Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).

Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).
Bab 37 : Seandainya..


__ADS_3

Seorang bapak - bapak yang sedang duduk di bangku panjang berwarna putih pun memanggilnya. Gilang pun berlari ke arahnya sambil menggendong Dhea.Dengan di bantu bapak itu, Gilang membaringkan Dhea di bangku panjang. Bapak itu pun mengeluarkan minyak angin dari sakunya, lalu di oleskan sedikit ke sekitar bagian hidungnya Dhea, dan Gilang pun memijit - mijit jempol kakinya Dhea. Setelah beberapa menit tak sadarkan diri, akhirnya Dhea terbangun sambil memegang kepalanya dan ia pun mendesis kesakitan.


"Sssshhh..., sakit banget...., Lang...., Gilang... ", panggil Dhea.


"Ya Dhe, ada apa?, kamu..., kamu jangan bangun dulu", ucap Gilang mencegah Dhea, karena Dhea ingin bangun dari tempat duduk itu.


" Adek jangan bangun dulu dek, baring - baring sebentar biar enakan dulu", tukas bapak yang tadi membantu Gilang, Dhea pun berbaring kembali sambil memejamkan matanya .


"Nanti kalau sudah setengah jam lebih baru boleh coba bangun, pelan - pelan ",ucap bapak itu sambil berjalan pergi dari situ.


" Iya terima kasih pak", ucap Gilang sembari memandang bapak itu hingga lumayan jauh. Kemudian Gilang pun kembali menengok Dhea yang masih sesekali mendesis sakit.


"Kalau sudah enakan, kita pulang ya Dhe", ajak Gilang.


Dhea langsung memegang tangan Gilang.


"Jangan dulu deh Lang,Dhea masih pingin jalan - jalan.. ".


"Tapi Dhe..... ".


" Lang, besok- besok kita kan susah bisa bersama seharian".


"Tapi kesehatan kamu itu lebih penting, kalaupun... ".


" Lang, Dhea baik - baik saja kok, jadi belum ingin pulang, Dhea masih pingin main Lang...., pliiish... ".


Kalau Dhea sudah memohon, Gilang pun pasrah saja, gimana pun tetap ngga bisa di bujuk.


Akhirnya Gilang mengangguk. Dhea pun bangun perlahan - lahan untuk duduk bersandar.


" Kamu tunggu di sini sebentar ya Dhe, aku pergi beli minuman dulu".


"Jangan lama - lama ya Lang... ".

__ADS_1


" Iya".


Gilang pun mencari - cari gerai minuman yang ada di dalam mall, ternyata Gerai itu tidak jauh dari tempat mereka duduk. Dan sesaat kemudian, Gilang sudah kembali dengan dua gelas lemon tea. Lalu Gilang membantu Dhea agar bisa menyedot minumannya. Setelah itu Dhea merasakan tubuhnya lebih enakan dikit.


"Gimana Dhe..., seger? ".


" Hem, lebih enakan dikit Lang, sudah rada mendingan, mungkin tekanan darah Dhea yang kurang stabil.


"Ya sudah, engga apa kita duduk - duduk santai saja disini... ".


Dhea pun sesekali memejamkan matanya. Gilang pun duduk bersandar di samping Dhea.Sambil menunggu Dhea,Gilang pun memejamkan matanya sekejap.


Tidak terasa mereka berdua ternyata sampai tertidur cukup lama. Hingga security mall yang harus membangunkan mereka berdua.


" Mas...., maaf mas...., mas,... ", panggil security sambil menepuk - tepuk lengan Gilang. Gilang pun tersentak bangun, lalu ia mengucek - kucek matanya sambil memandang kanan - kiri, lalu mendongakkan kepala memandang kearah security, dan Gilang tersenyum kepadanya.


" Maaf mas, sebentar lagi mallnya sudah mau tutup"


"Ah..,.i.., iya.., ma..., maaf pak... "


"Dhe..., Dhe....,Dhea", panggil Gilang menepuk tangan Dhea, lalu menggoyang - goyang tangannya.


Dhea perlahan - lahan membuka matanya lalu menatap Gilang dan tersenyum.


" Lang, kita ada dimana? ".


" Kita berada di masa lalu Dhe", ujar Gilang tertawa kecil. Dhea pun tertawa geli.


"Asal ah kamu Lang, mana bisa kita ke masa lalu...".


" Kalau seandainya....,ini seandainya yah..., kalau seandainya bisa kembali ke masa lalu, apa yang akan kamu lakukan Dhe, pertama- tamanya.... ? ".


" Kalau bisa kembali ke masa lalu... ", Dhea pun berhenti dan berpikir sambil matanya memandang keatas. " Pertama - tama, Dhea akan mencari mama Lang".Dhea terdiam sejenak, matanya tampak berkaca - kaca. Ia tidak sanggup meneruskan ucapannya, kemudian Dhea mengambil minuman lemon tea nya, lalu meneguk beberapa kali untuk menghilangkan rasa kering yang ada di tenggorokannya. Setelah dirasa dahaga di tenggorokannya sudah mulai hilang. Dhea pun mendehem lalu meneruskan kata - katanya.

__ADS_1


"Dhea akan mencari mama, Lalu Dhea akan memeluk mama erat - erat".Dhea terdiam lagi.


"Dan Dhea ingin minta maaf ke mama, atas kenakalan - kenakalan yang Dhea perbuat, kenakalan- kenakalan yang tidak sepantasnya Dhea perbuat sehingga mama jadi marah, mama jadi kesal dan sedih. Tapi mama tidak pernah memarahi Dhea, mama sayang banget sama Dhea", ucap Dhea lalu menunduk sedih, tak terasa air mata Dhea pun menetes ke tangannya yang sengaja di silakan ke atas pahanya. Ia pun terlihat sedang menadah air matanya. Gilang cuma diam dan menyimak dengan serius, ia benar - benar mendengarkan semua keluh kesah Dhea, segala kata hatinya. Lalu Gilang pun menenangkan Dhea.


"Dhe..., udah ya, jangan sedih..., kan aku udah pernah ngomong Dhe, kalau mama kamu ada bersama kamu, cuma kita tidak bisa melihatnya, dan kita hanya bisa merasakannya".


Dhea pun mendongakkan kepalanya dan memandang Gilang dalam - dalam, lalu tersenyum. Gilang pun menghapus air mata Dhea dengan tangannya.


"Ehm, sekarang giliran kamu Lang, apa yang akan kamu lakukan bila bisa kembali ke masa lalu? ", tanya Dhea sambil masih tetap tersenyum.


Kini giliran Gilang yang terdiam, ia juga mulai berpikir, kemudian ia menarik nafas nya dalam - dalam dan menghembuskan nya pelan - pelan.


" Apa yah...?, ehm.., mungkin pertama - tama aku ingin memperbaiki kesalahan - kesalahan yang pernah aku perbuat. Dan.... ". Gilang terdiam. " Dan aku akan mencari..... ".Gilang pun sama seperti Dhea, ia tidak sanggup meneruskan kata - katanya, Dhea menunggu sambil mengernyitkan dahinya.


" Aku ...,aku akan mencari Galang... ", ucap Gilang sambil mengelap matanya yang sedikit berkaca - kaca.


" Galang...? ", gumam Dhea.


" Dia..., dia adikku...sebelum Lilis ada... ".


" Adikmu..Lang..? ", tanya Dhea dengan rasa penasaran.


Galang lahir setelah aku berumur dua tahun".


Gilang terdiam lagi sejenak, pandangannya kosong terarah ke depan.


" Lalu..., dimana dia sekarang Lang? ".


" Satu tahun kemudian, Galang lenyap dari hadapanku, kata ibu ia sakit leukimia dan kami semua harus mengikhlaskan nya pergi".


"Terus mengapa kamu ingin mencarinya Lang? ",tanya Dhea penasaran.


" Karena aku tidak sempat menyayanginya Dhe...., saat itu aku juga masih kecil, aku tidak tahu apa - apa. Aku bahkan tidak tahu bagaimana untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Dan aku mencarinya..,.supaya aku bisa mengucapkan kata perpisahan dengan nya. Dan aku ingin mengatakan padanya, bahwa kami semua amat menyayanginya... ", tutur Gilang, berusaha untuk tabah. Namun matanya tetap sembab.

__ADS_1


Lalu Dhea pun memeluk Gilang yang tidak bisa menahan kesedihan nya.


" Ayo Lang, kita pulang", ajak Dhea." Sebentar lagi mall nya akan tutup. Gilang pun mengangguk. Lalu Dhea pun beranjak berdiri dan menggandeng Gilang. Mereka berdua pun berjalan melewati toko - toko yang sudah mulai tutup. Sebagian orang masih ada yang sibuk berbelanja. Dhea merangkul lengan Gilang dengan mesra dan menuju tempat parkiran motor. Tidak berapa lama, Gilang dan Dhea sudah meninggalkan mall yang telah mematikan sebagian lampunya.


__ADS_2