Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).

Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).
Bab 15 : Pesona Dhea.


__ADS_3

Sesaat kemudian, mereka berdua pun terdiam. Lalu Dhea menghela nafas panjang.


"Hem..., jadi sekarang kamu sedang serius menekuni permainan alat musik biola ya ? ".


" Yuphhh... ", sahut Gilang mantap.


" Sudah berapa lama Lang ? ".


" Sejak aku berumur enam tahun, padahal sejak aku lebih suka bermain ukulele, tapi entah kenapa malah jatuh cintanya sama biola... ", tutur Gilang sambil tertawa kecil.


" Yahh.., mungkin daya tariknya lebih ke biola", timpal Dhea. "Lalu kapan pak Heri akan mengadakan pertunjukan itu Lang..? ".


" Entah lah.....pak Heri belum konfirmasi denganku.. ".


" Terus bagaimana dengan kuliah mu Lang ?, apa tidak terbagi fokusnya ? ".


" Yaaaaahh sepandai - pandai kitalah yang mengaturnya, harus bisa membagi waktu. Lagian mau gimana lagi, sudah jalannya seperti ini... ", ujar Gilang sambil mengangkat tangannya ke atas.Dhea tersenyum geli.


" Lalu bagaimana dengan kamu?, masih kuliah? ", tanya Gilang balik. Dhea cuma mendesah cape.


" Aku ngga lanjut kuliah Lang, padahal papa maunya aku bisa kuliah dan mengambil di kejurusan kedokteran, tapi kata hatiku seolah - olah berontak. Otakku Sudah mampet sama pelajaran.Untungnya papa ga maksain aku. Karena aku sudah dewasa", cerita Dhea. Gilang Diam dan menyimak. Tapi ternyata ini lah yang ada dalam pikiran Gilang. " Astaga, Dhea benar - benar tumbuh menjadi gadis yang cantik. Pasti semua cowok mengidam - idamkan wanita secantik dia. Pasti sudah banyak cowok tampan dan kaya yang mendekatinya, apakah aku pantas memilikinya, apakah aku pantas berjalan dengannya, dan pantaskah aku menjadi pacarnya. Kali ini Gilang menjadi ragu. Keraguan akan dirinya bisa berdampingan dengan Dhea. Seberapa pantaskah aku ? Apakah aku harus mundur dan mengurung kan niatku untuk mengatakan cinta kepadanya. Gilang mulai lemas. Tiba - tiba.


" Lang?! Giliran kamu yang ngga fokus deh?! ", suara Dhea memecahkan lamunan Gilang. Kali ini giliran Gilang yang gelagapan.


" Ad...ada kok...malah....fokus banget", ujar Gilang sambil nyengir kuda. Gilang bohong. "Fokus apaan...?! ", sahut Dhea sambil memicingkan matanya.


" Itu... Tadi kamu bilang, kamu lebih suka kuliah di Indonesia dari pada di Belanda", ucap Gilang gugup.


Dhea cuma mendelik. " Aku ga cerita seperti itu Lang", tukas Dhea. Gilang cuma cengengesan. Dhea pun menonjok bahu Gilang tapi tidak kencang, makanya Gilang cuma tertawa.


" Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu, apakah mereka berencana untuk menetap selamanya disitu? ,ga ingin pulang ke Indonesia lagi?", tanya Gilang serius.


" Entahlah Lang, papa ngga ngomong apa - apa saat itu. Dia engga pernah membahasnya sama sekali, soalnya terlalu sibuk dengan kerjaannya", tukas Dhea.


" Terus bagaimana dengan mama kamu?, apa dia juga setuju kalau kamu engga lanjutin kuliah? ", tanya Gilang panjang. Tiba - tiba Dhea terdiam dan menunduk . Gilang sadar ada ucapannya yang salah.


" Dhea....?, Dhea Kenapa kamu?, apa aku salah ngomong? ", tanya Gilang bingung. Dhea tetap diam. Tapi akhirnya ia berkata.

__ADS_1


" Mama udah ngga ada Lang? ", ucap Dhea pelan.


" Mak... Maksud Kamu... , mama kamu? ", Gilang tidak melanjutkan.


" Mama sudah meninggal", ucap Dhea sedih, matanya sedikit berkaca - kaca.


" Tante Siska..", gumam Gilang pelan. "


Sudah berapa lama? ", tanya Gilang.


" Setiba kami di Belanda, mama sering mengeluh sakit di bagian dadanya. Tapi setiap kali papa ingin membawanya ke dokter mama selalu menolak. Ia cuma berkata, kalau ia akan baik - baik saja. Tapi nyatanya, dari hari ke hari keadaannya semakin memburuk, bahkan rambutnya semakin rontok", ucap Dhea gugup. Tubuhnya gemetaran, air matanya hampir turun, tapi ia berusaha tegar. Gilang Cuma diam menunduk.


" Kangker Payudara", batin Gilang dalam hati. Lalu dhea melanjutkan ceritanya.


" Saat itu aku masih kecil Lang, tidak bisa berbuat banyak. Aku cuma diam melihat papa panik, dan cuma bisa menangis tiap melihat mama merintih kesakitan. Tiap hari rasa sakit itu menyiksanya. Sampai suatu saat, mama sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya, tapi mama masih sempat berpesan, kalau papa boleh mencari pengganti mama, asal orang itu harus bisa menyayangi Dhea. Papa cuma diam, lalu mengangguk. Mama memandangku sebentar", kali ini Dhea sudah tidak sanggup menahan air matanya. Dhea pun menangis terisak - isak.


Gilang hanya bisa diam memandang Dhea, matanya agak sedikit sembab.


" Mama memandangku sebentar, dan tersenyum kepadaku Lang", " Kamu baik - baik saja sama papa yah, nurut sama papa, sayang sama papa, jangan bandel, jadilah wanita yang kuat". Ucap mama pada Dhea. Lalu mama meringis kesakitan dan disaat itu mama.... Mama menghembuskan nafasnya.... yang terakhir... Lang". Dhea makin terisak. Aku...aku mencoba mengguncangkan tubuh mama, tapi mama tetap tak bergerak Lang.... Mama... Mama sudah pergi Lang... ". Dhea menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya makin kencang. Gilang Berdiri lalu berjalan kearah Dhea. Sejenak ia terhenti dan ragu. Gilang dalam bimbang. Tapi akhirnya ia nekat, perlahan - lahan ia merangkul untuk berdiri lalu.... Gilang pun memeluk Dhea.


" Kamu yakin engga mau masuk dulu Lang? ", tanya Dhea . Gilang cuma menggeleng.


" Nanti Dhea bikinin teh hangat", ucap Dhea tersenyum.


" Lain kali aja deh, ga enak nih sama Omah kamu", ujar Gilang sambil menunjukkan dirinya yang basah kuyup.


" Omah tidak pernah cerewet Lang", ujar Dhea sambil tertawa kecil. Gilang Cuma kikuk.


" Ya deh, tapi lain kali , mampir kesini yah", tukas Dhea. Gilang tersenyum.


" yaph, siap bos !! , Ujar Gilang serius. Dhea tertawa lepas.


" Kalau gitu aku pulang dulu yah", pamit Gilang.


" Salam buat Omah kamu", ucap gilang sopan.


" Iya...hati - hati di jalan yah Lang...? ", ucap Dhea.

__ADS_1


" Iya... ", jawab Gilang singkat.


" Oke.... bye... ", ucap Dhea


" Bye... ", balas Gilang.


Lalu keduanya saling berpandangan . Hening. Tiba - tiba mereka jadi salah tingkah.


" Yah... Aku akan pulang sekarang", ujar gilang


"Yuph... ", balas Dhea kikuk.


" Yah ....aku....pergi sekarang... ", kata Gilang bimbang.


" Ya...bye... ", ucap Dhea menunggu.


Lalu gilang pun siap - siap pergi, tapi tiba - tiba jadi ragu. Seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi berat diucapkan. Lalu Dhea berkata.


" Oh iya Lang... makasih yah udah nemenin aku hari ini, udah mau dengerin curhat aku...".


"Dhea.., kamu engga usah berterima kasih, kamu kan sahabat karib ku, sudah sepantasnya aku denger curhat kamu ", ujar Gilang sambil tersenyum.


" Maaf juga ya Lang kalau aku sudah menyusahkan kamu, sampai hujan - hujanan begini , ga seharusnya aku melibat kan kamu dalam masalahku ... ".


" Dhea...,Dhea..., jangan ngomong begitu...karena aku ga merasa, kamu nyusahin aku...engga Dhea, ak...aku senang bisa temani kamu hari ini, dan kamu....kamu itu sahabat aku....sahabat masa kecil aku...


Kamu dengar Dhea, masalah kamu juga masalah aku... ", ucap Gilang sambil turun dari motornya dan mendekati Dhea. Dhea cuma menunduk sedih.


" Tapi...., tapi Lang..., ak...aku sudah meninggalkan kamu...., lalu apakah aku masih pantas jadi sahabat mu..? ".


Lalu Gilang memegang wajah Dhea dan mendongakkan wajahnya supaya ia dapat melihat Gilang.


" Ssshhhh..... Dhea... Dhea dengerin aku, kamu tidak boleh berkata seperti itu..lebih baik jangan membicarakan masalah itu lagi, oke. Pokoknya aku sudah melupakan masalah itu, jangan kamu bahas lagi masalah itu. Jangan merasa bersalah seperti itu, dan bagi aku, yang terpenting kita sudah bertemu lagi, itu sudah cukup buat aku... Dhea".


"Tapi Lang.....rasa bersalah itu selalu membayangi aku.., selalu menyiksa batinku .., dan mungkin,kamu bisa sampai membenciku, bila kamu mengingatnya lagi Lang... ".


Tiba - tiba Dhea mundur, menjauh dari Gilang. Gilang bingung, lalu Dhea berbalik dan berlari pergi..., Gilang pun panik..

__ADS_1


__ADS_2