
"Ayo Dhe, kita jalan - jalan aja yuk, sambil cari bakso nantinya", ajak Gilang.
" Iya Lang, Dhea juga sudah terasa lapar nih".
Gilang dan Dhea pun memilih untuk mengganti suasana dengan jalan - jalan saja atau pergi untuk mencari makan.
Gilang sudah berada di atas motor, ia menunggu Dhea yang sedang berbicara dengan Omah di handphonenya.
"Engga Omah...., sebentar lagi Dhe mau pergi makan sama Gilang. Omah makan saja, iya... Omah, sayang Omah bye...".
Dhea pun menutup handphone lalu ia berjalan ke arah Gilang yang sudah menunggunya diatas motor.Dhea langsung naik keatas motor dan memeluk Gilang seerat mungkin.
"Sudah non...? ", tanya Gilang.
" Sudah Lang..... ",sahut Dhea.
Motor Gilang pun melaju meninggalkan kepulan debu yang berterbangan diantara rumput dan ilalang.
Kini mereka berdua sudah berada di depan sebuah pasar dan melewati pertokoan yang padat dengan pedagang - pedagang kaki lima. Siang ini memang masih terlihat sedikit ramai, sebagian penjual sayur memang sudah ada yang tutup, sedangkan yang masih banyak beroperasi, rata- rata adalah toko sembako, toko buah, kedai bunga, juga toko elektronik dan toko - toko baju serta tas.
"Lang, bapak kamu jualannya di mana?",tanya Dhea sambil menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
" Bapak mah jualannya jarang sampai siang gini, kalau hari jum'at, biasanya cuma setengah hari, kalau selain hari jum'at, biasanya cuma sampai jam tiga siang sudah pulang".
Dhea cuma manggut - manggut, seolah- oleh ia paham. Setelah itu mereka melewati pertokoan yang lebih besar, lebih rapi dan bersih, jejeran - jejeran ruko yang luas dengan penjagaan dari security. Setelah melewati ruko - ruko besar, mereka kini di barisan kedai - kedai bermacam kuliner.
"Dhe mau makan apa? ".
" Makan bakso gepeng Lang, itu enak banget lho, Dhea aja kalau makan bisa sampai dua mangkok".
Gilang terbelalak.
"Busyet..., kamu jago makan juga yah? ", ujar Gilang melotot.
" Ha...ha..., cuma makan baksonya saja Laaang, engga mau pakai mienya, kosongan gitu... ".
" Oooohh..., kira'in. Kalau jago makan, nanti Gilang ajak ke... ".
__ADS_1
" Jangan ah..., Dhea takut gemuk Lang... ".
Gilang cuma tertawa geli. Lalu mereka pun berburu bakso gepeng, salah satu makanan favoritnya Dhea.
" Bakso gepeng....., bakso gepeng.... Bakso... ",
ucap Gilang pelan sambil mencari - cari tulisan bakso gepeng. Mungkin selain harganya mahal dan cara membuatnya lebih rumit, jadinya jarang penjual bakso yang mau menjual bakso gepeng seperti itu. Tidak heran kalau Gilang juga menemui kesulitan untuk mendapatkan kuliner yang satu ini. Setelah lama mencari. Ini juga demi yayang Dhea. Dan pada akhirnya, mereka menemukan sebuah kedai bakso sapi yang besar dan pengunjungnya juga ramai, mobil- mobil terparkir di situ, dengan motor yang berjejer disitu, itu mengingatkan kita akan omongan Gilang hari itu. Kalau kedai suatu makanan itu bisa ramai, berarti makanan itu enak, kalau engga yah berarti murah. Gilang pun memarkirkan motor. Dhea sudah turun dan menunggu di depan kedai, sebab jika tidak langsung mengantri maka kita akan mendapatkan pelayanan yang lebih lama lagi, sepertinya Dhea sudah pernah kesini soalnya dia sudah tahu seluk - beluk keadaan di situ.
Setelah Gilang memarkirkan motornya, ia pun menyusul Dhea yang sudah mengantri diantara pembeli yang juga ingin menikmati bakso gepeng.
"Masih lama Dhe...", ujar Gilang sambil menemani Dhea mengantri di situ.
" Iya, panjang banget sih, kata kamu kan kalau makanan enak kaya gitu".
"Pingin makan enak ya harus sabar".
Dhea cuma tersenyum kecut.
" Tapi ini rasa daging sapinya ketara banget Lang".
"Memangnya kamu pernah makan disini Dhe?".
" Sering, tapi waktu kecil, papa paling doyan sejak direkomendasi sama Omah, wah jadi ketagihan. Mama saja sampai bosen Lang, soalnya hampir tiap hari kesini.. ", tutur Dhea sambil tertawa geli. Gilang jadi ikut tertawa.
" Pasti perut papa kamu buncit ya? ".
Dhea mengangguk lalu mereka berdua pun tertawa lepas. Tak terasa candaan - candaan mereka membawa mereka sampai pada giliran pemesanan.
" Bungkus atau makan sini mba? ", tanya karyawan bagian pemesanan.
" Makan disini saja deh", jawab Dhea, lalu ia menengok ke Gilang .
"Kamu makan apa Lang? ".
" Aku sama'in aja deh, ikutin kamu".
"Setia banget.., ikutin Dhea ", ucap Dhea sambil tersenyum manis.
__ADS_1
" Harus dong", timpal Gilang.
Dhea pun kembali ke arah karyawan.
"Bakso gepengnya dua tapi kosongan ya, pakai sayur deh! ".
" Bakso gepeng dua , kosongan pakai sayur", ulang si karyawan kepada karyawan yang betugas memasak di belakang. Lalu Dhea membayar jumlah harga yang tertera. Tadinya Gilang yang mau membayar tapi Dhea menolak dengan alasan kalau kali ini, ia ingin mentraktir sekaligus merekomendasikan ke Gilang , lalu mereka berdua mencari - cari tempat duduk yang masih kosong, ada sih dekat pojokan tapi harus bergabung dengan dua orang yang terlebih dahulu duduk di situ.
Gilang dan Dhea pun duduk disitu sambil menyapa kedua orang yang sudah duduk disitu.
"Permisi ya mas, kita gabung disini", ucap Gilang sopan.
" Oh..., iya..., iya silahkan mas... ", balas orang itu juga dengan sopan.
Gilang dan Dhea pun menunggu dengan sabar, memang harus sabar, sebab bukan mereka saja yang makan disitu melainkan puluhan orang.
Yang lucunya Gilang tidak fokus saat diajak ngobrol oleh Dhea, sebab pandangannya selalu tertuju ke orang - orang sekitarnya, yang sedang makan dengan lahapnya, apalagi disaat mereka menikmati mie dan kuahnya selalu mengeluarkan suara - suara yang akan membuat Gilang menelan air ludahnya. Dhea saja sampai tertawa geli melihat wajah Gilang seperti itu. Tapi untung saja kejadian ini tidak berlangsung lama, sebab kini pesanan mereka sudah tiba dan terhidang dimeja tepat di depan mereka.
"Mau minum apa mas..? ", tanya si pelayan yang membawa makanan mereka tadi.
" Minum apa Dhe? ", tanya Gilang ke Dhea .
" Es jeruk deh", ucap Dhea
"Ya sudah samain saja, es jeruk dua", ujar Gilang ke pelayan. Lalu si pelayan itu pun menuju ke belakang.
" Ayo Lang, dimakan, itu ada sambel sama kecapnya, pakai jeruk nipis juga enak", ujar Dhea ke Gilang yang masih asyik memandang ke bakso gepeng nya. Sesaat kemudian mereka sudah asyik menikmati bakso gepeng pak Men yang paling terkenal dikawasan itu. Tidak sampai lima belas menit ternyata mangkok mereka berdua sudah kosong.
"Gimana Lang?, enak ngga?
Gilang belum bisa bicara, mulutnya masih penuh dengan bakso. Ia hanya mengangguk sambil terus mengunyah belum lagi di tambah keringatnya yang mengucur dari keningnya, akibat dari sambel yang menyengat lidah plus panasnya kuah yang mengepul.
Gilang pun mengacungkan jempolnya.
" Oke kan?, kalau begitu kita tambah lagi satu mangkok", ujar Dhea penuh semangat.
Tadinya Gilang hendak melarang, tapi sudah terlambat soalnya, mulut Gilang masih terus mengunyah.
__ADS_1
"Bakso gepeng lagi dua mas, kosongan pakai sayur", teriak Dhea kepada pelayan yang tidak jauh darinya. Dan teriakan Dhea tadi mengundang beberapa orang yang sedang duduk disitu menengok ke arahnya.