
Setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari kakaknya, Azel memasang wajah kesalnya sambil bersedekap dada. Sungguh kakaknya itu tidak menarik sekali. Padahal ia ingin melihat kakaknya marah dan membunuh mereka semua, menjadikan mereka mainan di depan matanya.
"Kakak sungguh membosankan," ucapnya membuat Alfred menatap adiknya yang sudah dewasa tapi masih seperti layaknya anak kecil yang suka kesal dan merajuk.
"Jika kau ingin sesuatu yang membuat mu senang, kenapa tidak kau saja yang menghukum mereka, agar kau puas dan tidak mengatakan kakak mu ini membosankan," mendengar itu Azel langsung menatap kakaknya horor. Ia tahu maksud itu, ingin menjadikan dirinya bahan amarah semua orang di istana. Terutama ibunya.
"Tidak!" tolaknya dengan cepat tidak ingin melakukan hal itu. "Lebih baik aku menunggu kakak bertindak saja," jawabnya menyandarkan kepalanya di kursi. Sedangkan Alfred yang mendengar menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah adiknya.
Azel yang diam, kini angkat bicara lagi, ingat tentang wanita yang sebelumnya ia temui. "Kak, apa kau benar-benar menyukai wanita buruk rupa itu?" tanyanya penasaran bagaimana kakaknya yang tampan ini tertarik dengan wanita yang menurutnya jelek.
"Buruk rupa?" gumamnya bingung dengan apa yang di katakan Azel. "Memang siapa wanita ku yang buruk rupa?"
"Tentu saja wanita mu yang ada di wilayah manusia," jawabnya kesal karena kakaknya mencoba mengelak.
"Anggeline?"
"Mungkin, aku tidak tahu siapa nama nya. Tapi menurutku kau benar-benar payah kak, menyukai wanita yang jelek seperti itu," ucapnya sedikit mengejek selera Alfred.
Alfred yang mendengar diam. Mungkin memang benar Anggeline biasa saja. Tapi jika Azel mengetahui wajah asli Anggeline sudah pasti adiknya akan tertarik. Beruntung Anggeline yang di temui dalam wajah biasa seperti gadis pada umumnya, dan itu membuatnya lega karena Azel tidak akan tertarik dengan wanitanya.
"Tidak masalah, asal membuat ku nyaman," jawabnya dengan senyum yang membuat Azel muak.
.
.
.
Di wilayah manusia, Anggeline yang baru saja pulang dari bekerja menatap langit malam yang terdapat bintang-bintang. Wajah kakeknya terlintas di benak nya. Entah kenapa ia merindukan pria tua itu.
__ADS_1
"Kek, kakek kemana?" gumamnya dalam hati dengan tatapan sendu.
Di dunianya yang baru ini hanya kakeknya lah yang di miliki. Hanya pria tua itu yang selalu bersama dan menemaninya di saat tidak ada seorang pun yang baik padanya.
Hah, Anggeline menghela nafas, memikirkan jalan hidupnya. Apa yang akan di lakukan dan di lalui di dunia yang penuh dengan ancaman ini. Ancaman yang selalu mengancam hidupnya.
"Aku harus kuat, tidak boleh menyerah. Tunjukkan bahwa diri mu bisa Anggeline. Lawan orang yang ingin menyakiti mu. Jangan biarkan mereka menindas mu," ucapnya pada diri sendiri, menyemangati.
.
.
.
Hari-hari pun di lalui dengan damai. Namun ternyata kedamaian nya tidak bertahan lama. Beberapa serigala tiba-tiba datang menghadangnya, dan mengepungnya. Anggeline yang saat itu sendirian tentu saja bersiaga, waspada terhadap Serigala-serigala yang pastinya memiliki niat tidak baik padanya. Yang tentunya semua itu atas perintah dari raja mereka, Arsenio.
Lolong para serigala yang menatap Anggeline dengan liar. Dan setelah itu muncul serigala besar, membuat serigala lain langsung menyingkir, memberi jalan serigala tersebut. Dan setelah itu serigala besar berubah bentuk ke wujud manusia saat tepat berada di depan Anggeline. Pria itu adalah Arsenio dengan senyum menyeringai nya.
"Kita bertemu lagi," sapanya yang mengetahui wanita di depannya adalah Anggeline setelah di beri tahu oleh Alfred palsu.
Senyum yang penuh dengan maksud itu membuat Anggeline mengerutkan kening. "Mau apa pria ini? Kanapa mengusik ku lagi?" batin nya tidak suka dengan pria di depannya.
"Mau apa kau?" tanyanya dengan nada ketus.
Arsenio yang mendengar nada ketus itu tertawa keras. Sungguh wanita yang membuatnya tidak bisa melupakan.
"Jangan ketus seperti ini, gadis. Kau membuatku tidak bisa melupakan mu," ucapnya hendak menyentuh dagu. Namun dengan ceoat di tepis Anggeline.
"Jangan menyentuh ku," ucapnya dengan tatapan tajam, tidak senang.
__ADS_1
Arsenio yang mendapat tepisan dan tolakan Anggeline menatap tangannya. Dan setelah itu tersenyum. "Aku semakin menyukai mu," ucapnya membuat Anggeline semakin kesal.
Sejak pergi nya Anggeline dari nya, entah kenapa membuat hidupnya seakan sepi dan hampa. Tapi setelah mengatahui bahwa semua itu karena Anggeline, ia berencana mendapatkan Anggeline. Menjadikan Anggeline milik nya.
"Jangan membuat ku muak dengan kata-kata mu. Lebih baik kau pergi dan jangan menganggu ku lagi," usir-nya dan melangkah pergi. Namun baru dua langkah, Arsenio menarik tangan itu, membuat Anggeline melotot tajam.
"Apa yang kau lakukan?" bentaknya mencoba memberontak.
Anggeline terus mencoba melepas diri, dan melawan, memukul dan menendang. Berharap bisa lepas dari pria serigala itu
Bugh.....
Kaki itu menendang lengan Arsenio yang menahan serangan Anggeline.
"Ternyata kau sedikit memiliki tenaga, gadis ku," ucapnya dengan seringainya.
"Tutup mulut ku siluman sialan! Sampai mati pun aku tidak akan sudi menjadi gadis mu," marahnya dan menyerang kembali Arsenio.
Arsenio yang memiliki ilmu beladiri dan kekuatan tentu saja dengan mudah menghadapi Anggeline yang hanya seorang wanita biasa tanpa adanya kekuatan di tubuhnya. Ia mengelak setiap serangan yang berikan Anggeline, hingga tanpa di sadari nya, Anggeline mengangkat lututnya dan memukulkannya tepat di aset pribadinya. Dan itu langsung membuat Arsenio menjerit kesakitan.
Melihat ada kesempatan untuk kabur, Anggeline berlari sekencang mungkin. Sedangkan para serigala bawahan Arsenio langsung mengejar Anggeline yang melarikan diri.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1