DUNIA RAS

DUNIA RAS
DUNIA RAS. BAB 33


__ADS_3

Pria tua yang sebenarnya memiliki wajah sangat-sangat tampan kini sedang berendam di dalam air setelah melihat tubuh wanita yang membuatnya tertarik, menenangkan diri dengan mata terpejam. Menarik nafas seraya menghilangkan bayang-bayang tersebut.


"Ada apa dengan ku? Kenapa hanya melihat nya saja aku seperti ini, sial!"


Pria muda nan tampan yang tak lain adalah sang kakek tua yang selalu bersama Anggeline kini sedang menstabilkan tubuhnya, berharap reaksi dari tubuhnya lekas hilang. Namun cukup lama, reaksi itu tidak kunjung hilang karena masih saja teringat dengan bayang tubuh tersebut.


"Sialan!" umpatnya kesal dan beranjak, menyambar pakaian nya dan menghilang dari tempat itu, pergi ke suatu tempat yang dapat menenangkannya.


Sedangkan Anggeline yang tidak mengetahui telah membuat seseorang mengumpat kesal karena melihat tubuhnya, begitu santai menikmati acara mandinya. Dan setelah selesai, ia memakai pakaiannya dan kembali ke rumah kakek.


Sebelum berangkat bekerja, Anggeline lebih dulu memasakkan makanan untuk kakeknya, berharap saat kakeknya pulang kakeknya bisa menikmati makanan yang di buatnya.


Anggeline meletakkan sebuah tulisan di atas kertas dan di letakkan nya di dekat makanan itu, berharap saat kakek nya datang, dia melihat tulisan tangan nya yang berpesan.


"Kakek, Anggel berangkat bekerja. Makanan sudah aku siapkan. Nikmati dan jangan pergi kemana-mana setelah makan. Tetap di rumah, dan jangan berkerja keras agar pinggang mu tidak sakit. Ingat, jangan bekerja keras...."


Itulah bunyi pesan yang selalu ia tulis untuk kakeknya, kakek yang mau menerima nya dan menampungnya saat dirinya dalam bahaya.


Setelah kepergian Anggeline, kakek itu tiba. Namun wujudnya bukan menjadi seorang kakek, tapi seorang pemuda tampan yang menatap hidangan yang di buat oleh Anggeline.


Ia mengambil kertas itu dan membacanya, senyum manis terbit di bibirnya. "Banyak bicara sekali dia," gumamnya dan menyimpan secarik kertas itu di balik bajunya. Dan duduk menikmati hidangan yang di buat oleh Anggeline untuknya.

__ADS_1


Saat menikmati hidangan tersebut. Sebuah asap hitam muncul di belakangnya dan menampilkan wujud dari seseorang yang kini memberi hormat padanya.


"Apa yang membuat mu datang kemari?" tanya nya masih santai menikmati makanan tersebut.


"Saya ingin menyampaikan jika sesuatu terjadi di istana dan hanya anda yang bisa mengatasinya?"


"Apakah para tetua itu membuat ulah lagi?"


"Benar, tuan." jawab orang tersebut membuat pria itu menghela nafas.


"Kau urus di sana dulu. Mungkin untuk saat ini aku belum bisa kembali, ada sesuatu yang harus ku urus disini,"


Bawahan itu diam, tidak menjawab. Ingin sekali ia mengatakan sesuatu. Tapi, jika tuannya sudah berkata seperti itu dan tidak ingin kembali, maka ia hanya bisa berkata iya dan kembali dengan tangan kosong.


Pria itu diam, merenung. Dalam otaknya terlalu banyak yang di pikirkan. Membuatnya tidak lagi bernapshu untuk makan.


"Lebih baik aku keluar dan melihat ke adaan di luar sana," ucapnya dan menghilang, datang ke wilayah lain untuk berkunjung.


Saat sampai di wilayah tersebut, ia langsung menuju ke tempat seseorang. Seseorang yang telah membantunya. Dan kini dalam sekejap mata, ia telah berada di ruangan bersama dengan seseorang itu. Dan muncul secara tiba-tiba membuat orang yang di datanginya terkejut setengah mati.


"Tidak bisakah kau tidak membuatku terkejut," ucap seorang wanita yang tak lain adalah Melysina, ratu ras peri.

__ADS_1


Pria itu terkekeh mendengar kekesalan wanita cantik di depannya. Walaupun ia sering melakukan itu, sebenarnya tidak benar-benar membuat Melysina kesal padanya. Ia duduk di kursi dan menyandarkan tubuhnya, menghela nafas membuat Melysina menatap nya dengan kening berkerut.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya sambil menuangkan minuman dan menyerahkannya.


Pria itu mengambilnya dan meneguknya dalam sekali teguk. Setelah itu berkata, "Aku tidak tahu apakah masih bisa bersama nya atau tidak. Jika aku tidak ada di sini, ku harap kau mau menjadi pelindungnya saat banyaknya pria yang nantinya akan mengejarnya,"


Melysina menatap pemuda tampan di depannya, dan berkata, "Apa kau akan kembali ke tempat itu?" Bukannya menjawab, pria itu malah memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya.


"Aku tidak tahu apa masalah mu di sana. Tapi aku sebagai teman hanya bisa memberi saran. Sebaiknya kau pulanglah dulu dan bereskan urusan mu disana. Setelah semuanya selesai, baru kau urus urusan mu disini, membalas dendam dengan pria itu,"


"Lagi-lagi pria itu diam, dan setelah itu beranjak hendak pergi, "Aku titip dia untuk ku,"


"Apa kau akan pergi?"


Pria itu tidak menjawab, dan malah pergi meninggalkannya yang kini menjadi kesal. Lagi-lagi pria itu mengabaikan pertanyaan nya. "Tidak punya hati,"


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2