
Tidak berapa lama,saat Gilang sudah berada di depan kedai, Dhea dan Rena memang masih duduk dekat meja kasir, dan sedang asyik mengobrol,sesekali mereka tertawa lepas. Sedang kan Deny bersama Omah, melihat - lihat bunga yang ada di samping halaman. Gilang pun turun dari motor dan berjalan menghampiri pak Karyo yang sedang membersihkan kaca mobil nya dengan kanebo yang baru ia beli kemarin siang.
"Pak Karyo..!, lagi ngapain pak ? ", panggil Gilang sambil melambaikan tangannya ke Deny, sebab pada waktu yang bersamaan, Deny memandang ke arah Gilang. Deny pun membalas lambaian tangan nya Gilang, setelah itu ia sudah asyik mengobrol lagi dengan Omah. Pak Karyo yang di sapa Gilang pun langsung menoleh dan tersenyum.
" Eh.., mas Gilang rupanya..., bikin kaget aja..", ujar pak Karyo masih tetap tersenyum, memamerkan gigi nya yang kurang rata. Soal nya pak Karyo kan engga mau pasang kawat gigi, tapi bukan karena pak Karyo engga punya uang lho. Pernah sekali, pak Karyo di tanyai Omah kala itu.
"Yo.., gigi kamu itu lho..., kenapa engga di pasang kawat gigi aja biar rata ?".
"Engga apa Omah, kaya gini saja sudah bagus.Kalau di pasang, takut nya Umi marah, terus nanti saya di tinggalin deh sama Umi. (panggilan sayang pak Karyo untuk istri nya)",
ujar pak Karyo sambil tersipu malu.
" Lho..?, memang nya kenapa Yo..?, mahal yah kalau pasang kawat ?, sudah.., kamu pasang saja deh Yo, nanti Omah yang bayarin. Bilang sama istri kamu, Omah yang bayar.. ".
" Buk.., bukan masalah itu Omah ", ucap pak Karyo sambil menunduk malu.
" Terus..., karena apa Yo ?, mau di bayarin kok masih engga boleh sama istri kamu ? ".
"Bukan karena engga punya uang Omah, atau
sanggup bayar atau engga. Tapi kata Umi waktu itu seperti ini Omah".
Lalu pak Karyo memasang wajah yang galak sambil berkacak pinggang.
" Awas kamu Yo !!, jangan sampai ketahuan saya, kamu ngutak - ngatik gigi kamu, saya bakal pergi dari rumah, atau pulang ke rumah orang tua saya, biar kamu kedinginan sendiri di sini !! ", sahut pak Karyo sambil menirukan gaya istri nya. " Begitu Omah.., kata istri saya.., istri saya kan galak.., Omah".
Omah pun tertawa terpingkal - pingkal.
"Terus apa alasan istri kamu engga mengizinkan kamu pasang kawat gigi Yo ? ", tanya Omah lagi, masih sesekali tertawa geli.
__ADS_1
" Nah itu dia Omah, dulu Umi kan naksir sama saya karena kesengsem sama gigi saya, Omah", tutur pak Karyo serius, tapi Omah nya malah semakin tertawa ngakak saja sambil memegang perut nya. Pak Karyo cuma melongo. Itulah sepintas kisah pak Karyo tentang gigi nya.
Sekarang ini Gilang sudah berada di samping pak Karyo.
"Pak Karyo lagi ngapain ? ", tanya Gilang.
"Ini .., pak Karyo lagi bersihin kaca mobil, tadi habis kejatuhan kotoran burung, jadi nya sekalian aja pak Karyo bersihin semua, kaca - kaca nya di lap pakai ini nih.. ", tutur pak Karyo sambil menunjukkan kain kanebo nya.
" Di lap terus, apa engga makin tipis pak, kaca nya ? ".
Sejenak pak Karyo jadi bengong, ia coba menjabarkan maksud dari omongan Gilang, tapi..,sesaat kemudian pak Karyo baru sadar, kalau ia baru saja di kerjain oleh Gilang.
" Eh...,ah...,ya enggalah mas Gilang..., masa sih bisa makin tipis ?, mas Gilang ini ada - ada saja ", ujar pak Karyo sambil tertawa cekikikan .
" Itu...lho..,non Dhea nya ada di dalam.., mas Gilang.. ".
"Oke, kalau begitu.., saya masuk dulu ya pak Karyo ".
" S'lamat siang Omah.. ", ucap Gilang begitu sampai di samping Omah.
" Eeeehh..., kamu Lang , kapan kesini nya ? ", ujar Omah.
" Baru saja datang Omah ", ucap Gilang sambil tersenyum dengan Deny yang berdiri di samping Omah.
" Habis dari kampus ya Lang ? ", tanya Deny.
" Iya nih mas, ini juga mau balik lagi, ada latihan biola sih".
"Ooooohh.., ada yang mau ikut yah ? ", tanya Deny lagi sambil tertawa kecil.
__ADS_1
" Iya sih, kalau engga di ajak, nanti takut nya ngambek. Soal nya Dhea mau latihan biola juga sih ".
" Sejak kapan Lang...?,Dede jadi mau latihan biola ?, dulu saja di suruh latihan musik juga engga pernah mau ", tutur Omah.
" Memang, dulu Dhea nya mau di kasih kursus musik apa Omah ?", tanya Gilang bersemangat.
"Piano sih, sama papa nya.., itu waktu kecil dulu. Sampai ngundang guru piano ke rumah, tetap saja bersikeras engga mau latihan.., eh sekali udah besar, malah ikut temen - temen nya main drum sewaktu masih di belanda ", tutur Omah nya sambil tertawa kecil. Gilang dan Deny cuma tertawa cekikikan.
" Ok deh Omah, Gilang mau ke dalam dulu ya..".
"Iya dah.., Omah masih betah di luar,soal nya bunga - bunga di sini bikin suasana hati jadi tenang.. ", tukas Omah sambil tersenyum dengan Deny.
" Ayo, saya ke dalam dulu ya mas Deny ", ujar Gilang.
" Yuph.., enjoy aja deh.. ".
Gilang sudah melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang benar - benar harum semerbak wangi bunga, memenuhi seisi ruangan tersebut. Gilang merasakan, jika ada orang yang pecinta bunga banget, maka ia akan betah dalam ruangan ini. Mungkin bisa jadi Omah dan Rena termasuk di dalam nya, tapi bukan karena kebetulan saja Rena bekerja disitu, sebab Rena sudah menyukai bunga sejak ia kecil, dan ia adalah seorang penyayang bunga. Kenapa bisa di katakan seperti itu, karena Rena tidak pernah mau memetik bunga, ia saja pernah berkata, "Bunga akan selalu indah jika ia tetap bersemat pada tangkai nya, kecuali tiba pada waktu nya, biarlah ia akan layu dengan sendiri nya".
Kalau sudah bekerja di kedai bunga, mau tidak mau ia harus rela melihat banyak bunga yang di gunting lalu di rangkai. Itulah resiko sebuah pekerjaan, Ren..!!.
Begitu Gilang sampai di hadapan Dhea dan Rena, ia malah cengar - cengir seperti orang habis pipis di celana.
" Lang..., kok cepat banget ? ", tanya Dhea.
" Nah.., gimana sih nih anak ?, kalau datang lambat di tanyain.., kok datang nya terlambat ?, kalau datang cepat.., juga di tanyain..," kok cepat banget ?..., hadeeeehh..jadi serba salah.. ", tukas Gilang sambil menepuk kening nya.
Dhea dan Rena kompakan tertawa lepas.
" Hari ini harus latihan lebih banyak lagi Dhe.., banyak teori yang sudah harus di praktekin, soalnya kata pak Ketut kepada Ipenk, kemungkinan besar, bulan depan.., kami akan mentas... ", tutur Gilang.
__ADS_1
" Oh yah..!!, beneran Lang..?!!....,horeeeee.!!!!", sahut Dhea girang sambil mengangkat kedua tangan nya ke atas. Gilang cuma tertawa cekikikan. Rena pun tersenyum gembira.
Beberapa menit kemudian, Gilang dan Rena sudah berada di tengah jalan menuju kampus nya Gilang.