DUNIA RAS

DUNIA RAS
DUNIA RAS. BAB 31


__ADS_3

Alfred pun pergi meninggalkan rumah kakek. Ia tidak ingin mengambil resiko dengan pria tua itu. Tidak ingin membuat masalah untuk saat ini. Dan akan membuat rencana selajutnya, mendapatkan Anggeline menjadi miliknya.


Setelah kepergian Alfred, kakek masuk ke dalam rumah, melihat apakah Anggeline baik-baik saja atau tidak. Namun saat setelah masuk, ia melihat Anggeline yang mondar mandir menunggu sang kakek. Anggeline yang mendengar pintu di buka langsung menoleh, mendekatinya dan bertanya.


"Kakek, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil memeriksa tubuh kakeknya, apakah ada luka atau tidak.


"Kakek tidak apa-apa. Memang nya apa yang akan terjadi dengan kakek mu ini?"


"Aku takut dia menyakiti, kakek."


Mendengar rasa khawatir dari cucu angkatnya, kakek tersenyum dan mengelus surai panjang. "Kakek baik-baik saja. kamu tidak perlu khawatir. Lagian jika memang pemuda itu menyakiti kakek, kakek akan membalasnya dengan memukulnya hingga babak belur,"


Anggeline yang mendengar malah tertawa keras, mendengar kakeknya akan menghajar pemuda tersebut. Bukannya tidak percaya, tapi memang ia tidak percaya jika kakeknya bisa menghajar dan memberi pelajaran pada pemuda itu.


"Apa kau tidak percaya?"


"Tidak. Anggel sama sekali tidak percaya, jika kakek mampu menghajarnya,"


"Kamu benar-benar meremehkan kakek, ya?" ucapnya mencubit hidung sang cucu, merasa gemas.


"Aduh, sakit kakek," Rintihnya dengan manja sambil mengusap hidungnya yang kini telah memerah.

__ADS_1


Kakek tersenyum merasa senang bersama dengan Anggeline. Setelah itu meminta Anggeline untuk segera istirahat. Dan setelah Anggeline tertidur lelap, kakek yang sebenarnya tidak tidur turun dari ranjang, mendekati Anggeline dengan pandangan rumit. Tangannya terulur menyentuh pipi gadis itu, dan setelah itu melepas kalung yang di pakai, kalung pemberian Melysina.


Anggeline yang kini tidak memakai kalung, menunjukan siapa dirinya sebenarnya yang ternyata adalah seorang wanita cantik, secantik bidadari surga.


Tangan keriput itu perlahan menyentuh pipi Anggeline dengan lembut. "Kamu memang cantik, pantas saja Vampir itu mengejar mu hingga sampai disini," gumamnya dan menyentuh kening, membuka tanda budak darah berbentuk bunga kematian.


Melihat tanda budak darah, ia mengepalkan tangan, marah. "Berani sekali badjingan itu membuat tanda budak kepada wanita ku. Aku tidak akan melepaskannya, setelah semua kekuatan ku pulih, aku akan memberi perhitungan kepada badjingan itu karena telah mengambil semua hak ku," ucapnya mengingat ingatan kelam masa lalunya.


Kakek itu menghela nafas, ia akan menjaga Anggeline sepenuh hati dan jiwanya. Entah kenapa hidup bersama dengan Anggeline selama ini ada rasa aneh yang muncul di hatinya. Entah apa itu, ia tidak memahaminya. Hanya saja tidak terima jika ada yang ingin melukai nya.


Setelah puas melihat wajah cantik Anggeline yang sempurna, kakek itu memasangkan kembali kalung tersebut Dan kemudian, wajah Anggeline berubah kembali dalam bentuk samarannya.


Akhir-akhir ini ia merasa lelah dengan semua pekerjaan nya. Sebelum Anggeline pulang, ia akan bertemu dengan seseorang dan meminta orang tersebut menjalankan rencana dengan baik, dan jangan sampai ada yang mengatahui terumana orang yang pernah menghancurkan semua hidup dan keluarganya. Dan malam ini, ia akan kembali bertemu dengan orang tersebut untuk memberitahukan apa yang terjadi.


"Tuan," sapa nya dengan memberi hormat


"Tidak perlu seperti itu. Kita ini layaknya saudara. Jadi, jika bertemu dengan ku, bersikaplah biasa. Tidak perlu memberi hormat seperti itu," jelasnya tidak menyukai sikap bawahannya itu. Karena hanya bawahannya itulah yang ia miliki dan dapat di percaya.


Bawahan itu diam, tidak berkata sama sekali. Melihat pemuda di depannya bungkam, kakek menghela nafas. Dan setelah itu berkata.


"Dia tadi disini. Dia menemukan keberadaan Anggeline. Mungkin karena tanda budak yang di tanam di tubuh Anggeline, membuatnya mudah menemukannya," jelasnya membuat pemuda itu terkejut, bagaimana bisa?

__ADS_1


"Tuan, apakah dia mengetahui bahwa anda___?"


"Tidak, dia tidak mengetahui siapa aku."


"Syukurlah, karena jika dia mengetahui siapa anda, sudah di pastikan dia tidak akan melepas anda kembali,"


Kakek itu mengangguk, dan berkata "Tapi saat aku melihat wajah itu, ingin sekali aku membunuhnya. Rasanya darah ini langsung mendidih melihat pria badjingan itu. Apalagi saat ku tahu, badjingan itu memberikan tanda budak kepada wanita ku," kesalnya mengeratkan kepalan di tangan, hingga kukunya menancap dan membuat tangannya terluka.


Pemuda yang bersama nya melihat luka tersebut, langsung mengambil kain untuk membalut luka itu. Tidak boleh ada darah yang jatuh ketanah. Baginya darah dari tuannya, sangat-sangat lah berharga.


"Tuan," ucapnya khawatir,


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Kau tidak perlu khawatir, Ken,"


Walaupun tuannya itu telah mengatakan dirinya baik-baik saja. Tapi ia tetap khawatir. Karena baginya tubuh tuannya adalah hal yang sangat berharga dan harus di lindungi.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2