Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).

Dongeng Waktu Kecil ( The Story Of Gilang And Dhea).
Bab 9 : Ada Apa Dengan Gilang ?


__ADS_3

Omah dan Dhea saling berpandangan lalu sama-sama tersenyum


"Ayo dong Omah....tebak namanya siapa ?, kok Omah malah senyum-senyum aja sih ? ".


" Aduuuhhh...kok disuruh tebak-tebak terus sih ?, kaya kuiz aja.. ",


Omah misuh-misuh, Dhea nya malah tertawa cekikikan. Ternyata lagi ngerjain Omah.


" Hem...siapa sih...??,coba Omah ingat-ingat dulu.. ", ucap Omah sambil berpikir..agak lama.Dhea menunggu, dan akhirnya.


" Kalau gak salah...Talang..eh Tilang yah...?", tebak Omah yakin. Dhea cemberut.


"Omaaaaaaahhh...!!!, apa'an sih ?, masa Tilang..?!! ", protes Dhea. " Memangnya polisi ? ".


Kali ini Omah tertawa terpingkal-pingkal sambil mengusap air matanya.Sepertinya Omah menikmati candaan ini,dari raut wajahnya ia begitu gembira.Maklumlah,sudah lama Omah tidak pernah merasakan suasana yang seperti ini sejak Dhea dan kedua orang tuanya memutuskan untuk pindah ke Belanda,dan kali ini Omah benar-benar terasa terhibur,Omah bisa tertawa lepas,bisa merasakan kehangatan di rumah ini lagi dan Omah kelihatan begitu bahagia.Seperti sekarang ini,Omah benar-benar dibikin sakit perut oleh tingkah Dhea. Apalagi Dhea sampai mulutnya dimanyun-manyunin membuat Omah tidak tahan lagi sampai Omah terbatuk-batuk. Dhea jadi kaget campur panik, ia pun dengan sigap menepuk-nepuk punggung Omah.


"Omah...?!, Omah engga apa-apakan? ", tanya Dhea cemas. Omah cuma mengangkat tangannya, menandakan kalau ia baik-baik saja.


" Omah...baik-baik saja De... ", ucap Omah sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dhea jadi sedikit lega, tapi masih kurang yakin dengan keadaan Omah. Maklumlah, kalau Dhea khawatir, soalnya kan Omah sering sakit-sakitan. Lagian Omah itu orangnya bandel sih, paling susah dinasihati. Kalau sudah sibuk dengan bunganya, kadang sampai lupa waktu. Jarang mau berhenti, makanya kurang istirahat dan staminanya jadi drop.

__ADS_1


Mamanya Dhea saja sudah sampai bosan untuk menasihati Omah. Memang sudah tabiatnya sih ya, keras kepala. Pernah mamanya Dhea menceritakan tentang Opah dan Omahnya Dhea kepada Dhea kecil.


"Opah mu saja sampai angkat tangan sama Omah mu. Kata Opah kalau Omah itu sangat-sangat menyukai bunga. Dan rasa sayang terhadap bunganya itu melebihi rasa sayangnya terhadap Opah. Dhea selalu tertawa geli bila mengingat cerita itu. Dan sekarang Omah malah sering sakit-sakitan.


" Oh iya, siapa nama cowok itu De..? ", tanya Omah serius.


" Namanya Gilang, Omah".


"Hem..., ya...ya..., Omah cuma ingat " Lang "


nya aja sih, pokoknya yang ada Lang.. Lang nya gitu".


Seketika itu Dhea baru sadar, lalu ia cepat-cepat melihat handphone nya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sudah kelewatan satu jam, sesuai yang dijanjikan Gilang. Tapi, Gilang nya kemana ?, kok belum muncul ?. Jangan-jangan Gilang lupa, lupa kalau dia ada janjian sama Dhea. Atau jangan-jangan..., Gilang masih marah sama Dhea dan sengaja membuat janji palsu, semuanya hanya untuk balas dendam, dan janji yang hanya sekedar menyenangkan hati Dhea saja. Ah tidak.....tidak mungkin. Dhea membuang jauh-jauh pikiran yang buruk itu. Gilang bukan tipe orang seperti itu, walau tidak sepenuh hati Dhea mengenalnya, karena mereka terpisah cukup lama. Tapi Dhea yakin akan Gilang, dan Gilang adalah tipe orang yang selalu menepati janjinya. Walau masih kecil, tapi Gilang sudah mempunyai sifat yang menjunjung tinggi nilai-nilai suatu komitmen. Bahkan,karena mempunyai sikap komitmen yang tinggi itulah, Gilang pernah menunggu Dhea datang ke tempat mereka sering bermain. Gilang kecil pun memenuhi janjinya untuk bertemu disitu, dibawah pohon akasia, walaupun saat itu hujan turun deras mengguyur tubuhnya. Tapi Dhea kecil yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, karena Dhea kecil diajak papa-mamanya shoping ke mall (he..he..he..). Akibatnya Gilang kecil pun sakit, demam tinggi, akibat hujan-hujanan. Saat itu Dhea kecil merasa bersalah, dan untuk menebus kesalahannya itu, Dhea kecil akhirnya berjanji akan menemani Gilang kecil bermain disetiap mereka pulang dari sekolah.


mohon Dhea dalam hati. Dhea sudah mulai gelisah tapi ia berusaha tetap tenang didepan Omahnya. Dan Omah menangkap rona cemas diwajah Dhea.


"Memangnya Gilang janji jam berapa, ke sininya De ?", tanya Omah memecah lamunan Dhea.


"Eh...bentar lagi Omah, soalnya Gilang jalan kaki sih.. ", ucap Dhea berusaha tetap tenang.

__ADS_1


" Oooooh.., gitu yah ?, tukas Omah, tapi pandangannya tetap tidak berpaling dari Dhea.


"Dede yakin, sebentar lagi Gilang akan datang ? ".


" Yakin banget Omah, Gilang pasti datang, percaya deh.. ".


" Hem...baiklah kalau gitu, Omah tinggal dulu yah, Omah mau ke kebun belakang".


"Iya Omah.. ".


Wajah Dhea mulai gelisah, mulai cemas. Dan Omah sudah hilang dari pandangan Dhea. Ia pun melihat jam yang ada di handphone nya.


Kini waktu menunjukkan pukul sebelas lewat lima puluh menit. Hampir jam dua belas.


Sesekali Dhea menatap handphone'nya, harap-harap Gilang menelponnya. Apa, jangan-jangan terjadi sesuatu sama Gilang.., ah jangan deh.., jangan.Akhirnya Dhea diam saja sambil menunggu daripada memikirkan hal yang engga-engga. Tapi ..tunggu tinggal tunggu..., harap-harap cemas, sampai Dhea terkantuk-kantuk.


Di kampus, Gilang terlihat tak berkonsentrasi. Rasa gelisah itu membuat konsentrasi nya pecah, sampai-sampai ia tidak mendengar arahan dari guru biolanya, pak Ketut.


Gilang memang punya bakat bermain alat musik sejak kecil, tepatnya ketika Gilang berumur empat tahun. Bahkan disaat umur enam tahun, Gilang kecil sudah bisa bermain ukulele. Dan diumur sepuluh tahun saja ia sudah bisa bermain gitar dengan mahir, malah sudah hampir menguasai semua tehnik gitar. Tapi pada akhirnya, Gilang malah memilih biola sebagai destinasinya. Gilang mulai jatuh hati pada alat musik yang satu ini, gara-gara ia menonton acara konser musik di salah satu televisi swasta. Saat itu menampilkan konser-konser negara luar. Dan salah satunya menampilkan group musik "bond", yang beranggotakan empat violin wanita cantik asal Australia/Inggris dengan aliran musik semi klasik. Dan alat musik yang mereka gunakan adalah biola, celo, viola. Gilang bahkan bisa duduk tanpa bergerak sedikitpun bila sudah menonton group bond menggesek biolanya yang dipadu dengan tubuh seksi mereka yang meliuk-liuk mengikuti alunan musik yang keluar dari gesekan biolanya. Dan Gilang bercita-cita menjadi seorang pemain biola yang profesional. Nah untuk merealisasikan semua ini, Gilang masih butuh banyak lagi asahan dari pak Ketut, guru biolanya.

__ADS_1


Terus, apa hubungan semuanya ini dengan Ipenk ?.


Bukankah tadi pak Heri ada menyebutkan nama Ipenk sewaktu menawarkan Gilang untuk berangkat ke kampus bersamanya.


__ADS_2