksud untuk masuk kedalam, karena jam latihan Gilang adalah nanti siang setelah kelas bubar. Dan saat ini , ia belum bisa kemana - mana, karena masih banyak mata kuliah yang harus ia jajaki.
Lalu Gilang berjalan kembali ke kelasnya.
Kemudian ia duduk kembali ke sampingnya Ipenk, dan Ipenk juga kelihatan sedang mengantuk.
"Kamu juga ngantuk Penk ?, kenapa ngga cuci muka saja? ".
Ipenk menggeleng, tapi wajahnya kelihatan kusut.
Mereka pun harus melewati setengah hari yang menjenuhkan, lalu bagaimana dengan teman - teman mereka yang berada satu kelas dengan Gilang. Tapi Gilang tidak mau perduli, yang pasti ia begitu bosan dengan situasinya saat ini.
Tiba - tiba saja Gilang merasakan ada getaran di saku celananya bagian belakang dan itu membuatnya terlonjak kaget.
"Ya ampun.. , ini pasti Dhea ", gumam Gilang.
Gilang coba mengintip handphone nya, ternyata benar saja tebakan dia, ada satu sms dan satu panggilan tak terjawab dari Dhea.
" Nah..,ini anak..., iseng melulu..., udah tau lagi dikelas.. ", gumam Gilang sembari menengok sebentar ke arah dosen nya. " Tapi kasihan juga sih, seandainya aku jadi dia, aku juga pasti bosan..di rumah engga ngapa - ngapain".
Lalu Gilang ingin membaca sms nya Dhea, tapi sebelum nya, ia celingak - celinguk dulu, setelah dirasanya aman...baru deh.
"Lang...!!!, cepat pulang yah..!!, sudah di tungguin nih.., sama yang punya...he..he..he..".
Gilang senyum - senyum sendiri.
Tiba - tiba saja.
"Gilang...!, kamu kok senyum - senyum sendiri ?, apa ada yang lucu ? ", tanya bu Kasmi. Jangan tanya siapa beliau. Bu Kasmi adalah dosen yang mengajarkan ilmu - ilmu ekonomi, dan dia termasuk dalam lima dosen ter'killer di kampusnya Gilang, julukannya saja " baby face assassin " (pembunuh berwajah bayi ).
Dan saat ini, Gilang harus berhadapan dengannya.
"An...anu bu.., sa..saya...saya sed..sedang membayangkan...".Gilang berhenti berucap, ia berusaha menelan air ludah, tapi berhubung tenggorokannya yang kering, maka ia cuma menelan angin. " Membayangkan..kejutan bu..buat ulang..tahun ...ibu, nan...nanti... ", ucap Gilang gugup. Dan semua yang disitu pun memandang ke arah Gilang.
" Tapi itu kan masih lama Lang... ", ujar bu Kasmi serius. Gilang pun mati kutu. Kini ia hanya bisa memandang orang - orang yang ada di sekeliling nya. Gilang merasa dirinya saat ini ,seperti seorang anak kecil.
Siang itu kelas memang sudah bubar, rata - rata pada berwajah gembira, ibaratnya sudah lepas dari jeratan maut, tapi tidak dengan Gilang, wajahnya sedikit kusut dan lemas, pasalnya ia baru dapat teguran dari bu Kasmi, Ipenk hanya bisa menepuk - tepuk pundaknya.
__ADS_1
"Sabar deh bro... ", ucap Ipenk tersenyum.
Gilang pun mendengus. Mereka berdua pun berjalan menyusuri ruang seni.
" Pak Heri belum datang Lang, mungkin sebentar lagi ".
" Penk.., tolong bilang ke pak Ketut, sebentar lagi, aku menyusul ke aula ya ", ujar Gilang.
" Mau jemput Dhea ya..? ".
" Dia nya minta ikut sih.., mau bilang engga boleh, tapi malah kasihan. Katanya di rumah bosen banget".
"Iya juga sih..., ya udah sana.., takutnya udah ditungguin ".
" Kaya tau aja kamu Penk.. ", tukas Gilang sambil tertawa geli.
" Aku mah bisa baca pikirannya Dhea.. ".
" Ah sok tau kamu Penk ! ".
" Eh.., jangan salah ya..!, kalau engga percaya, coba aja lihat handphone kamu ", tantang Ipenk. Gilang pun mengeluarkan handphonenya, lalu geleng - geleng kepala.
" Benar kan kataku... ", tukas Ipenk bangga.
" Iya deh.., salut...., ini ada enam panggilan tak terjawab dan lima pesan suara dari Dhea.
Gilang pun mendengarkan lima pesan suara dari Dhea.
"Lang..., sudah pulang belum..? ".
"Kapan mau jemput Dhea..? ".
" Di telpon kok engga di angkat..? ".
" Cepat kesini dong Lang...".
"Gilaaaaaaaaaaaanngg...!!! ".
Pesan suara yang terakhir, membuat Gilang harus menjauhkan handphone dari hadapannya. Ipenk cuma tertawa ngakak, Gilang pun jadi ikutan.
__ADS_1
" Ya sudah..!!, aku cabut dulu Penk daripada pesan suaranya bertambah ", ujar Gilang.
" Oke deh bro.., hati - hati yah ?! ".
" Yuph..!!", kata Gilang sambil melambaikan tangannya.
Setelah itu Gilang pun sudah melaju motornya Ipenk keluar sampai depan pintu gerbang. Seiring itu, Ipenk pun berjalan sendirian ke ruang aula.
******
Saat ini Gilang sudah hampir sampai di pos penjagaan komplek perumahan Dhea,karena Gilang memacu motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Bahkan ditikungan sebelum memasuki pos penjagaan, Gilang hampir saja terjatuh, tapi untung saja ia bisa dengan spontan memperlambat laju kendaraannya dengan sedikit mengerem dengan gati - hati, sehingga laju motor menjadi lebih pelan. Ketika ia sudah sampai di depan pos penjagaan, Gilang pun menyapa Memet yang sudah melambaikan tangannya dari jauh.
"Mas Gilang..., hati - hati kalau lewat disitu. Memang licin, banyak pasirnya. Kalau lewat disekitar situ, pelan - pelan saja deh".
" Iya Met, hampiiirr saja aku nyium tanah.. ", ujar Gilang, lalu berhenti sebentar di pos, penjagaan. Memet cuma tersenyum kecil. " Mau kemana mas..? ".
" Biasa..., absen dulu ", ujar Gilang lagi, Memet tertawa lepas. " Kok saya jarang yah , ketemu sama Dhea...? ".
" I.ya, hari itu..,pas saya sedang cerita'in tentang kamu juga, langsung di cariin ".
" Tapi kata mas Dody, kamu lagi pulang kampung ".
Ooooooohhh..., Iya..,...iya.., kemarin saya pulang dua hari mas, soalnya mau jenguk bapak mertua nih, lagi sakit ", tutur Memet.
" Sekarang keadaan nya gimana Met..? ".
"Alhamdulillah..., sudah agak baikan mas.. ".
Syukurlah Met...kalau gitu..., aku masuk dulu ya Met.., handphonenya udah bunyi - bunyi terus nih..! ".
Memet cuma cekikikan. " Oke deh mas..!!, pelan - pelan saja mas, takutnya banyak pasir..!! ".
" Oke deh Met, makasih yah..!! ", ujar Gilang sambil melambaikan tangannya kepada Memet dan Memet pun membalasnya.
Gilang memang merasakan getaran disaku celananya disepanjang jalan. Tapi Gilang tidak menggubrisnya, sebab ia tidak ingin berhenti ditengah jalan hanya untuk menjawab telepon dari Dhea, sedangkan ia memang sedang dalam perjalanan ke rumah Dhea. Dan Gilang sudah bisa menebak , pasti Dhea sudah menunggu di balik pagar. Lagi - lagi Gilang benar, Dhea sudah berdiri pagar gerbangnya, mulutnya pun di monyong - monyongin. Gilang cuma tertawa nyengir ketika memandang ke arah Dhea yang langsung membuka pintu pagar. Ia pun berjalan keluar sambil masih memasang wajah cemberut.
"Ke mana aja sih Lang?, telpon ga di angkat, pesan suara ga di balas, Dhea pikir kamu sudah lupa tau..!! ".
" Enggalah, mana mungkin sih aku lupa, lagian tadi kan aku lagi OTW, Dhe...,ga mungkin bisa angkat telpon dari kamu dong.., tapi yang penting kan sudah datang", tukas Gilang . Dhea masih saja cemberut.
__ADS_1