Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).

Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).
Bab 46 : Bermain ke kedai Bunga


__ADS_3

Saat itu, Omah sudah berada di depan kedai. Mencari - cari bunga yang ia sukai. Tapi sepertinya Omah sedang kebingungan, mungkin saja ia tidak mendapatkan bunga yang ia ingin kan. Saking asyik nya Omah mencari bunga, sampai - sampai ia tidak tahu kalau seseorang sudah berdiri di belakang nya.


"Nah yang itu bagus bu.., lebih bagus lagi kalau di gantung di teras depan rumah.. ", ucap orang itu sopan. Omah pun menoleh ke belakang.


" Oh ya, saya juga berpikiran seperti itu. Coba ada yang lebih terang lagi", ucap Omah tersenyum.


"Kalau tidak salah, kami masih punya warna kuning di halaman belakang bu ".


" Oh ya.., boleh juga yang warna kuning.., bisa saya lihat bunga nya ? ".


" Bisa bu, em...,tunggu sebentar ya bu, saya ambil dulu di belakang ", ujar orang itu sambil jalan ke belakang.


" Lho.., Dhea..? ", ujar orang itu setelah melewati meja kasir. " Tumben..., sama siapa kesini nya ? ".


Dhea yang di tanya malah cengar - cengir.


" Tuuuhh..., sama Omah nya Dhea ", tukas Dhea sambil menunjuk ke arah Omah yang sedang mencari - cari bunga, ditemani pak Karyo.


"Yang di depan itu ?, yang lagi cari - cari bunga itu, Omah nya Dhea ? ", tanya orang itu berkali - kali.


Dhea mengangguk tersenyum.


" Ooooohh.., saya belum pernah bertemu Omah sebelum nya sih.. ", tukas Deny sambil tertawa kecil. " Kalau Rena sih, udah sering ketemu, iya kan Ren ? ", tanya orang itu sambil tersenyum ke arah Rena. Rena cuma diam tak merespon.


Kemudian orang itu pun langsung melengos ke belakang, dan ternyata orang itu adalah Deny, salah satu karyawan di kedai bunga yang juga teman nya Gilang.


" Ren, gimana pun juga Dela adalah temannya mas Deny, jadi biarlah...., jangan di ungkit masalah ini, mas Deny engga perlu tahu. Enjoy aja yah", tutur Dhea. Rena pun mengangguk.


"Pokoknya Rena jangan khawatir, kalau Dela berani macam - macam lagi, biar urusannya sama Dhea aja, oke Ren?, kamu tenang aja yah".


Rena pun tersenyum lalu mengangguk. Tidak lama kemudian Deny sudah kembali membawa dua pot bunga anggrek kecil yang berwarna kuning.


" Oh iya, Dhea sama Omah mau minum apa biar nanti Deny pergi beliin".


"Engga usah repot - repot deh mas, air putih aja cukup".


" Masa tamu istimewa kesini cuma di suguhin air putih? ", tukas Deny sambil nyengir.


" Istimewa gimana?, Omah aja belum tentu beli", ujar Dhea tertawa geli.


"Ya sudah, pokoknya tungguin aja ya.... ", pungkas Deny yang langsung membawa dua pot bunga itu ke depan untuk di kasih lihat Omah nya Dhea.


Lalu Dhea dan Rena pun sudah asyik mengobrol.


" Gimana hubungan kamu sama mas Deny, Ren ? ", tanya Dhea tiba - tiba.


" Hubungan apa sih mba", tanya Rena balik sambil tersenyum malu.


"Lho..., memangnya selama ini kalian bukan pacaran? ", tanya Dhea lagi, kaget.

__ADS_1


" Engga kok, Rena sama mas Deny cuma taman baik, engga lebih kok".


"Heeemm...?, tapi kalian kok sepertinya dekat banget, sampai - sampai aku sama Gilang mengira kalian sudah pacaran lama".


" Yah..., soalnya mas Deny kan kerja di sini sama Rena, jadi..., mungkin saja kelihatannya akrab banget ".


" Kenapa kalian berdua engga mau jadian aja?, kalau Dhea lihat kalian itu cocok banget. Dhea percaya kok mas Deny orang yang baik, jadi tunggu apa lagi? ".


Rena cuma diam, ia jadi merenung. Dhea pun mengerti.


" Kamu jangan berkecil hati Ren, lagian kalau Dhea lihat sikap mas Deny terhadap Rena, itu setahu yang Dhea lihat yah, sepertinya mas Deny menyukai Rena apa adanya, dia pasti tidak mempermasalahkan keadaan Rena, dan ada satu hal lagi yang Dhea ingin ketahui dari Rena. Benar ngga kalau mas Deny selalu mau berbuat apa saja demi Rena? ", tanya Dhea kali ini, setelah ia bertutur panjang lebar, Rena pun tampak sedang berpikir, dan akhirnya ia mengangguk pelan.


" Berarti, tidak perlu di tanya lagi kalau... ".


Belum selesai Dhea berujar, tiba - tiba saja handphone yang ada di dalam saku celana belakangnya berbunyi. Ternyata telpon dari Gilang.


" Iya Lang, ada apa? ", tanya Dhea sambil mengaktifkan speaker handphonenya.


" Lho..., kamu engga mau ikutan latihan? ", tanya Gilang dari speaker handphone.


" memangnya kamu sudah pulang? ".


" Ya sudah dong Dhe, ini lagi siap - siap jemput kamu, hem...kamu engga di rumah ya?


"Hi...hi..., tau aja..., coba tebak..., Dhea ada di mana? ".


" Eee, dimana yah...?, di pasar... ?, temani Omah belanja? ".


" Salah... ".


" Salah... ".


" Eeee..., lagi di dalam mobil sama Omah, sama pak Karyo? ".


" Hampir benar... ".


" Pasti lagi pada makan - makan di luar yah? ".


" Salah... ".


" Aduuuh apaan sih...? ", terdengar suara Gilang mengeluh. Dhea dan Rena pun tertawa lepas.


" Lho kok ada suara orang lain? ", tanya Gilang dari speaker.


" Ya itu suara Omah dong..., gimana sih Gilang? ".


" Hadeeeh...!!, suara Omah engga kaya gitu Dhe".


"Memangnya kaya gimana suara Omah? ".

__ADS_1


" Yah, kaya suara orang yang sudah tua gitu".


"Memang Omah sudah tua... ".


" Iya, tapi suara yang terdengar tadi sepertinya suara orang yang masih muda".


"Ya berarti siapa dong..?".


" Eee....., siapa ya...?, tunggu dulu ya..., coba aku pikir dulu".


"Kelamaan deh Lang. Dhea itu lagi sama Omah, sama pak Karyo lagi di kedai bunganya Rena ".


" Bukan punya saya mba, tapi punya pak Steve", ucap Rena sambil tertawa.


"Iya Ren, maksud Dhea gitu. Di tempat kamu kerja ", ucap Dhea sambil tertawa geli.


" Ya Lang, Dhea lagi di tempat kerja nya Rena. Nanti kamu langsung kesini aja ya Lang.. ".


" Iya..,iya..., aku langsung ke sana deh! ".


" Dhea tungguin ya Lang!, hati - hati... Lang! ".


" Yaph! ".


Setelah itu terdengar Gilang yang menutup teleponnya dari sana.


" Bentar lagi aku mau pergi ya Ren... ", ujar Dhea.


" Buru - buru banget mba, mau kemana sih..?".


"Mau ikut Gilang latihan biola, lagian Dhea juga ingin berlatih main biola Ren,biar nantinya bisa kaya Vanessa Mae", tukas Dhea sambil tertawa geli.


" Mas Gilang nya engga kuliah ya mba? ".


" Ada, tapi udah pulang Ren. Sekarang mau latihan biola".


Tidak berapa lama Deny sudah datang sambil membawa empat gelas minuman dingin yang di belinya dari kafe mas Eki.


"Ayo..., pada di minum dulu, cuaca kaya gini engga mungkin pada engga haus...!!".


" Aduh...., mas Deny ini....,udah di bilangin ngga usah repot - repot.... ".


Deny cuma cengar - cengir.


"Tadi ..., Omah saya tawarin malah engga mau Dhe... ".


" Omah engga suka minuman kaya beginian. Dia lebih suka air putih", tutur Dhea sambil memandang ke Omah.


"Iya, tadi sudah saya kasih air mineral. Tapi kalau pak Karyo sih,mau tuh.... ".

__ADS_1


" Pak Karyo mah engga usah tanya, paling doyan sama es.


Lalu mereka bertiga pun tertawa lepas.


__ADS_2