
Saat sampai di rumah kakek, Anggeline dan Alfred di sambut oleh kakek yang berdiri di depan rumah sambil matanya menatap keduanya dengan sorot mata yang tidak bisa di jelaskan.
Anggeline yang baru pertama melihat tatapan itu diam, bingung. Sedangkan Alfred malah balas menatapnya seolah tatapan itu memberi tahunya bahwa kakek tua itu bukanlah pria sembarangan.
"Siapa pria tua ini?" tanyanya dalam hati, yang merasakan perasaan sedikit tertekan dengan pandangan itu.
Anggeline mendekati kakek dan memeluk lengan pria tua itu dengan manja, seolah pria tua itu adalah kakek kandungnya sendiri, "Kek, maaf Anggel pulang terlambat," sang kakek yah mendengar permintaan maaf itu bukannya menanggapi atau menjawab ucapan Anggeline. Ia malah bertanya tentang pria yang berdiri di depannya.
"Siapa dia?"
Anggeline mengalihkan pandangannya ke arah Alfred yang sedang menyamar, dan setelah itu berkata. "Aku tidak mengenalnya. Dia pria gila yang mengikuti ku," ucapnya dengan nada tidak suka.
"Benarkah?" Tanyanya dan di angguki. "Masuklah, kakek akan berbicara dengan nya," perintahnya, namun Anggeline menolak, tidak ingin terjadi sesuatu dengan kakeknya.
"Tidak! Aku akan disini bersama kakek. Aku tidak ingin pria gila itu menyakiti mu,"
"Tidak akan terjadi apapun dengan, kakek. Kakek hanya ingin berbicara saja dengannya. Lagi pula dia tidak mungkin menyakiti kakek," jawabnya membuat Anggeline diam. Dan setelah itu mengangguk.
"Tapi kakek harus hati-hati dengan nya. Aku takut pria gila itu menyakiti mu. Dan jika itu terjadi, kakek berteriak lah, aku akan memberi pelajaran padanya," kakek pun mengangguk dan setelah itu Anggeline pun pergi, walaupun dengan berat hati.
__ADS_1
Setelah kepergian Anggeline dan kakek memastikan Anggeline telah pergi, kakek itu pun melangkah maju mendekati Alfred yang masih diam menatapnya.
"Tunjukkan diri mu. Aku tahu ini bukanlah diri mu sebenarnya," ucapnya dengan santai menatap pemuda yang ia ketahui sedang menyamar.
Alfred yang mendengar tetap diam dengan pandangan dingin. Tapi dalam hati ia terkejut karena pria tua di depannya mengetahui jika dirinya dalam penyamaran.
"Siapa sebenarnya kau ini?" tanya Alfred dengan nada dingin.
Kakek yang mendengar tersenyum kecil, dia menepuk bahu dan berkata. "Kau tidak perlu tahu siapa aku, anak muda. Tapi aku tahu sebenarnya siapa kau ini, Alfred si raja vampir," ucapnya membuat Alfred benar-benar terkejut karena pria tua mengetahui siapa dirinya.
Alfred mundur beberapa langkah, ia tidak bisa menganggap remeh pria di depannya ini. Mungkin saja pria tua itu bukanlah orang sembarang. Kakek yang melihat tersenyum kecil saat melihat wajah terkejutnya Alfred.
Ucapan yang mengandung ancaman itu langsung membuat Alfred waspada. Ia yakin pria tua itu bukanlah pria sembarangan. Dari cara bicaranya, Alfred meyakini, pria itu menyembunyikan sesuatu. Tapi jika benar pria tua itu memiliki kekuatan yang kuat, bagaimana bisa menjadi rakyat biasa di wilayah ras manusia. Mungkinkah pria tua itu menyembunyikan jati dirinya?
Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepala, dan tepukan di bahu nya lagi berhasil menyadarkan nya.
"Apa yang kau pikirkan, anak muda? Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku ini hanya pria tua biasa, tidak seperti yang kau pikirkan," ucapnya seolah tahu apa yang di pikirkan Alfred. Namun ucapan itu tidak membuat Alfred percaya, karena jika pria tua itu tahu bahwa dirinya sedang menyamar, sudah di pastikan pria tua itu bukanlah pria tua biasa.
"Jangan pikir aku percaya dengan apa yang kau katakan, pak tua. Kau mengetahui siapa aku, dan sudah ku pastikan kau bukanlah pria tua renta biasa,"
__ADS_1
"Kakek itu tertawa mendengar ucapan Alfred, benar-benar tidak bisa membohongi nya. Memang pantas pemuda di depannya menjadi raja kejam di ras vampir.
"Alfred Wallace. Jika kau berpikir seperti itu, maka turuti perintah ku. Jangan ganggu cucu perempuan ku. Jika kau menyentuhnya dan melukainya, aku akan membakar tubuh mu," ucapnya tidak main-main. Ia mengeluarkan sebuah aura kuat yang mampu membuat Alfred sedikit tertekan.
Alfred menahan tekanan yang mengarah padanya, ia menatap pria yang ternyata benar-benar bukan orang biasa. Sedangkan kakek yabg melihat Alfred sedikit tertekan, langsung menarik aura nya kembali. Dan itu langsung membuat Alfred merasa lega.
"Itu hanya peringatan kecil untuk mu. Sebelumnya aku tahu apa yang kau lakukan di rumah ku kepada Anggeline. Jadi setelah ini jangan harap bisa menyentuh atau menghisap darah cucu ku. Jika kau masih berani, tahu akibatnya," kakek tua itu mengibaskan tangannya, dan menghantamkan sebuah kekuatan kearah Alfred
Wuuus ....
Melihat itu, Alfred langsung menghindar. Beruntung tubuhnya tidak terkena hantaman kekuatan itu, sehingga dirinya tidak terluka.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1