
Pagi itu terlihat seorang anak muda yang berlari dengan terburu - buru keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, dan itu adalah Gilang. Bapak yang baru saja keluar dari situ hampir saja tertabrak oleh nya. Dan setelah Gilang masuk ke kamar mandi, bapak cuma bisa geleng - geleng.
"Anak zaman now..., ya kaya gitu...", celetuk bapak. " Tumben ...pagi banget, ada latihan tambahan ya ? " , tanya bapak.
"Mules pak !! ", teriak Gilang dari dalam kamar mandi.
" Oooaalah....,kira'in.... ". Dan bapak pun melengos pergi.
Kenapa bapak bisa sampai heran ketika melihat Gilang yang sudah bangun dan langsung menuju kamar mandi. Karena waktu itu baru menujukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Langit didepan pun masih terlihat lumayan gelap. Makanya bapak berpikir kalau Gilang pasti akan kembali tidur.
Tapi, ternyata pikiran bapak salah. Karena Gilang langsung mandi.
Sesaat kemudian, Gilang sudah kelihatan rapi, dengan mengenakan kemeja berwarna coklat dan garis - garis berwarna putih dipadu dengan celana jeans berwarna biru langit.
Ibu nya Gilang yang sedang menggoreng nasi pun jadi heran, melihat anak cowoknya itu...
"Ga salah nih Lang ?, jam segini sudah mau berangkat kuliah ? ".
Gilang cuma senyum - senyum.
" Hari ini Gilang engga ada kuliah bu.. ".
" Terus ngapain dong kamu bangun pagi - pagi ?".
"Ada deh... ".
" Dhea lagi ? ".
"Yuph.... ".
Kini Gilang sudah duduk manis di meja makan dan memulai sarapan. Disitu juga sudah ada bapak dan Lilis. Mereka juga sedang sibuk sarapan, tidak berapa lama ibu juga sudah duduk bareng mereka dan mulai sarapan.
" Memangnya kemarin kamu engga ketemuan ? ".
" Sama siapa bu ? ".
" Ya sama Dhea ".
" Kemarin ada kok... ".
" Lagian, kamu engga bosan Lang ?,ketemu
Dhea terus ? ",tanya ibu heran.
" Ya engga lah bu, Dhea kan sahabat karib nya Gilang. Lagian kita sudah lama engga ketemu ".
Ibu cuma tersenyum.
__ADS_1
" Kamu suka sama Dhea ? ".
Gilang yang tiba - tiba ditanya begitu sama ibu cuma gelagapan karena salah tingkah.
Nasi goreng yang ada didalam mulutnya pun
jadi menyembur keluar, lalu Gilang terbatuk - batuk. Semuanya jadi bengong.
" Yakin, kamu engga mau pakai motor bapak nih...? ".
" Engga lah pak, biar Gilang jalan kaki saja, lagian sampai depan jalan sudah ada Busway , kalau kita pakai busway itu kita juga ikut membantu mengurangi kemacetan pak, gitu....".Bapak cuma manggut - manggut seolah - olah paham.
" Berarti Lang, bapak bisa dong ke pasar pakai mbasuwe? ", tanya bapak polos.
" Yah kalau masuk pasarnya ya engga bisa pak, paling sampai depan jalan, nah bapak turun lalu jalan kaki lagi,kalau mau masuk ke pasar.
Lagian namanya bukan mbasuwe pak, tulisannya sih " Busway " tapi bacanya baswey pak....,gimana sih bapak, masa gitu saja engga tahu...? ".
Dan bapak manggut - manggut seperti biasa.
Setelah Gilang berpamitan, bapak pun siap - siap berangkat ke pasar untuk berjualan. Bapaknya Gilang adalah seorang penjual baju dipasar, makanya bapak berangkat ke pasar tidak terlalu pagi - pagi sekali, tidak seperti penjual sayur yang harus subuh - subuh sudah berada dipasar. Gilang bisa saja berangkat berboncengan sama bapak tapi Gilang ga mau, soalnya arah mereka berlawanan. Bagi bapak sih tidak masalah, cuma Gilang nya yang ga mau, katanya sih kasihan bapak, kalau sampai bolak - balik karena arahnya yang berbeda. Nanti malah bapak kesiangan sampai di pasar. Dan saat itu Gilang sudah berada di halte busway. Pagi itu masih tidak begitu ramai, itulah saat - saat yang di pilih oleh Gilang,soalnya Gilang tahu kalau tadi ia berangkat lebih siang, mungkin akan padat penumpangnya dan Gilang tidak suka itu, harus desak - desakkan.
Tidak berapa lama bis yg ditunggu - tunggu pun datang. Disini tertib sekali, mereka akan mendahulukan penumpang yang turun, setelah itu mereka yang akan berangkat baru diperbolehkan melangkah masuk. Pokoknya benar - benar teratur dan disiplin. Penumpang pun diharuskan menggunakan masker. Untuk mengurangi penyebaran virus covid 19,dan tidak di perbolehkan berbicara di dalam bis. Gilang duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Gilang pun melemparkan pandangannya ke luar jendela. Dan ia begitu menikmati pemandangan di luar. Pohon - pohon yang bergerak mundur dengan cepat, orang - orang yang bergerak mundur, juga rumah - rumah. Tiba - tiba Gilang melihat sekelebat wajah di keramaian dan sepertinya ia mengenali wajah itu. " Ipenk ? ",gumamnya.Gilang pun berusaha turun, tapi tidak bisa karena ia ga bisa turun sembarangan dan harus berhenti di halte - halte yang sudah ditentukan.Setelah tidak berapa lama, bis sudah berhenti pada tempat nya. Gilang pun buru - buru turun. Sesaat ia tampak berlari - lari ke arah terjadinya keramaian tadi. Tidak lama kemudian Gilang sudah berbaur ke dalam kerumunan masa. Ia pun melihat Ipenk duduk sambil memegangi kakinya yang lecet dan berdarah.
" Penk..!!, kenapa kamu ?!! ",
" Terus..., orangnya? ".
" Ya kabur... ", ucap Ipenk lemas.
" Ya ampun... ".
Lalu ada ibu - ibu yang menganjurkan
" Dibawa ke Puskesmas aja mas..., cepet diobatin tuh, biar engga infeksi... ".
" Iya, tadi yang nabrak udah keburu kabur sih, jadi enggak bisa dimintai tanggung jawab... ", celetuk ibu - ibu yang berdiri disebelahnya.
Lalu datang sebuah mobil polisi. Sesaat kemudian, tampak dua orang polisi sedang mengobrol dengan Gilang dan Ipenk. Dan setelah itu dua orang polisi itu masuk kembali kedalam mobil yang di ikuti oleh Ipenk yang jalannya terpincang - pincang. Gilang yang membukakan pintu untuk Ipenk. Ipenk pun berusaha duduk perlahan - lahan yang di bantu oleh Gilang. Lalu Gilang berbalik dan menghampiri motornya Ipenk, yang terparkir tidak jauh dari situ, keadaannya tidak begitu parah sih. Dan setelah Gilang berbicara dengan dua orang warga di situ, maka motor itu di titipkan sementara kepada dua warga itu. Karena motor itu juga sudah di data oleh salah satu petugas polisi, maka motor itu tidak perlu di bawa lagi. Kini mereka akan membawa Ipenk ke Rumah Sakit terdekat. Gilang pun ikut serta dalam mobil polisi itu.
Tidak berapa lama, mereka sudah berada di rumah sakit, dan Ipenk sudah dalam penanganan tim medis. Gilang cuma menunggu di sebuah bangku panjang yang terbuat dari stainless.Sambil duduk ia pun iseng - iseng memandang handphonenya, lalu muncul satu pesan dari sebuah aplikasi WhatsApp. Gilang terbelalak, hatinya girang bercampur kaget karena pesan itu dari Dhea. Lalu ia begitu bersemangat untuk membuka pesan itu , disitu tertulis
" Lang dimana kamu? ", baca Gilang pelan sambil tersenyum. Lalu Gilang pun buru - buru membalas pesan dari Dhea.
" Aku lagi dirumah sakit nih".
" Hah?, kamu masuk rumah sakit Lang..? ". balas Dhea.
__ADS_1
" Bukan aku , tapi si Ipenk..... ".
" Ipenk? teman kamu yang gondrong itu? ".
" Yo'i...,temen ku yang gondrong cuma Ipenk sih...".
" Emangnya, kenapa tuh anak? ".
" Kecelakaan lalu lintas.. ".
" Tabrak lari yah? ", tanya Dhea.
" Iya.. ".
" Terus sekarang keadaannya gimana? ".
" Sedang ditangani oleh pihak medis".
" Semoga engga kenapa - kenapa deh Lang".
" Iya deh... Amin, oh iya, kamu lagi dimana sekarang? ".
" Lagi di rumah, be- te banget nih.. ".
Gilang tertawa kecil. " Aku boleh ngga main kesitu? ".
" Hem, tapi gimana dengan teman kamu, masa ditinggalin? ".
" Engga sih, paling nunggu aku nganterin Ipenk pulang dulu terus baru kerumah kamu, gimana? ".
" Boleh tuh..., tapi bawain makanan ya Lang", pinta Dhea.
" Dhea nya mau makan apa? ".
" Apa aja deh , yang penting enak Lang.. ".
" Martabak telor mau? ".
" Naaahhh...., boleh juga sih. Tapi jangan lupa minumannya Lang.. ".
"Yuph, tapi aku antar si Ipenk dulu yah.. ".
" Oke..makasih ya Lang...! ".
" Yo'i....sama - sama... ".
Gilang pun menyimpan handphonenya kedalam saku celana. Lalu Gilang terlihat sedang membayangkan sesuatu,kemudian ia senyum - senyum sendiri.
__ADS_1