
Pria muda itu meninggalkan wilayah istana peri dan pergi kembali ke kediamannya. Ia menuju ranjang Anggeline, mengusap tempat tidur itu, merasa berat untuk meninggalkan wanita itu.
"Apakah kau akan baik-baik saja saat aku pergi?" gumamnya dengan suara lirih, hati nya seakan tidak tega meninggalkan Anggeline seorang diri. Apalagi saat tahu Anggeline selalu dalam bahaya, terutama terhadap Alfred si vampir yang selalu mengincarnya.
Ingin secepatnya menyelesaikan masalahnya di tempat asal nya, pria itu langsung menghilang setelah meninggalkan sebuah pesan di atas tempat tidur. Berharap saat Anggeline kembali, dia membaca pesan yang di tinggalkan nya.
Pria itu akhirnya pergi kembali ke tempatnya, tempat yang ada di belahan dunia ras lainnya. Tepatnya di dunia bawah. Dunia yang hanya di huni oleh Ras Demon/Iblis.
.
.
.
Malam hari, Anggeline pulang dengan ceria. Hari ini ia mendapat upah gajiannya dan akan mentraktir kakeknya makan malam enak. Namun saat dirinya masuk dan mencari keberadaan sang kakek, Anggeline tidak menemukan keberadaan kakeknya. Dan malah menemukan sebuah surat di atas tempat tidurnya.
Perlahan Anggeline membuka surat tersebut, dan membacanya. Saat membaca surat tersebut, ia terkejut tenyata kakeknya pergi meninggalkan nya seorang diri.
"Kakek pergi? Kenapa? Kenapa kakek pergi meninggalkan ku? Apakah kakek sebenarnya tidak senang akan keberadaan ku?" gumamnya berpikir apa yang membuat sang kakek pergi meninggalkan nya.
__ADS_1
Karena itu sudah keputusan kakeknya, Anggeline tidak bisa menahannya. Dan akhirnya membiarkan kakeknya pergi ke tempat yang di inginkan nya.
"Pergilah, Anggel harap kakek baik-baik saja," gumamnya berdiri di depan jendela, menatap bulan purnama di langit. Dan setelah puas menikmati keindahan bulan purnama yang bersinar. Anggeline menutup jendela dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sambil meletakkan surat tersebut di sampingnya.
Di istana vampir. Malam yang menandakan malam bulan purnama membuat Alfred melakukan ritual untuk memperkuat tubuhnya, menyerap esensi kekuatan dari sinar purnama tersebut. Dia juga merendam tubuhnya di sebuah bak mandi berukuran besar yang berisikan darah ras manusia dan ras lainnya. Menyerap darah itu untuk memperkuat tubuhnya. Rasa tidak puas dengan kekuatan yang di miliki dan iri terhadap kekuatan yang lebih tinggi darinya, membuatnya gelap mata dan selalu ingin lebih lebih dan lebih.
"Aku harus lebih kuat. Tidak ada yang boleh lebih kuat dari ku. Jika ada, aku harus membunuhnya," ucapnya dengan ambisi yang besar.
.
.
.
Mata Anggeline melihat ke arah ranjang kakek yang kosong. Baru saja dirinya di tinggal, tapi ia sudah merasakan kesepian.
Hah..... Anggeline menghela nafas dan turun dari ranjang. Membuka jendela kembali dan menatap bulan.
"Terasa sepi. Dan hanya bisa memandang mu yang indah ini," gumamnya masih dengan tatapan menatap bulan bersinar terang itu. "Apakah tempat ku berasal masih sama seperti dulu? Ayah, aku merindukan mu," tak terasa air mata itu menetes di pipinya mengingat ayahnya yang sangat di sayangi.
__ADS_1
Saat memikirkan hidupnya sebelum datang di dunia ras, ia melihat sekelebat bayangan hitam tak jauh dari dirinya berada. Anggeline yang melihat mengerutkan kening, dalam hati bertanya-tanya, 'Apa itu?' ia mengusap air mata itu dengan cepat, setelah itu keluar rumah mencari keberadaan bayangan hitam tersebut.
Namun saat di luar, ia tidak menemukan apa. Dan hanya kesunyian yang ada. Anggeline diam, namun matanya masih melihat sekeliling, berharap sesuatu yang di lihatnya tadi ada.
Saat dirinya berbalik, betapa terkejutnya ia melihat sesuatu yang sangat mengerikan di depannya. Mahluk yang memiliki mata merah terang dengan tubuh yang di kelilingi asap hitam.
Anggeline yang baru pertama kali melihat mahluk mengerikan itu langsung menjerit sekuat tenaga. Dan berlari sekencang mungkin meningalkan tempat itu, menuju arah kota yang banyak penduduknya. Ia tidak ingin mati di tangan mahluk mengerikan itu. Mahluk yang mungkin saja menginginkan kematiannya.
"Sial! Mahluk apa itu? Kenapa bisa muncul di sekitar rumah," batinnya tidak menengok kebelakang sama sekali. Ia terus berlari untuk menghindari mahluk tersebut.
Sedangkan mahluk yang di lihat Anggeline tersenyum menyeringai saat melihat Anggeline ketakutan setengah mati saat melihat keberadaan nya. Senyuman itu sungguh sangat mengerikan, dan ia berkata, "Ternyata kakak ku yang tampan itu tertarik dengan gadis seperti ini. Sungguh menggelikan," gumamnya dan menghilang.
Mahluk yang memiliki wujud mengerikan itu adalah seorang pria bernama Azel Morgonth dalam bentuk aslinya. Jika dia dalam bentuk lainnya, ia akan menjadi seorang pemuda tampan yang mampu membuat wanita terpikat dengannya. Kedatangannya di tempat Anggeline berada karena ingin mengetahui seperti apa wanita yang membuat kakaknya betah berada di dunia luar. Dan setelah mengetahui dimana kakaknya sebelumnya tinggal, ia pun mendatangi dan ingin melihat seperti apa sosok wanita tersebut.Dan saat melihat wajah wanita yang di sukai kakaknya, ia menghina selera kakaknya terlalu buruk. Karena menurutnya Anggeline adalah wanita yang jelek di matanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung