
Di dalam kelas, Gilang tampak sedikit gelisah, bukanya menyimak mata kuliah, ia malah keseringan melamun, pikirannya adalah ingin bisa cepat pulang. Lihat saja sesekali ia menengok jam yang ada di handphone nya. Ipenk yang duduk disampingnya cuma bisa geleng - geleng kepala, melihat kesibukan Gilang.
"Lang.., kenapa...? ", bisik Ipenk.
" Tau nih.., pikiran kayanya blank banget..", bisik Gilang balik.
Hampir satu jam Gilang terlihat seperti itu. Ipenk pun sampai cekikikan.
Dan setengah harian ini benar - benar menjadi saat - saat yang paling menjenuhkan buat Gilang, betapa tidak, karena dari sekian mata kuliah, tak satupun yang menempel di kepalanya Gilang.
Bahkan yang lebih parahnya lagi, dari semua dosen yang ia temui, semuanya berwajah Dhea.
Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, Gilang sudah bisa bernafas lega, pasalnya semua kelas telah selesai dan kini, saatnya untuk pulang. Gilang berjalan terburu - buru ke tempat parkiran motor. Sepertinya ia sedang menghindari seseorang. Ternyata sebelum keluar dari kelas, Ipenk sudah memberi isyarat untuk menunggunya diparkiran motor.
Seperti yang ia lakukan saat ini. Gilang pun mengendap - endap disamping motornya Ipenk. Tapi sialnya banyak anak - anak kuliah yang berada diparkiran mengira Gilang hendak mencuri motor. Mereka semua menatap curiga ke arah Gilang. Dan Gilang yang mulai sadar karena sedang diperhatikan.
"Heeyy.., aku juga kuliah disini kok, ak...aku sedang menunggu teman ku, namanya Ipenk".
Lalu diantara mereka ada yang manggut - manggut seolah paham.
" Aku...., aku disini cuma ingin mengagetinya. Biasalah...., mau aku kasih kejutan.. ".
Lalu anak - anak kuliah itupun pergi dari situ, meninggalkan Gilang sendirian disitu. Tidak berapa lama, Ipenk pun datang ketempat parkir, Gilang yang melihat Ipenk langsung menghampirinya.
" Gimana Penk..?, sudah beres..? ".
Ipenk menggeleng.
" Pak Heri belum kelihatan, kayanya dia engga datang hari ini.. ".
" Yeeeeesss....!!!!", tukas Gilang senang.
"Mungkin besok.. ".
Tapi Gilang sudah tidak perduli, hari ini ya hari ini, kalau besok ya urusan besok.
" Ayo kita cabut Penk..!!!, terlambat dikit, tuan putri bisa ngamuk - ngamuk nih.. ".
" Kan tuan putri mu, bukan tuan putri..., ujar Ipenk sambil geleng - geleng kepala kala melihat Gilang seperti itu.
"Udah Penk, ayo cepetan naik..! ".
" Cepet ya cepet, tapi kaki ku kan engga bisa cepat..!! ".
Gilang cuma cengar - cengir.
" Tenang deh Penk, pokoknya aku dukung banget deh, kamu jadian sama Ice Juice.. "
"Harus donk... ", ujar Ipenk sambil membetulkan posisi duduknya. " Oke jalan deh bro..!!.".
Mereka berdua meninggalkan pelataran parkir dengan santai.
"Jadi gimana nih Penk? ". tanya Gilang setelah mereka berada di tengah perjalanan pulang.
__ADS_1
" Gimana apanya bro....? ".
" Kisah kamu sama Ice.... ".
" Pelan - pelan dulu deh, masih tahap penjajakan, belum bisa kaya kamu Lang... ".
Gilang tertawa lepas
" Tapi kalau seandainya kamu jadian sama Ice terus nikah, kamu panggil si Eki, kakak ipar dong?, janggal ngga Penk?, padahal kan teman kamu.
"Cuek aja, namanya juga sudah cinta, apapun aku rela.
" Mantap bro..!! ".
******
Sesampainya di rumah, Ipenk pun turun dari boncengan.
"Motormu aku pinjam ya Penk... ".
" Yuph..., pakai aja Lang, lagian aku juga engga bisa ke mana - mana".
"Ya sudah, kalau kamu butuh apa -apa, call aku atau sms deh... ".
" Ok .., bro..., gampang deh... ".
"Atau mau aku belikan makanan sekarang..?".
" Ga usah deh Lang.., makasih..".
" Yakin banget..., sudah..,sana....!, kamu berangkat gih.., nanti sudah ditungguin.. ".
"Ok deh..,berangkat dulu bro....!! ".
" Siip...,hati - hati...!!".
Gilang melambaikan tangannya dan melaju pergi dari situ. Ipenk memandang Gilang sampai hilang dari tikungan jalan dan ia pun melangkah masuk rumahnya dengan perlahan - lahan.
Gilang sudah berada di tengah jalan ketika ia merasakan di saku jaketnya ada getaran yang berasal dari handphonenya. Itu sudah getaran yang ke tiga kali sejak ia meninggalkan rumahnya Ipenk. Kemudian Gilang menepi sebentar, ia pun mengeluarkan handphone dari jaket nya. Setelah di lihatnya ada dua panggilan masuk dan sebuah pesan teks, semuanya dari Dhea. Tapi Gilang hanya membalas sms dari Dhea.
"Aku sudah di jalan Dhe, tunggu sebentar... ".
Kemudian Gilang menutup handphone nya dan langsung meneruskan perjalanannya. Walau ia merasakan ada getaran lagi dari handphone yang ada di saku jaketnya, namun ia sudah tidak menghiraukannya, karena ia tahu kalau itu adalah balasan sms dari Dhea.
Begitu sampai di pos penjagaan komplek, Gilang hanya bertemu dengan security yang kurus, tapi ia sudah mengenali Gilang, namun Gilang tetap berhenti di situ sebentar.
"Memet mana bang? ".
" Memet belum dateng mas, kayanya sebentar lagi deh..., apa mau di tungguin...? ".
" Ga usah deh bang, lagi di tunggui sama Dhea... ".
" Oh...iya....iya ,silahkan saja mas... ".
__ADS_1
" Yah makasih bang", ucap Gilang sambil melambaikan tangan kanannya. Setelah itu ia sudah memasuki kawasan komplek dan langsung menuju rumahnya Dhea. Dan sudah bisa ditebak kalau Dhea sudah menunggu di depan pagar. Begitu ia melihat Gilang sudah berada di depan pintu gerbangnya, senyumnya pun mengembang. Tanpa berkata - kata lagi, Dhea langsung membuka pintu pagarnya dan langsung berlari untuk memeluk Gilang.
"Ups..., sabar dong Dhe...,aku kan belum turun dari motor.... ".
Dhea tidak peduli, lalu ia tertawa geli.
" Soalnya lama banget sih, Dhea kan nunggunya udah dari pagi - pagi banget Lang".
"Hah....?!, yang bener kamu?! ".
Dhea cuma mengangguk tersenyum.
" Kalau ngga percaya tanya saja sama pak Karyo... ".
" Percaya dong...., ayo kita masuk dulu yah... "
"Dhea mau jalan - jalan aja Lang, bosen banget di rumah...., tadi saja disuruh Omah keliling komplek pakai sepedanya pak Karyo".
" Mau langsung jalan?, oke siapa takut...? ".
" Ayo deh, tapi nanti sekalian beli siomay ya...? ".
" Oke..., siap bos".
"Amiiin, mudah - mudahan nanti Dhea bisa jadi bosnya kamu... ".
Gilang dan Dhea pun tertawa lepas, motor mereka pun melaju pergi dari situ.
Angin selalu saja berhembus sepoi, walaupun cuaca sepanas apapun, tetapi jika kita berada dibawah pohon akasia ini, selalu saja merasakan kesejukan.
" Sudah berapa hari ya Lang, kita engga kesini ? ".
" Kayanya sih..., tiga hari deh..".
"Ya engga dong Lang.., tiga hari sebelumnya kan Dhea masih di rumah sakit... ".
" Eh.., bener juga sih...., berarti... ". Gilang berpikir sejenak.
" Lima hari Lang..!! ", jawab Dhea mantap.
" Iya.., iya.., lima hari.. ".
" Bener kan..? ".
" Kalau ga salah, terakhir kita kesini yang pas lagi hujan yah Dhe..? ".
" Iya, terus kita nya hujan - hujanan deh.. ".
Mereka berdua pun tertawa lepas.
" Duduk yuk Lang.. ", ajak Dhea sambil mencari tempat yang lebih bersih, kemudian duduk disitu. Gilang pun mengikuti Dhea dan duduk disampingnya.
" Siomay nya Lang.. ", pinta Dhea dan mengambil bungkusan berwarna putih dari tangannya Gilang.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Dhea sudah tampak asyik mengunyah siomay yang menjadi salah satu makanan favoritnya.