DUNIA RAS

DUNIA RAS
DUNIA RAS. BAB 26


__ADS_3

Alfred langsung pergi meninggalkan wilayah ras peri. Tapi ia tidak langsung pergi ke wilayah manusia untuk menjemput Anggeline. Ia lebih dulu kembali ke istana, mengambil sesuatu barang miliknya.


Kenzie yang melihat kedatangan tuannya, langsung menyambut dan bertanya. Apakah tuannya itu telah menemukan gadis itu atau tidak, "Yang Mulia, bagaimana? Apakah anda menemukan gadis itu?" tanyanya ingin segera tahu.


Em, Alfred mengangguk, mengatakan jika dirinya telah menemukan keberadaan Anggeline.


Kenzie yang mendengar mencari sekeliling, dimana? Kenapa tidak ada? Tapi tetap saja dia tidak menemukan. "Yang Mulia, mana gadis itu? Kenapa saya tidak melihatnya?" tanyanya yang tidak menemukan keberadaan Anggeline.


Alfred tidak menjawab, ia malah pergi meninggalkan Kenzie yang kebingungan. Dan setelah sampai di kamarnya, ia menuju sebuah kotak yang ada di meja. Membukanya dan setelah itu mengambil benda tersebut.


Alfred duduk di atas ranjang dengan bersila. Di depannya terdapat benda berwarna merah seperti mutiara. Dan setelah itu, ia memejamkan mata, menyedot kekuatan dari benda tersebut. Sebuah benda yang memiliki nama, Mutiara seribu rupa.


Mutiara yang kini di hisap kekuatannya perlahan masuk kedalam tubuh Alfred. Dan Alfred pun membayangkan sebuah wajah baru yang akan di pakainya. Dan dengan perlahan wajahnya itu pun berubah ke bentuk yang di bayangkan, tidak lagi seperti wajah asli Alfred sebelumnya. Namun wajah itu masihlah tetap tampan, walaupun wajahnya kini telah berubah sepenuhnya.


Setelah puas melihat perubahan bentuk wajahnya, Alfred menghilang dari kamarnya dan pergi menuju wilayah manusia. Saat dini hari Alfred mencari keberadaan wanitanya lewat aroma tubuh wanitanya. Walaupun wajah Anggeline berubah, tapi tidak membuat Alfred susah untuk menemukannya, karena sebelumnya ia telah memberikan tanda budak darah di tubuh Anggeline, dan itu dapat mempermudah menemukan keberadaan wanitanya itu.


Alfred memejamkan mata, menghirup udara mencari aroma tubuh Anggeline. Melewati banyak jalan dan persimpangan serta gang jalan kecil, Alfred masih saja belum menemukan keberadaan wanitanya itu. Pikirnya dalam hati, dimana wanitanya itu tinggal?


Ia menghilang dan berdiri di atas sebuah rumah, memejamkan mata mencari keberadaan Anggeline. Dan cukup lama mencari, ia sedikit mencium aroma tubuh tersebut. Mata merahnya menyalang tajam, dan setelah itu menghilang mengikuti aroma tubuh tersebut.


Dan setelah mengikuti aroma tubuh yang di yakini milik Anggeline, ia berhenti di depan sebuah rumah kecil. Matanya menatap tempat tinggal itu dengan dingin. Dalam hati ia kesal dengan Anggeline karena berani kabur darinya dan malah lebih memilih hidup susah. Ingin sekali ia menghukum dengan cara menghisap darah wanita nya itu hingga kering, agar Anggeline tahu akibat bermain dengan nya.


Alfred menghilang dan muncul di dalam rumah kecil itu. Saat dirinya berdiri tepat di samping seorang wanita yang tertidur lelap, ia memejamkan mata menghirup aroma yang lama tidak ia rasakan. Benar-benar aroma tubuh milik wanitanya.

__ADS_1


"Gadis nakal. Beraninya kau kabur dari ku," gumamnya dan membungkukkan tubuhnya di dekat Anggeline.


Anggeline yang tertidur lelap, tiba-tiba bergerak karena merasakan gigitan nyamuk. Dan tangannya tanpa sengaja memukul wajah Alfred yang tepat di depannya, mengira Alfred adalah nyamuk yang menggigitnya.


Plak...


Pipi itu langsung mendapatkan tamparan keras dari tangan Anggeline.


Alfred yang melihat dan merasakan, mengeraskan rahangnya. Marah karena Anggeline berani menamparnya.


"Berani nya wanita ini menamparku!" kesalnya hendak mencekik leher.


Namun saat tangan itu hendak mencekik leher Anggeline, ia terkejut dengan apa yang di lihatnya. Di depannya nampak wanita asing baginya, bukan Anggeline wanita yang di carinya.


Dan saat memeriksa apakah wanita itu budak darah nya atau bukan, perlahan muncul sebuah tanda bunga merah di tengah-tengah kening Anggeline, yaitu bunga merah kematian. Dan setelah memastikan wanita di depannya adalah budak darahnya, Alfred tersenyum menyeringai.


"Aku menemukan mu," ucapnya dan mengangkat tangannya, sebuah barir tak terlihat mengelilingi mereka berdua.


Setelah membuat barir penghalang, Alfred naik ke atas ranjang. Merebahkan tubuhnya di samping wanita yang telah berubah wajahnya. Ia menyangga kepalanya dengan tangan sambil mata merahnya menatap wanita di depannya.


"Kau benar-benar sungguh berani budak darah ku. Aku akan memberi mu hukuman malam ini," ucapnya menyentuh pipi. Dan setelah itu menelusupkan wajahnya di leher, dan mengigit leher itu dengan taringnya, mengisap darah yang sudah lama tidak ia rasakan.


Stt

__ADS_1


Rasa nikmat itulah yang di rasakan. Dan tanpa henti ia terus menghisap membuat sang empu menggeliat karena merasakan lehernya berdenyut dan sakit.


Uuh....


Lenguh-nya dengan mata masih terpejam.


Alfred yang mendengar lenguhan itu membuka mata. Di lihatnya Anggeline mulia mengerjapkan mata, dan dengan cepat, Alfred menyudahinya dan menghilang dari tempat itu.


Anggeline yang telah bangun, menyentuh lehernya yang sakit. Apa yang terjadi itu lah yang di pikirkan nya.


"Aku merasa ada yang menggigit leherku. Tapi tidak ada yang terjadi. Leherku baik-baik saja. Tapi entah kenapa aku merasa memang ada yang menggigit," gumamnya melihat sekeliling. Dan tidak ada hal aneh, hanya ada kakek yang tidur pulas di ranjang tak jauh dari tempat nya tidur.


Anggeline yang tidak menemukan sesuatu yang aneh, kembali memejamkan mata dan tidur. Sedangkan Alfred yang menutupi tubuhnya agar tidak terlihat tersenyum menyeringai. Ia akan membiarkan Anggeline tetap tinggal di wilayah manusia dengan penyamarannya. Sedangkan dirinya akan menggunakan cara seperti ini untuk mendapatkan darah Anggeline tanpa membuat Anggeline takut dengan nya.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2