
Hari berganti hari, Anggeline kini sudah lebih dekat dengan Arsenio karena Arsenio tidak menunjukan sikap yang aneh terhadapnya. Dan akhirnya membuatnya percaya, bahwa Arsenio adalah seorang pria yang baik, tidak seperti pria sebelumnya yang kejam dan hanya menginginkan darahnya.
Arsenio seolah menunjukkan sikap tulusnya saat merawat Anggeline hingga membuat Anggeline percaya bahwa Arsenio adalah orang tulus dan baik. Namun tanpa di ketahui olehnya, Arsenio hanyalah menunjukkannya wajah dan sikap palsunya demi mengambil perhatian Anggeline untuk bisa dia gunakan membunuh Alfred. Semua itu ia lakukan dengan pelan dan pasti tanpa membuat Anggeline curiga bahwa sebenarnya dirinya hanya ingin memanfaatkan nya saja.
"Minumlah," ucapnya dengan menyerahkan ramuan obat yang di buatnya.
Anggeline yang melihat langsung mengambil dan meminumnya. Dalam sekali teguk tanpa mengeluh dengan rasa pahit obat tersebut, ia menelannya dengan cepat. Arsenio yang melihat terus menatap, entah kenapa beberapa hari bersama dengan Anggeline ada rasa aneh di hatinya. Tapi dengan cepat ia membuang rasa tersebut, berpikir itu perasaan itu karena seringnya bersama dengan seorang wanita.
"Terimakasih," ucap Anggeline menyerahkan mangkok tersebut.
Arsenio mengangguk, dan mengambil mangkuk tersebut. Dan setelah itu meletakkan mangkuk tersebut di atas batu tempat biasanya dia meracik obat untuk luka Anggeline.
"Seperti nya luka mu sudah lebih baik," ucap Arsenio dan di angguki Anggeline.
"Ya, aku merasa tubuh ku sudah lebih baik dari sebelumnya. Luka ku pun sudah mulai mengering. Terimakasih karena telah merawat ku," ucap Anggeline dengan sungguh-sungguh.
"Tidak usah sungkan. Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan akan menyembuhkan mu? Jadi tidak usah berterimakasih seperti itu, mungkin aku memang di utus oleh dewa untuk menyembuhkan mu," ucapnya membuat Anggeline terkekeh kecil.
Tawa Anggeline yang manis dengan suara yang indah membuat Arsenio sempat terkesima. Namun saat mengingat rencananya, dengan cepat dia menggelengkan kepala, mengusir rasa tersebut.
"Ada apa sebenarnya dengan ku?" gumamnya dalam hati. "Aku akan keluar mencari bahan obat lagi. Kau tetaplah di sini dan jangan keluar, "perintahnya melarang Anggeline keluar satu langkah pun dari gua tersebut.
Anggeline hanya mengangguk saja, menuruti perintah tersebut. Dan setelah itu Arsenio pergi meninggalkan Anggeline seorang diri di gua tersebut. Sedangkan Arsenio bukanlah mencari bahan obat, melainkan dirinya kembali ke istana untuk melihat situasi istananya. Apakah baik-baik saja atau malah sebaliknya.
.
.
.
__ADS_1
Di istana vampir, Alfred melempar gelas yang ada di tangannya. Beberapa bawahannya yang saat ini ada di hadapannya sangat ketakutan melihat kemarahan tuannya. Matanya yang merah dan tatapannya yang tajam membuat pandangannya sangat mengerikan, hingga membuat tubuh beberapa anak buahnya yang ada di depannya gemetar ketakutan.
"Apa guna kalian, jika mencari satu orang saja kalian tidak becus!" marahnya dengan suara yang menggelar di ruangan tersebut. Kemarahannya benar-benar tidak bisa ia tahan. Jika sebelumnya dia hanya menahan, tapi tidak dengan saat ini. Rasa ingin meminum darah Anggeline dan tidak bisa melakukannya untuk membiasakan rasa hausnya membuat amarahnya meledak. Dan akhirnya anak buahnya lah yang menjadi sasaran kemarahannya.
"Mohon ampun Yang Mulia. Selama kami mengawasi di wilayah serigala, kami tidak melihat pergerakan yang mencurigakan. Bahkan Arion pun tetap berada di istana dan tidak meninggalkan istana satu langkah pun," jelas seorang bawahan yang mengatakan sejujurnya.
Memang kenyataan nya seperti itu, Arion memang tidak pernah mengunjungi tuannya saat malam hari, dan hanya akan menemui Arsenio pada siang hari. Hal itu tentu saja membuat anak buah Alfred tidak mengetahui, karena saat siang hari dia akan kembali dan bersembunyi karena adanya matahari yang bisa membakar tubuh kalian.
Alfred yang mendengar menghela nafas. Ia tahu kenapa anak buahnya tidak bisa menemukan Anggeline? Mungkin mereka tahu bahwa akan ada mata-mata yang mengawasinya. Dan hal itu akhirnya membuat Arion menemui Arsenio pada siang hari untuk menghindari hal tersebut.
Setelah berhari-hari tidak mendapatkan hasil yang memuaskan tentang pencariannya, Alfred pun turun tangan. Ia marah karena tidak mendapatkan Anggeline kembali dan akhirnya membuat kekacauan di wilayah serigala mencari mangsa demi memuaskan ras hausnya.
Dengan diam-diam ia masuk ke wilayah tersebut dan memburu serigala yang ada di hutan. Dalam satu malam beberapa serigala banyak yang mati karena di hisap darah nya oleh Alfred.
Auuuu......
Lolong serigala yang melihat rekannya tergeletak tak bernyawa. Dalam sekejap dia berubah ke bentuk manusia dan melihat serta meneliti tubuh rekannya itu.
Mengetahui hal itu tentu saja membuat nya sangat marah. Tangannya terkepal dengan wajah yang amarah yang menggebu.
"Berani sekali vampir itu masuk ke wilayah serigala dan membuat kekacauan," geramnya dan tidak sabar memberitahukan kejadian itu pada tuannya. "Aku harus secepatnya melaporkan apa yang terjadi di tempat ini. Jika aku terlambat mungkin semuanya akan berakhir," sambungnya dan berubah wujud ke bentuk serigala.
Pria serigala yang ingin melaporkan apa yang terjadi di hutan tersebut tidak menyadari jika ada sebuah mata merah menatapnya dengan pandangan rasa haus darahnya. Dan kini saat tahu pria serigala tersebut ingin pergi intuk melapor, orang yang memiliki mata merah dengan cepat langsung menghilang dan dalam sekejap kini ada di hadapan pria serigala tersebut.
Pria serigala yang melihat seorang vampir ada di hadapannya tentu saja terkejut. Benar dugaan nya, bahwa semua itu adalah ulah dari ras vampir.
Auuuu.....
"Beraninya kau masuk ke wilayah ku vampir sialan!" umpatnya tidak mengenali jika di depannya adalah raja dari ras vampir karena Alfred sendiri saat ini memakai jubah bertudung yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
Alfred yang mendengar ucapan tersebut menyeringai, pikirnya sungguh berani sekali serigala di depannya itu mengumpat raja dari ras vampir.
Pria serigala sangat marah saat Alfred diam, dia pun langsung melompat dan menyerang Alfred. Tubuh serigala dengan ukuran besar itu hendak menerkam Alfred yang masih diam di tempatnya, tanpa bergerak atau pun menghindar. Saat tubuh serigala tersebut hendak sampai dan menerkamnya, Alfred menganggap tangannya dan mengibaskan nya membuat serigala tersebut dalam sekali kibasan tangan langsung terpental dan menabrak pohon di sekitar.
Bugh,
Serigala yang mendapatkan serangan itu langsung bangkit, berdiri dan hendak menyerang kembali. Namun sebelum semua itu di lakukannya, Alfred bergerak secepat kilat dan kini ada di hadapan serigala tersebut, menendang serigala itu dengan kakinya dan membuatnya kembali terlempar. Tak hanya melakukan itu, Alfred juga menyerang nya dengan cara mencabik, melukai tubuh serigala tersebut dengan kuku panjang nya.
Cras....
Cras....
Cras....
Auuuu.....
Lolong serigala tersebut saat tubuhnya merasakan sakit karena siksaan dari seorang raja vampir. Berharap lolongannya dapat di dengar oleh bangsanya sendiri.
Alfred yang tahu maksud dari lolongan tersebut menyeringai. Sungguh seringai itu sangat mengerikan, sampai serigala yang saat ini di siksanya terkejut saat tahu siapa yang di hadapinya, si raja vampir yang kejam.
Alfred mencekik leher serigala itu dengan mengangkat tubuhnya, membuat serigala yang lemah itu dapat melihat wajahnya.
"Apa kau terkejut karena ini aku?" tanyanya membuat serigala tersebut diam, tidak bisa menjawab karena cekikan kuat yang di lakukannya. Namun dalam hati, ia mengumpat kesal dan marah serta ingin membunuh raja vampir itu. Tapi saat mengingat raja vampir bukanlah tandingannya membuat dirinya sadar tidak akan bisa membunuh nya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung