
Malam itu Gilang sudah berada didalam kamarnya. Dari raut wajahnya terlihat kalau ia sedang bingung bercampur cemas, setelah selesai memandang handphone nya.
Ke mana sih tu anak, batin Gilang. Kok tidak aktif sih. Gilang pun merebahkan tubuh ke atas kasurnya yang tidak begitu empuk.
Pikirannya mulai menerawang. Tiba - tiba saja ia berteriak.
"Arrrrgggghhh....!!!, tidak..., tidak mungkin..!! ", erangnya.
Teriakan Gilang ternyata membuat ibu nya jadi kaget dan mencoba mengetuk pintu kamar Gilang.
" Laaang..., Gilang.., apa - apaan sih..?!,kok teriak - teriak gitu, malu sama tetangga", ujar ibu dari balik pintu kamarnya Gilang.
"Ahhh... engga ada apa - apa bu...", jawab Gilang santai.
__ADS_1
" Engga ada apa - apa kok, teriak gitu..??, seperti orang kesurupan saja", ujar ibu sambil berlalu dari kamarnya Gilang.
Gilang pun melanjutkan lamunannya. Tidak mungkin deh, masa aku jatuh cinta sama Dhea. Bagaimana itu bisa terjadi. Pokoknya ga mungkin. Engga. Jangan sampai. Lagian kami kan sahabat waktu kecil. Tapi...., kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan dia. Kenapa wajah dia selalu terbayang - bayang dibenakku. Ya Tuhan, aku engga bisa ngelupainnya. Benar kah aku telah jatuh cinta.
Cinta sama Dhea. Ya Tuhan, tunjukkanlah jalan buat hamba'Mu ini. Batin Gilang. Ia pun memandang handphone nya. Apa aku harus menelepon Dhea, lalu ngungkapin perasaanku sama dia. Ah jangan, gimana kalau dia tidak suka. Terus ga mau bertemu aku lagi. Gilang pun mengurungkan niatnya.
Lalu bolak - balik, guling sana, guling sini kaya anak kecil. Tiba - tiba ia bangun duduk lalu berdiri dan mengambil biolanya.Dalam hati, ia berpikir, biasanya kalau orang lagi kasmaran pasti bisa muncul ide atau menciptakan sebuah lagu tentang perasaannya.Gilang pun siap - siap menggesekkan biolanya. Dan ternyata Gilang salah besar. Alunan musik yang keluar dari gesekan biolanya malah acak - acakan ga beraturan, kusut banget seperti pikirannya yang kacau. Ia pun berhenti bermain biola, lalu mendengus kesal. Biola itu di simpannya kembali, setelah itu mem banting kan tubuhnya ke atas kasur, karena kasurnya yang tidak begitu empuk. Gilang cuma bisa meringis kesakitan. Sambil menggosok - gosok pinggulnya yang sakit. Gilang pun bertekad kalau besok pagi ia akan main ke rumah Dhea dan mengungkapkan semua isi hatinya, kebetulan besok itu hari minggu. Lagian malam ini ia ga mungkin bisa ke rumah Dhea, karena hujan yang turun tiada henti sedari siang. Dan malam ini adalah malam minggu yang kelabu, karena juga semuanya berjalan tidak sesuai keinginan.
Di sisi lain Dhea juga tidak mau kalah, sehabis makan malam tadi dan ngobrol banyak sama Omah, kini Dhea sudah berada di dalam kamar, sambil bergelut di bawah selimut. Dhea membayangkan wajah Gilang. Ini semua benar - benar seperti mimpi renung Dhea dalam hati. Karena tiba - tiba saja ia ingin pulang pulang ke Indonesia untuk bertemu Omah dan tentu juga Gilang, ia cuma ingin tahu kabarnya Gilang. Setelah lama terpisah, dan cuma ingin sekedar minta maaf pada Gilang, serta menebus kesalahannya, tapi kok malah jadi lain lanjutnya, malah jadi jatuh cinta, batin Dhea dalam hati sambil menggigit- gigit selimutnya, Dhea tertawa geli sendiri. Lalu Dhea terbayang dari pertama ia ketemu Gilang, saat ia menabrak gilang dengan sepedanya, lalu tinju refleksnya , mengintip Gilang di bawah pohon dekat kampus dan berkunjung ke tempat bermain mereka sewaktu kecil. Lalu bercanda, bercerita, juga ketika ia memberikan kejutan buat Gilang dan merayakan ulang tahun Gilang bersama - sama keluarganya. Disaat ia diantar pulang oleh Gilang, semuanya terasa indah. Dhea pun kembali senyum- senyum sendiri.
" Met malam yah Lang, met bobo", bisik Dhea lagi. Lalu pandangannya mulai menerawang jauh dan perlahan - lahan ia mulai tertidur.
Malam itu waktu menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Hujan sudah berhenti, menyisakan tetesan - tetesan air dari setiap sisi atap juga ujung daun yang terguyur hujan yang cukup lama, selama penantian Gilang untuk cepat - cepat berganti hari, cepat- cepat ke esok pagi, karena ia punya misi.
__ADS_1
Tapi malah malamnya ini ia belum bisa memejamkan matanya. Kok Ga bisa tidur - tidur juga sih rutuknya, gimana bisa cepat - cepat besok, untuk lalui malam ini aja begitu susah. Dan dari pada Be - te, mendingan Gilang membayangkan kejadian saat itu. Saat - saat ia bertemu dengan Dhea kembali. Saat- saat Dhea menabraknya dengan sepeda, saat- saat Dhea memberinya tinju maut, saat- saat ketemu Dhea di depan gerbang kampus, saat- saat mereka berada ditempat bermain mereka sewaktu kecil, saat-saat mereka kembali bercanda disitu, dan saat- saat Dhea memberinya kejutan dan merayakan ulang tahun bersama keluarganya, semua terasa indah sekali, segala beban pikiran jadi hilang.
Sambil membayangkan itu, ia pun jadi senyum - senyum sendiri, tertawa sendiri. Sampai pada akhirnya Gilang pun diam. " Aku sayang kamu Dhea! ", ucap Gilang tiba - tiba.
" Met malam Dhe, met bobo, mimpi yang indah yah", bisik Gilang pelan.
Sekarang Gilang pun mulai menguap, tapi ia tetap membayangkan masa - masa indahnya sampai ia pun benar- benar tertidur.
Malam yang dingin pun membawa mereka terlelap dalam tidurnya. Dan di malam ini pun permintaan Gilang di kabulkan yaitu ingin cepat berganti hari, ke esok pagi. Dan di pagi ini tepatnya pukul enam lewat tiga puluh menit, Gilang sudah bangun tapi matanya masih enggan terbuka. Mungkin raganya Gilang belum balik seutuhnya. Ia masih kelihatan mengambang, ingin tidur lagi tapi sudah ga bisa tidur. Tiba- tiba saja matanya mendelik dan dengan dengan sigap ia mencari handphone nya yang ternyata berada dipojok tempat tidurnya. Gilang pun meraih handphone yang sudah retak dibagian tepi layarnya itu.Tapi ia tidak pernah perduli, walau banyak yang protes dengan handphone nya yaitu teman - teman kampusnya sendiri. Mereka semua cuma menyarani Gilang untuk mengganti handphone baru tanpa mau membelikannya buat Gilang.Kalau Gilang protes ke teman - temannya, paling mereka cuma menjawab "kan itu cuma saran aja dari kita ".Ih norak yah..
Dan pernah juga suatu ketika, Gilang dan Ipenk sedang berdebat tentang handphone itu. Ipenk protes ke Gilang, kalau Gilang harus cepat mengganti handphonenya sebelum ia ketinggalan zaman, tapi Gilang menjawabnya dengan santai, " Bahwa handphone yang jelek dibagian depan, itu hanyalah casing, yang penting dalamnya masih bagus, masih bisa buat, "halo - halo".
Sebaliknya manusia, kadang depannya bagus, tapi dalamnya jelek. Ga bisa buat, " halo - halo".
__ADS_1
Dan kondisi handphone begitulah yang masih awet dalam genggaman Gilang. Tapi kok aneh, tidak ada yang menelpon atau pun mengirim pesan ke handphonenya.Yang dimaksud Gilang adalah Dhea. Gilang pun jadi lemas.