DUNIA RAS

DUNIA RAS
DUNIA RAS. BAB 27


__ADS_3

Setelah melihat Anggeline kembali tidur pulas, Alfred kembali mendekati dan merebahkan tubuhnya di samping Anggeline. Senyum kecil yang tidak bisa di artikan muncul di bibirnya. Entah apa yang di pikirkan nya. Tapi setelah menemukan Anggeline kembali, ia merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang tidak bisa di jelaskan.


"Ku harap kau tidak lari lagi dari ku, budak darah ku," ucapnya menyisipkan rambut Anggeline yang menutupi wajah.


Alfred tidur di samping Anggeline, memeluk pinggang ramping itu dengan nyaman. Entah kenapa setelah kepergian Anggeline waktu itu membuatnya merasa ada yang hilang dari dirinya. Entah apa itu ia tidak tahu.


Setelah tadi cukup puas menghisap darah Anggeline, kini Alfred dapat tidur dengan nyenyak. Tidak seperti sebelumnya yang selalu gelisah dan tidak nyaman.


Alfred tidur dengan memeluk tubuh Anggeline cukup erat, membuat Anggeline bergerak. Namun gerakannya bukannya menolak, melainkan malah berbalik dan memeluk tubuh pria kejam yang kapan saja bisa membunuhnya dengan menghisap semua darahnya. Alfred yang merasakan dan melihat Anggeline menyusupkan wajahnya di dada, diam dengan pandangan datar, tidak ada ekspresi sedikitpun di wajahnya. Hanya mata merahnya yang terbuka karana terkejut.


"Apa ini?" batinnya merasakan perasaan yang menggelitik di hatinya saat Anggeline membalas pelukannya. Diam itulah yang di lakukan. Tubuhnya nampak kaku karena tidak pernah bersentuhan secara intim seperti ini dengan seorang wanita. Hanya bersentuhan sebatas membunuh dan menghisap mangsanya.


Alfred menghela nafas. Dan setelah memejamkan mata, membiarkan Anggeline memeluknya dengan nyaman.


Pagi hari, Alfred membuka matanya saat mendengar suara ayam berkokok. Dan dengan cepat ia menghilang untuk kembali ke istana karena tidak memungkinkan dirinya siang hari berada di dekat Anggeline, di karenakan tubuhnya tidak bisa terkena sinar matahari. Dan jika tubuhnya sedikit saja terkena sinar matahari, maka tubuh itu akan terbakar dan mati.

__ADS_1


Setalah kepergian Alfred, Anggeline membuka matanya. Ia duduk bersandar di sandaran ranjang kayunya sambil memikirkan sesuatu. Entah kenapa tidurnya malam ini terasa begitu nyaman, seolah ada sesuatu yang membuatnya begitu nyenyak.


"Aku merasa malam ini tidur ku sangat nyenyak," gumamnya menurunkan kakinya dari ranjang, dan berjalan keluar rumah untuk menghirup udara pagi.


Saat dirinya di luar, ia melihat kakek sedang membakar ubi untuk sarapan mereka. Kakek yang melihat kedatangan Anggeline menengok dan memintanya untuk duduk di dekatnya.


"Duduklah," perintahnya dan Anggeline pun mendekat, duduk di samping sang kakek. "Ambillah, kakek sudah membakarkan nya untuk mu," sambungnya menyerahkan ubi bakar.


Anggeline mengambilnya dan setelahnya mengupas ubi bakar yang kulitnya hitam karena gosong, dan setelah itu memakannya. Rasanya enak hingga tak terasa ia menghabiskan satu potong ubi bakar tadi.


Setelah sarapan dan membersihkan diri, Anggeline kini berangkat bekerja. Seperti biasa, ia berjalan kaki seorang diri karena tidak ada teman atau pun kendaraan yang menemani nya. Dan setelah sampai, Anggeline langsung mengerjakan tugasnya, mengantarkan makanan kepada pelanggan nya.


"Yang Mulia," Anggeline terkejut melihat orang yang ingin di layani nya, ternyata itu adalah Morcant.


"Kita bertemu lagi," ucapnya dengan senyuman manis di bibirnya.

__ADS_1


Anggeline mengangguk, dan setelah itu bertanya tentang makanan yang ingin di pesan Morcant. Dan Morcant pun menyebutkan makanan yang yang di inginkan nya. Sesuai permintaan pelanggannya, Anggeline langsung memberi tahu pesanan Morcant kepada koki untuk segera di masak. Dan setelah matang, Anggeline meletakkan makanan tersebut di atas meja, menghidangkan nya di depan Morcant.


"Silahkan di nikmati, Yang Mulia," ucapnya mempersilahkan dan akan undur diri. Namun sebelum Anggeline melangkah, Morcant menghentikan nya.


"Bisakah, nona menemani ku disini? Makanan ini terlalu banyak, sepertinya aku tidak bisa menghabiskan nya," ucapnya membuat kening Anggeline berkerut. Dalam hati ia berkata, jika tidak mampu menghabiskannya, kenapa pesan makanan terlalu banyak? Sungguh aneh.


"Mm.., bukan saya ingin menolak, Yang Mulia. Tapi saya tidak pantas berada disini bersama anda. Apa yang akan di katakan orang, jika rakyat biasa seperti saya makan satu meja dengan anda. Itu akan membuat anda malu," ucapnya menolak secara halus. Ia tidak ingin semua orang memiliki pemikiran aneh padanya, tidak ingin di katakan sebagai gadis gatel yang mencoba mendekati seorang raja.


Morcant yang mendengar tersenyum. "Aku tidak merasa malu sedikit pun. Aku malah senang bisa dekat dengan rakyat ku. Dan jangan pedulikan kata orang. Jika memang ada yang mengatakan suatu hal buruk pada mu, katakan pada ku, aku akan memberinya hukuman yang berat," jawab Morcant membuat Anggeline bingung. Kenapa raja ini tetap kukuh ingin makan bersama nya? Padahal ia tidak ingin sama sekali bersama dengan raja di depannya ini, terlalu ribet jika ada yang tidak menyukai. Tapi tidak mungkin ia menolak nya, karana bisa saja kepalanya akan menggelinding setelah ini.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2