
Leona dengan terpaksa meminta maaf kepada Anggeline, mengatakan jika memang dirinya lah yang salah. Namun dalam hati ia bersumpah akan membuat Anggeline menyesal karena telah mempermalukannya.
Setelah meminta maaf, Leona dan para pengawalnya pergi meninggalkan rumah makan itu dengan wajah kesal dan malu. Sedangkan Anggeline mengucapkan terimakasih kepada Morcant karena telah membantunya mengusir Leona.
"Terimakasih telah membantu saya, Yang Mulia," ucapnya dengan menyebut nama panggilan seorang raja seperti yang ia dengar sebelumnya.
Morcant mengangguk sambil mata itu tak lepas dari wajah Anggeline. Anggeline yang di tatap seperti itu benar-benar tidak nyaman. "Kenapa pria ini selalu menatap ku seperti ini? Sebelumnya juga seperti ini. Sebenarnya kenapa dia?" batinnya bertanya-tanya.
Karena tidak ingin terlalu lama bersama dengan Morcant, Anggeline pun pamit undur diri kebelakang untuk melanjutkan pekerjaan nya.
.
.
.
Di istana vampir, Alfred benar-benar tidak tahan untuk bisa menemukan keberadaan Anggeline. Rasa haus ingin menikmati darah segar itu membuatnya tidak bisa menahan lagi, dan akhirnya dia berencana keluar dari wilayah nya untuk mencari keberadaan Anggeline. Dan tujuan pertamanya adalah wilayah ras peri, karena sebelumnya ia yakini Anggeline di bawa oleh mereka.
Malam hari, Alfred pergi menuju wilayah ras peri seorang diri. Dengan jubah hitam yang menutupi tubuh hingga kepala membuat tak seorang pun mengenali. Dan saat tiba di ras peri, ia berjalan santai sambil mata merahnya melihat setiap peri yang di lewatinya.
"Ternyata di sini cukup ramai," batinnya dan terus berjalan. Tujuan nya adalah istana peri dan bertemu langsung dengan Melysina untuk bertanya apakah benar ratu peri itu membawa Anggeline atau tidak. Dan jika di ketahui Anggeline benar adanya di tempat itu, maka bisa tidak bisa ia akan membawanya kembali ke istana.
Setelah sampai di depan istana ratu peri, Alfred berdiri di depan pintu gerbang yang tinggi. Di depan gerbang tersebut berdiri dua pengawal yang membawa senjata di tangan mereka. Dan saat melihat seorang berjubah hitam berdiri di depan mereka, mereka berdua pun langsung menghampiri dan bertanya.
"Tuan, kenapa anda berdiri disini? Jika anda tidak memiliki kepentingan, silahkan pergi dan tinggal kan tempat ini," usir-nya dengan nada halus.
__ADS_1
Alfred yang mendengar tersenyum menyeringai, "Buka gerbangnya. Aku ingin bertemu dengan ratu mu," perintahnya membuat dua penjaga itu saling pandang.
"Apakah anda telah membuat janji, tuan?"
"Tidak perlu. Cepat buka pintunya. Jika tidak, akan ku hancurkan gerbang mu ini," ancamnya membuat mereka berdua terkejut.
Mendengar ancaman pria yang tidak di kenalnya, kedua penjaga langsung bersiap. Apapun yang akan di lakukan pria asing itu, mereka tidak akan membiarkan nya masuk dan membuat kekacauan.
"Jika anda ingin membuat masalah jangan salahkan kami membuat anda menyesal," ucapnya seolah mampu mengalahkan raja vampir.
Alfred yang mendengar tertawa, sungguh lucu sekali pikirnya. Ia pun berjalan maju mendekati dua penjaga yang kini bersiap untuk melawan Alfred. Dan saat mereka mencoba menghentikannya, Alfred mengangkat tangannya, mengibaskan tangan kanannya, dan dalam sekejap dua penjaga itu terpental dan menabrak pintu gerbang.
Brak.....
"Siapa dia?" itulah pertanyaan yang ada di benak mereka.
Salah satu dari mereka yang di lempar oleh Alfred langsung meminta mereka untuk menghentikan nya. "Cepat hentikan pria itu!" serunya langsung membuat penjaga di istana berbaris mengepung Alfred.
Alfred yang melihat menatap sekeliling. Dan senyum menyeringai pun kembali muncul. Namun saat mereka melihat senyuman itu, betapa terkejutnya mereka melihat sebuah taring di bibir pria asing itu.
"Vampir," Semua peri penjaga yang melihat sangat-sangat terkejut. Pikir mereka, kenapa vampir ada di wilayah nya. Mungkinkah vampir itu ingin memburu para peri? Jika memang itu benar, ini adalah hal yang sangat darurat.
"Cepat beritahu ratu apa yang terjadi," perintah kepada salah satu di antara mereka.
Peri penjaga yang di perintah langsung pergi untuk melaporkan apa yang terjadi. Sedangkan para penjaga yang kini mengepung Alfred langsung menyerang untuk membunuh vampir tersebut. Tidak ingin membiarkan vampir itu membuat masalah di wilayah peri.
__ADS_1
"SERANG!!!"
Seorang yang memberi aba-aba membuat semuanya maju menyerang Alfred. Sedangkan Alfred yang melihat menghela nafas, ia tidak ingin menghabiskan waktu yang sia-sia dengan para semut itu. Dan akhirnya, ia menjentikkan jarinya dan dalam sekejap muncul banyak kelelawar penghisap darah.
Kelelawar penghisap darah itu langsung menyerang para peri penjaga setelah mendapatkan perintah dari tuannya. Sedangkan peri penjaga tentu saja melawan dengan menebaskan pedang mereka untuk membunuh para kelelawar penghisap darah.
Sibuk melihat para peri itu membunuh kelalawarnya, Alfred berjalan santai masuk kedalam istana. Namun baru beberapa langkah dirinya berjalan, dari arah depan muncul beberapa orang, yang di antaranya adalah ratu peri.
Melysina yang melihat tentu saja terkejut dengan kedatangan orang yang di kenalnya, "Alfred Wallace," gumamnya dan menghampiri.
"Selamat datang di istana peri, Yang Mulia Alfred," sapa nya dengan senyum ramah.
Sedangkan Alfred yang di sapa diam, tidak ingin menjawab. Melysina yang merasa di abaikan mengepalkan tangan. Dalam hati ia menyumpahi pria tampan yang ada di depannya. "Berani nya pria ini mengabaikan ku!" kesalnya, namun di tutupi dengan senyum manisnya.
Alfred sendiri tidak peduli dengan sapaan atau pun senyum manis itu. Karena tujuannya datang hanya lah untuk wanitanya. Anggeline, wanita budak darahnya. Entah kenapa ia sangat-sangat menginginkan wanita itu, tak rela jika wanita itu lepas dari tangannya. Dan berakhir membuatnya harus datang di wilayah peri hanya demi menjemput wanita yang di inginkannya.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1