DUNIA RAS

DUNIA RAS
DUNIA RAS. BAB 32


__ADS_3

"Pergilah, dan tetaplah bersama nya hingga saat itu tiba," perintahnya dan di angguki pemuda itu.


Setelah berbincang dengan tuannya, pemuda itu menghilang dari tempatnya, meninggalkan tuannya bersama dengan wanita yang diinginkan tuannya. Dan setelah kepergian bawahannya, kakek masuk kedalam rumah dan menuju ranjangnya. Namun sebelum ia merebahkan tubuhnya, ia lebih dulu menatap Anggeline yang tidur pulas. Sungguh pemandangan yang menyenangkan.


"Selamat malam, semoga mimpi mu malam ini indah, seindah diri mu," ucapnya tersenyum, dan merebahkan tubuhnya, tidur.


.


.


Di tempat lain, Alfred menghancurkan barang barang di kamarnya. Marah karena ada seseorang yang lebih kuat darinya. Ia tidak terima akan hal itu, dan ia pun berencana intuk membinasakan pria tua tersebut.


"Kurang ajar! Bagaimana bisa ada orang yang lebih kuat dari ku? Aku tidak terima. Aku harus membunuhnya agar di dunia ras ini hanya aku lah yang terkuat, yang lainnya tidak boleh sedikitpun." kesalnya dengan wajah yang memerah karena marah.


Kenzie yang baru datang dan mendengar keributan itu mendekati kamar tuannya. Di lihatnya penjaga di luar pintu kamar saling berbisik mendengar kemarahan rajanya. Entah apa yang membuat raja mereka marah.


"Ada apa?" tanya Kenzie pada kedua penjaga itu.


"Saya tidak tahu, tuan. Hanya saja setelah Yang Mulia kembali, beliau sangat marah. Dan saat ini beliau sedang menghancurkan apapun di dalam," jawabnya membuat Kenzie mengangguk.


"Baiklah, tetaplah berjaga disini," perintahnya dan di angguki keduanya.


Tok ...Tok ...Tok ...


Kenzie mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk.

__ADS_1


"Yang Mulia," panggil nya membuat Alfred yang ada di dalam langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara siapa itu.


"Masuklah," perintahnya mengatur emosinya.


Kenzie pun masuk, dan melangkah mendekati tuanya. Membungkuk memberi hormat. Namun sebelum itu ia melihat sekeliling yang nampak berantakan akibat barang-barang yang pecah.


Kenzie hanya diam saja tidak ingin menjawab. Sedangkan Alfred tidak peduli jika kemarahannya di lihat oleh bawahannya.


"Dari mana kamu?" tanya nya yang tidak melihat Kenzie.


"Saya dari berjaga di hutan tuan, bersama dengan penjaga lainnya," jawabnya dengan tenang.


Alfred diam, menatap bawahannya itu. Seolah mencari sesuatu di mata Kenzie. Tapi tidak menemukan apapun. Nampak tenang dan jujur. Alfred menghela nafas, rasa curiganya tidak beralasan.


"Aku menemukan budak darah itu. Tapi sialnya budak darah itu berada di ras manusia. Dan saat ini bersama dengan pria tua yang sepertinya bukan orang biasa," Jelasnya memberi tahu Kenzie.


"Jadi anda telah menemukannya, Yang Mulia. Lalu sekuat apa orang tersebut?" tanyanya tentang pria yang di katakan Alfred bukan orang biasa.


"Aku tidak bisa mengukur kekuatannya. Hanya saja saat merasakan aura nya itu benar-benar sedikit membuat ku sesak," ucapnya mengingat pertemuannya dengan pria tua itu.


Kenzie mengangguk, mengerti. "Lalu apa yang dapat saya bantu tuan, untuk bisa mendapatkan nona itu lagi?"


"Kita tunggu waktu yang tepat saja. Aku yakin pria tua itu tidak akan semudah itu memberikan Anggeline kepada ku. Kita buat rencana agar dia lalai terhadap Anggeline. Atau kita bisa menculiknya saat dia pulang dari bekerja," ucapnya memberi ide.


Kenzie yang mendengar diam, berpikir. Entah apa yang di pikirkan nya, hanya Kenzie sendiri yang tahu.

__ADS_1


"Apakah nona Anggeline pulangnya malam, tuan?" tanyanya tidak ingin mati terbakar sinar matahari saat ingin menculik Anggeline.


"Dia pulang setelah matahari terbenam, jadi itu mempermudah kita menculiknya. Dan kita perlu membuat pengalihan. Kirim kabar tentang keberadaan Anggeline kepada Arsenio. Aku yakin Arsenio tidak akan diam saja," jelasnya dan di angguki Kenzie. "Sekarang pergilah, aku akan istirahat. Sebentar lagi matahari terbit," Kenzie pun langsung pergi meninggalkan tuannya, dan menuju kamarnya, untuk tidur siang menyambut siang hari.


..


..


..


Di tempat rumah kakek, Anggeline bangun dan saat melihat ke arah ranjang kakeknya, ia tidak melihat sang kakek. "Kemana kakek?" gumamnya dan turun dari ranjang, berjalan keluar rumah dan melihat sekeliling. Nampak sepi, tidak ada keberadaan sang kakek.


Anggeline pun pergi ke sungai yang ada di belakang rumahnya untuk mandi. Sebelum itu ia mengambil pakaian gantinya, dan berjalan santai tanpa tahu ada orang yang memperhatikannya.


Anggeline melepas pakaiannya dan kalung yang di pakainya. Kaki jenjang dan tubuh putih itu terlihat jelas di mata seseorang. Orang yang melihat pemandangan itu diam, dan perlahan wajah itu berubah, menampakkan sosok asli dari sang pemilik tubuh.


Pandangan itu sedikitpun tak lepas dari tubuh Anggeline yang perlahan masuk kedalam sungai. Merendam tubuhnya di air hangat itu. Pertama dirinya tinggal bersama sang kakek, ia merasa terkejut saat pertama kali dirinya mandi di sungai itu. Sungai yang seharusnya memiliki air dingin, tapi ternyata air itu hangat. Dan sampai sekarang ia masih bingung, karena hanya tempat nya yang untuk mandi lah air itu hangat. Sedangkan yang lainnya terasa dingin seperti umumnya.


Anggeline menggosok tubuhnya dengan lembut, kulitnya yang putih dan terkena uap hangat dari air sungai, membuat Anggeline sangat memesona. Dan itu berhasil membuat seseorang menelan ludah dengan kasar.


"Apa yang terjadi dengan ku," gumamnya mengusap wajahnya dengan kasar. Dan setelah itu pergi untuk menenangkan diri.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2