Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).

Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).
Bab 36 : Dhea pingsan lagi.


__ADS_3

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Dhea dan Gilang sudah mengelilingi mall sedari tadi.Tapi Dhea belum mau pulang, ia masih ingin menghabiskan setengah hari penuh ini bersama Gilang, sebab ia tahu kalau besok, Gilang kemungkinan besar tidak bisa menemani Dhea jalan - jalan. Selain Gilang harus kuliah dan pulangnya pasti langsung latihan biola sampai sore. Tapi Dhea akan menunggu Gilang setelah ia pulang dari latihan. Itu berarti, kalau besok Gilang punya waktu cuma malam hari. Itu waktu yang sangat pendek buat seorang Dhea yang sedang kasmaran dan dilanda asmara yang luar biasa. (he..he..he..).


Lihat saja, betapa eratnya Dhea menggandeng tangan Gilang. Seolah - olah takut kalau Gilang bisa terbang keatas seperti balon gas, bila terlepas dari tangannya. Memang wajar sih apa yang dilakukan Dhea, orang lain pada umum nya juga akan melakukan hal yang sama, mereka juga pasti akan menggandeng tangan atau merangkul lengan pasangannya bila sedang berjalan bersama.


"Lang, kamu pernah jalan sama cewek ngga, dulunya, selain Dhea..? ", tanya Dhea tiba - tiba yang membuat Gilang mendadak diam. Lama juga Gilang tak menjawab. Dhea jadi curiga.


" Lang, kamu kok diam aja, Dhea cuma pingin tau aja tentang itu, kalaupun ada, Dhea engga bakalan marah kok.., seandainya kamu keberatan untuk menjawab, juga engga apa - apa, Dhea engga maksa.


"Se...,sebenarnya.. ". Gilang tampak ragu sesaat. " Sebenarnya..., ak..aku...,aku malu...".


"Malu..?, malu kenapa Lang..?, memangnya apa yang sudah kamu lakuin..? "tanya Dhea penasaran.


" E...., sebenarnya..., dulu hampir setiap hari, aku jalan sama cewek.. ", ujar Gilang kikuk. Dhea berusaha untuk tidak terlihat galau, walau nyatanya ia sedang menggigit - gigit bibirnya.


" Malah aku yang selalu disuruh bawa - bawa keranjang belanjaan.. ".


" Em...,maksud...,maksud kamu Lang..? ".


" Cewek itu adalah ibuku. Tiap pagi, aku harus mengantarnya ke pasar.. ".


Dhea pun mencubit lengan Gilang sekencang - kencangnya, lalu ia tertawa sampai terbahak - bahak.


" Sekarang sih udah engga lagi, itu karena dulu bapak lagi sakit, jadi Gilang yang gantiin bapak buat nganterin ibu ke pasar.. ",ujar Gilang sambil tertawa kecil.


" Lang, memangnya kamu udah nentuin tanggalnya? ".


" Tanggal apaan Dhe? ".


" Yah tanggal buat ngelamar aku ?, gimana sih Gilang".

__ADS_1


"Hem nanti deh yah, baru dipikir - pikir".


" Ya sudah , asal jangan kelamaan lho... ".


" Iya..., iya... ".


" Lang, itu..., itu, teman kamu yang tadi... ".


" Si Deny... ".


" Iya... ".


" Memangnya kenapa dengan si Deny ?".


"Apa....,si Rena cocok buat dia...? ".


" Rena kan engga., engga bisa melihat Lang?".


"Rena memang buta, tapi bukan berarti ia tidak boleh mencintai seseorang dong, biar ia buta, ia juga manusia, bebas memiliki cintanya. Mungkin saja Deny punya alasan lain untuk memilih Rena".


"Iya sih, kalau Dhea lihat, Rena benar - benar wanita yang baik, mungkin sifat dia dapat menutupi kekurangannya".


"Kata pujangga memang tidak salah Dhe, cinta itu memang buta, dan Deny memang sudah mencintai Rena tanpa memandang fisiknya".


" Cinta memang indah ya Lang".


Gilang mengangguk. " Dan cinta juga aneh... ".


" Kok bisa Lang? ".

__ADS_1


" Sebab cinta itu tidak dapat ditentukan".


"Maksud kamu Lang? ".


" Soalnya cinta tidak memandang usia, kadang ada yang muda tapi mencintai yang sudah tua, bahkan anak kecil saja, bisa mencintai orang yang lebih dewasa dan yang lebih anehnya lagi mereka bahkan bisa mencintai sesama jenis",tutur Gilang. Dhea cuma mengangguk.


"Cinta itu memang aneh, benar- benar aneh", gumam Dhea pelan.


" Lang, kalau kamu mencintai Dhea karena apa..? ", tanya Dhea tiba - tiba.


" Hem apa yah...? ". ucap Gilang sambil pura - pura berfikir.


" Hayoooo, jangan- jangan cuma karena kasihan yah sama Dhea....? ".


" Ah...., enggalah, aku itu cintanya murni karena hati dong, dan aku melihat kamu dengan ketulusan Dhe..., dan mencintai kamu apa adanya...., kalau kamu?, mencintai aku karena apa? "


"Aku hanya memandang kamu adalah pria baik yang bisa berbagi dengan Dhea, itu saja".


" Hem..oke, itu cukup deh..., cukup".


Tiba - tiba Dhea melihat ada sebuah gerai es krim di pojokan. Ia pun mengajak Gilang ke situ untuk membeli es krim. Dhea pun berlari. Sambil menarik tangannya Gilang. Gilang yang pontang - panting cuma pasrah demi yayang Dhea.


Lalu Dhea memesan dua buah es krim yang sama, biar dibilang couple gitu, dan mereka berdua pun duduk disebuah bangku putih yang lumayan panjang. Gilang dan Dhea begitu menikmati es krim dengan rasa coklat yang tebal, sambil sesekali bercanda dan tertawa bahagia. Namun setelah es krim habis dimulut, Dhea langsung mengajak Gilang menuju ke area permainan sambil berlari. Gilang pun benar - benar kelimpungan, soalnya ia harus mengimbangi Dhea yang memang terkenal atletis. Sebentar lari kesana, sebentar lari kesini, sebentar lari kesitu. Tapi Gilang tetap membatin, semuanya demi yayang Dhea, jadi tidak berani protes. Dan saat ini mereka berdua ingin menjajal sebuah permainan mobil senggol atau istilah kerennya, boom - boom car. Dhea sudah melompat masuk ke arena dan langsung memilih mobil yang ia sukai. Sedangkan Gilang masih berada dimeja kasir untuk membeli selembar tiket. Begitu ia masuk ke arena, ternyata Dhea tidak ingin satu mobil dengan Gilang, itu karena ia ingin mengajak Gilang untuk bertabrakan mobil dengannya, mau tidak mau, Gilang pun berjalan keluar lagi untuk membeli tiket lagi. Setelah itu, Gilang pun berlari lagi masuk ke dalam arena, dan ia melihat Dhea begitu menikmati permainan itu, Gilang pun mencari mobil yang masih kosong. Kini Gilang sudah berada di arena mobil senggol dan bersiap untuk beradu kehebatan bersenggol. Mobil pun diarahkan kesana - kesini untuk saling menghindari terlebih dahulu. Dan setelah berputar dua kali, baru mobil diarahkan untuk saling bertabrakan. Dhea yang hendak menabrak Gilang dari samping, malah ia yang ditabrak oleh seorang anak kecil, yang membuatnya tersentak kesamping. Dhea malah tertawa lepas. Lalu ia memutar pergi dari situ sambil mencari Gilang. Tiba - tiba Gilang sudah dibelakangnya dan langsung menabrak mobil Dhea. Dan Dhea pun tersentak ke depan. Tiba - tiba Dhea merasakan pandangannya sedikit kabur, kepala seperti berputar - putar. Namun seorang anak kecil mengambil kesempatan ini untuk menabrak mobil Dhea dari depan.


Hentakan mobil yang keras membuat Dhea tersentak mundur ke belakang, tiba - tiba Dhea merasakan pandangan yang gelap dan ia pun tak sadarkan diri.


Gilang masih belum sadar, sebab ia terlihat masih tertawa cekikikan saat beradu tabrakan dengan seorang anak kecil. Dan Gilang pun tertawa lepas karena anak kecil itu tersentak akibat tabrakan Gilang. Namun ketika pandangannya mengarah ke Dhea, tawa Gilang pun hilang seketika. Matanya pun langsung melotot.


Gilang pun melepaskan diri dari mobilnya, ia pun tidak menghiraukan lalu - lalang mobil senggol yang melewatinya, bahkan seorang anak kecil yang tanpa sengaja menabraknya hingga Gilang terpental tidak jauh dari mobilnya Dhea.Beberapa orang sempat melihatnya jatuh, tapi Gilang tidak perduli, ia pun berdiri lalu buru - buru mendatangi Dhea dan menggendongnya. Si penjaga area permainan sampai berdiri dari duduknya untuk melihat apa yang terjadi, juga orang - orang disekitar situ mulai memperhatikan Gilang yang sudah mulai menunjukkan kepanikannya. Ia menggendong Dhea ke tepi lalu mencari bangku yang mungkin bisa mereka duduki.

__ADS_1


__ADS_2