
Gilang dan Dhea sudah berjalan masuk menelusuri koridor, dan ketika mereka sudah di dalam aula, Ipenk terlihat sedang menggesek biola, dengan pak Ketut mengarahkan nya dari samping. Gerakan nya memang terlihat kaku, apalagi Ipenk yang dadar nya tidak punya keahlian bermain biola, juga dari awal memang engga ada niat ke alat itu.
"Kamu mau belajar biola juga Penk ? ", tanya Gilang bersemangat.
" Ah...,cuma iseng - iseng aja sih.., sambil nungguin kamu datang Lang", ucap Ipenk sambil cengengesan. Sedangkan Dhea langsung melompat dan duduk di atas panggung.
"Lang.., kalau tidak ada halangan, mungkin bulan depan, kita akan mentas", ujar pak Ketut sambil berjalan ke sebuah kursi besi, kemudian duduk di situ.
" Iya pak. Oh iya.., apa gedung nya sudah ada pak ? ".
"Yah..itu, gedung yang sudah di janji kan beberapa bulan yang lalu ".
" Gedung Kartini ?, bukan nya kata pak Heri sudah penuh, sudah di booking semua ? ".
" Memang sih.., bulan lalu kata nya begitu, tapi, dengar - dengar ada yang membatalkan sewa nya untuk bulan depan, jadi nya di oper ke pak Heri ".
" Emmm.., bagus deh pak kalau begitu", ujar Ipenk .
"Iya..., kita jadi engga usah tunggu terlalu lama ", timpal Gilang.
" Kita sih sudah siap, tinggal yang lain nya. Takut nya sih yang di bagian group tari, soal nya dari bu Harni belum ada konfirmasi ", tutur pak Ketut. " Oke, kita latihan deh sekarang.. ", lanjut pak Ketut.
Sesaat kemudian, Gilang sudah larut dalam gesekan biola nya, irama musik nya benar - benar indah, sehingga membuai mereka yang ada di dalam gedung. Setelah bermain beberapa lagu, Gilang pun mangakhiri permainan nya yang di sambut dengan tepuk tangan meriah dari Dhea. Kemudian ia melompat turun dari atas panggung yang tidak berapa tinggi. Setelah itu ia berjalan ke arah Gilang sambil masih tetap bertepuk tangan.
"Bagus..., bagus..!! ", sahut Dhea. " Benar - benar indah Lang, Dhea jadi seperti mau melayang.. ", ujar Dhea tersenyum puas.
" Hah..!!, beneran nih ?, makasih benyak, atas pujian yang setinggi langit", ucap Gilang sambil membungkuk memberi hormat.
Dhea cuma tersenyum, lalu cengar - cengir.
"Sekarang giliran Dhea dong Lang ! ", pinta Dhea.
" Sebentar lagi Dhe, ini tinggal sedikit lagi, habis ini pak Ketut mau pulang sih.. ".
" Oke..., oke...", tukas Dhea sambil melengos pergi.
Lalu pak Ketut memberikan arahan yang lumayan banyak. Dan itu juga, karena ia yakin kalau Gilang sudah benar - benar menguasai semua tehnik , maka pak Ketut pun berani meninggalkan Gilang untuk berlatih sendiri dengan mengikuti arahan - arahan nya tadi.
Setelah pak Ketut pergi, mereka bertiga pun bisa lebih santai, apalagi pak Heri yang tidak kesini hari ini, karena punya kesibukan lain.
"Lang..., gantian Dhea dong... ".
__ADS_1
" Ok deh.., oke.. ".Gilang pun menghentikan permainan, dan giliran Dhea yang mengambil alih sambil di arah kan oleh Gilang, cara - cara yang pernah di ajar kan oleh pak Ketut, ia jabarkan sedikit kepada Dhea.
Ipenk yang duduk di kursi besi pun sesekali terlihat menguap, lalu ia pun bangkit dari duduk nya dan berinisiatif pergi keluar untuk mencari angin segar.
" Lang, aku keluar beli minuman dulu deh, soal nya ngantuk banget nih ! ", sahut Ipenk sembari menggaruk - garuk kepala, ga jelas.
" Iya..., iya..., jangan lama - lama Penk ..!! " , sahut Gilang juga.
Ipenk pun berbalik melangkah pergi sambil melambaikan tangan nya.
Kali ini Dhea benar - benar menunjukkan niat nya bermain biola, mimik wajah nya begitu serius. Gilang saja di buat kagum, karena dalam beberapa kali latihan saja, Dhea sudah hampir bisa memainkan setengah lagu. Setelah di setengah lagu terakhirnya, Dhea agak kesulitan lalu ia menghentikan permainan nya.
"Kenapa Dhe..?, lupa ya..? ", tanya Gilang sambil tersenyum.
" Bukan Lang , tapi jari Dhea ini lho, sakit banget ", ujar Dhea sambil menunjukkan jari tangan nya yang memerah.
" Oh..., memang seperti itu sih kalau belum terbiasa menekan senar nya, tapi kalau sudah sering main tapak jari nya akan mengeras kaya gini Dhe ", tutur Gilang sambil memperlihat tapak jari yang sudah mengeras kulit nya. Dhea pun menatap jari Gilang sambil mengernyitkan dahi, lalu meraba nya.
" Ih..., kasar banget Lang.. ", ujar Dhea tersenyum menyeringai. Gilang cuma nyengir.
" Tapi nanti bisa jadi halus lagi kan Lang, jari nya ? ".
Dhea cuma manggut - manggut sambil tetap menatap jari nya mulai terasa kasar.
" Ya sudah, sekarang Dhe istirahat dulu. Aku latihan lagi yah, Dhe nonton aja.. ".
"Lang.., Dhea mau request lagu... ".
" Ya..., ya..., mau lagu apa sih..? ".
" Yang romantis deh pokok nya... ".
" Yang romantis yah ?, emmm.... ", ucap Gilang sambil berpikir sejenak. " Nah.., gimana kalau" Fairy Tale " (Dongeng),aja yah ".
Dhea mengangguk. " Romantis ga Lang ? ".
Gilang balas mengangguk sambil mengacungkan jempol nya.
" Kalau gitu cepetan Lang..!!, Dhea udah ngga sabar nih..!! ".
" Iya..., iya...", ucap Gilang, lalu meletakkan biola di bahu nya, dan mulai memainkan biola nya.
__ADS_1
Dhea benar - benar serius mendengar kan, sambil sesekali bertepuk tangan kecil. Mata nya berbinar - binar takjub. Tidak berapa lama, tiba - tiba saja Dhea menetes kan air mata nya, ia menangis terharu. Gilang pun dengan spontan menghentikan permainan nya.
"Kamu..., kamu kenapa Dhe..? ", tanya Gilang gugup sambil memegang bahu Dhea. Dhea pun menyeka air mata nya lalu menggeleng.
" Dhe....,Dhea cuma terharu banget denger nya Lang, it.. Itu bener - bener nyentuh banget di hati Dhea...., bener - bener....nyentuh... ".
" Ya udah, kita istirahat dulu yah...? ", ucap Gilang sambil menggandeng tangan Dhea dan menuntun nya ke sebuah kursi.
" Jangan Lang.., Dhea masih pingin dengar. Lanjutin aja sampai selesai.. ", pinta Dhea. Sesaat Gilang agak ragu.
" Kamu yakin Dhe...? ".
Dhea mengangguk. Gilang pun mau tidak mau, menuruti permintaan Dhea. Ia pun mulai memainkan kembali biola nya. Tidak lama kemudian, ia sudah meliuk - liuk mengikuti irama yang terdengar dari biolanya itu.
Dhea yang tadi nya duduk diam pun jadi berdiri, karena terlalu menghayati, ia pun ikut meliuk - liuk kan badan nya mengikuti irama.
Tapi, tiba - tiba, Dhea merasakan kepala nya seperti tersengat sesuatu,, serasa mau pecah, dan pandangan menjadi kabur.Pijakan kaki nya mulai goyah. Tapi Gilang belum sadar, sesaat kemudian Dhea pun roboh di samping Gilang. Kejadian beberapa detik itu membuat Gilang tersentak kaget, biola yang lepas dari tangan nya pun tidak di hiraukan lagi.
"Dheeeee....??!!!, Dheaaaaa...!!! ", teriak Gilang yang berusaha tidak panik. Gilang pun memandang berkeliling,mungkin ada orang disitu yang bisa dimintai tolong. Tapi nyata nya tidak ada sama sekali, dan ia pun memanggil Ipenk.
" Peeeennnkk...!!, Ipeeennkk..!! ", teriak Gilang langsung berlari ke depan pintu.Tapi Ipenk tidak terlihat disitu, Gilang pun berlari balik ke tempat Dhea. Gilang pun langsung menggendong Dhea ke belakang punggung nya dan berlari keluar sambil mengeluarkan handphone dari saku celana belakang. Wajah Gilang benar - benar terlihat cemas tapi berusaha untuk tidak gugup.
" Beh.....hehh..., berhh...., bertahanhh Dhehhh...", ucap Gilang tersengal - sengal. "Akh..., akuhh...akuhh akan carihh ojekhh mobil hhh duluhh... ", gumam Gilang sambil mengatur nafas nya.
Kini ia sudah di depan pintu gerbang kampus.Sepanjang koridor tadi, ia tidak menemukan satu orang pun di sana, tapi begitu ia sampai di depan gerbang, barulah tampak beberapa anak - anak kampus yang memperhatikan nya. Tapi Gilang sudah tidak perduli lagi, yang ada hanya diri nya berfokus pada Dhea yang masih belum sadar.
Gilang memandang sekeliling lalu mulai menghubungi ojek mobil online.
"Ah sial...!!!, butuh lima belas menit lagi untuk sampai kesini ?!, apa engga bisa lebih cepat lagi..?!! ", gerutu Gilang pelan. Saat ini ia hanya bisa mondar - mandir menunggu, berharap - harap masih bisa bertemu Ipenk, walau ia membawa beban, tapi ia sudah tidak merasakan berat. Dan untung saja, tidak lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam mengkilap datang menghampiri nya.Mobil itu pun membuka kaca depan nya.
"Saudara Gilang...? ", tanya seorang anak muda yang mengemudikan mobil itu.
" Iyahh bang !! ", ujar Gilang pendek sambil membuka pintu samping mobil, dan ia pun berusaha menurunkan Dhea ke dalam mobil dalam posisi berbaring dan pintu di tutup, lalu Gilang berlari ke arah sebelah nya dan setelah ia masuk ke dalam mobil.
" Ru....,rumah...sakith...bang...!!, to...tolong... lebih cepat sedikit bang..!! ", pinta Gilang kepada si supir ojol. Gilang pun membaringkan kepala Dhea ke pangkuannya.
" Rumah sakit yang terdekat ya..!! ", ujar supir itu, yang langsung menjalankan mobil nya. "Kenapa engga pakai ambulans saja mas..? ", tanya si supir.
" Takut nya kelamaan bang... ".
" Oohh...", ucap supir itu yang langsung melaju mobil nya agar sedikit lebih kencang.
__ADS_1