
Morcant yang mendengar penjelasan Leona menatap dengan datar, tidak percaya dengan apa yang di katakan nya.
"Benarkah seperti itu kejadiannya?" tanya Morcant membuat mereka diam.
Leona yang tidak ingin ketahuan berbohong langsung menjawab, "Yang Mulia, semua yang saya katakan benar adanya. Gadis itu telah membuat masalah dengan saya," ucapnya dengan memasang wajah sedihnya.
Alih-alih Morcant memberi sempati, ia mengabaikan dan kini bertanya kepada Anggeline. "Apakah benar seperti itu?"
"Apa anda percaya?" bukannya Anggeline menjawab pertanyaan itu, malah ia kini balik bertanya.
Mendengar pertanyaan gadis yang membuatnya tertarik, Morcant diam. Menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa di jelaskan. Dan setelah itu beralih melihat ke Leona.
Sebelum ia berkata, Morcant menghela nafas. Dan duduk di kursi sambil matanya melihat ke arah dua gadis itu. "Aku tidak tahu pasti kejadiannya seperti apa. Tapi aku yakin ada saksi di sini dengan apa yang terjadi."
Mendengar ucapan Morcant, Leona tentu saja terkejut. Ia yakin mereka yang melihat pasti mengatakan jika dirinya lah salah. Dan jika sampai Morcant mengetahui bahwa dirinya berbohong, dirinya benar-benar akan sangat malu dan tidak memiliki muka.
Leona melihat sekeliling, seolah memberi peringatan kepada semuanya untuk tidak mengatakan sejujurnya apa yang telah terjadi. Jika ada yang mengatakan, ia akan membuat orang tersebut menyesal. Dan karana tatapan Leona yang mengisyaratkan sebuah ancaman, membuat semuanya bungkam dan tidak ada yang berani berbicara.
Morcant melihat semua pengunjung di rumah makan itu dan setelah nya berkata, "Katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu pasti ada yang melihat kejadiannya. Dan jika ada yang mengetahui tapi tidak mau membuka mulut, maka jika sampai aku mengetahui akan ku buat orang tersebut merasakan sebuah hukuman."
Beberapa orang yang ada di ruangan itu diam dan saling berbisik. Ada rasa takut mendengar ancaman raja mereka, karena mereka yakin ancaman tersebut pasti bukanlah main-main.
__ADS_1
Cukup lama Morcant menunggu ada yang berbicara, namun tetap tidak ada yang berbicara, Morcant pun tidak bisa menahan kekesalannya. "Apa kalian tidak mendengar apa yang ku katakan?" ucapnya dengan suara sedikit meninggi, membuat banyak orang langsung ketakutan. Mereka tahu seperti apa raja mereka. Tidak mungkin ucapannya hanya main-main belaka, pasti apa yang di katakan nya tadi tentang akan memberi hukuman kepada mereka yang mengetahui kejadiannya, akan terjadi. Dan jika itu benar-benar terjadi, hanya kematian lah yang akan mereka terima.
"Cepat! Tidak ada waktu untuk ku tetap berada disini," sambungnya lagi dengan wajah yang sudah menyeramkan. Ia marah karena tidak ada yang mengatakan dengan jujur seperti apa kejadiannya. Dan jika tetap tidak ada yang mengatakan nya, sudah di pastikan wanita yang bisa membuatnya tertarik akan mendapatkan masalah.
Mendengar nada tinggi dan wajah marah rajanya, semuanya langsung berlutut ketakutan.
"Ampuni kami, Yang Mulia," ucap semuanya tapi tidak dengan Anggeline yang masih berdiri di depan Morcant.
Pria muda yang selalu dengan Morcant melihat Anggeline tidak berlutut seperti mereka, menatapnya dengan diam. Namun dalam hati ia bertanya-tanya dengan sikap Anggeline. Mungkinkah Anggeline tidak mengetahui jika di depannya adalah raja dari ras manusia? Tapi bukankah sebelumnya mereka yang ada di tempat itu memberi hormat dan memanggil Morcant dengan sebutan yang mulia. Jadi bukankan itu sudah jelas? Memikirkan sikap Anggeline benar-benar membuatnya bingung.
Morcant yang mendengar semuanya meminta maaf menatapnya dengan pandangan dingin. "Kenapa kalian minta maaf?" tanya nya membuat mereka semua semakin ketakutan. Walaupun pertanyaan itu terbilang cukup wajar, tapi mereka tahu pertanyaan itu adalah pertanyaan mematikan.
"Benar, Yang Mulia," jawab semuanya kompak.
Morcant pun menghela nafas, ia merasa lega karena bisa membantu Anggeline. Tapi tidak dengan Leona yang mengumpat kesal karena ia yakin setelah ini kebohongan nya akan terbongkar.
Dengan cepat ia mendekati Morcant, menyentuh tangannya. Namun saat tangan itu menyentuh Morcant dengan cepat orang kepercayaan nya menepis tangan tersebut agar tidak menyentuh tuannya.
"Lancang!" marahnya dengan pandangan membunuh. Matanya yang tajam membuat tatapan itu sangat menyeramkan.
"Ampuni saya, Yang Mulia," mohonnya dengan tubuh gemetar.
__ADS_1
Morcant yang melihat tubuh Leona gemetaran karena barusan di bentak oleh bawahannya, mendongak Javier yang kini menatap Leona dengan tajam.
"Kenapa kau membentak nya?" tanya nya seolah membela Leona.
Leona yang melihat Morcant seolah peduli dengannya, berbinar senang. Berpikir rajanya pasti menyukai nya. "Yang Mulia," Namun sebelum Leona berkata lebih banyak lagi, Morcant menyentuh dagu wanita cantik yang ada di depannya.
"Apa kau ingin berkata bahwa bahwa gadis itu salah dan kau benar?"
Deg,
Mendengar pertanyaan itu yang menunjukkan bahwa dirinya salah dan mencoba membela diri. Leona menunduk dan mengumpat kesal dalam hati. "Sialan!"
Setalah mengetahui jika Leona yang bersalah Morcant meminta Leona untuk meminta maaf dan mengganti rugi atas apa yang di lakukannya, memecahkan apa yang di bawa Anggeline.
"Minta maaflah, sebelum aku akan memberikan hukuman pada mu," perintahnya membuta Leona menunduk, enggan untuk mengucapkan maaf pada wanita yang di anggapnya miskin dan tidak pantas membuatnya mengucapkan kata maaf.
Menunggu Leona tidak membuka mulut, Morcant tidak sabar. Dan kini membentak Leona hingga membuat gadis itu terlonjak. "Apa yang kau tunggu? Cepat minta maaf,"
Dengan terpaksa Leona pun meminta maaf kepada Anggeline, mengatakan jika memang dirinya lah yang salah. Dan apa yang di lakukannya benar-benar berada di depan mereka semua.
Bersambung
__ADS_1