DUNIA RAS

DUNIA RAS
DUNIA RAS. BAB 29


__ADS_3

Alfred menatap penuh remeh Morcant, dan berkata, "Apa kau benar-benar seorang raja?" Alfred seolah tidak percaya bahwa di depannya adalah raja dari ras manusia. Karena menurutnya hanya mengurus satu orang saja tidak perlu harus meminta bantuan, apalagi orang di depannya adalah raja dari ras vampir. Bukanlah seharusnya ia sendiri yang turun tangan, bukan malah meminta pengawal bayangan untuk menangkapnya.


Morcant yang di anggap remeh menjawab ucapan Alfred, "Apa kau meragukan ku, bahwa aku ini bukan seorang raja?"


"Tentu saja, karena sikap mu membuktikan bahwa kau seorang pengecut,"


Ucapan Alfred benar-benar membuat semua orang terkejut, sungguh sangat berani. Mereka tidak tahu dari mana asalnya pemuda itu sampai berani berbicara lancang seperti itu. Benar-benar cari mati.


"Lancang!" marahnya dengan suara tinggi, tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Bunuh badjingan itu," perintahnya kepada pengawalnya.


Beberapa penjaga bayangan langsung maju menyerang Alfred menggunakan pedang. Alfred yang melihat tersenyum kecil, dan setelah itu mengibaskan tangan kirinya, menghalau serangan mereka dan membuat mereka langsung terpental menabrak meja hingga hancur.


Morcant yang melihat Alfred dengan mudah mengalahkan anak buahnya mengerutkan kening, bertanya-tanya siapa pemuda itu sebenarnya yang dengan mudah mengalahkan bawahannya dalam sekali serang. Jika pemuda di depannya hanyalah manusia biasa, sudah di pastikan tidak akan memiliki kekuatan besar seperti itu, karena di ras manusia hanya dirinya lah yang memiliki kekuatan besar. Mungkinkah pria ini dari ras lain. Tapi dari ras apa? Naga, peri, serigala atau vampir? Semuanya sepertinya bukan. Jika naga, pasti pria itu memiliki tanduk naga di kepalanya, jika peri pastinya telinganya runcing. Dan jika serigala atau vampir tidak mungkin mereka datang ke wilayahnya. Karena jika mereka berani datang, pastinya ia akan mengetahui.


"Sebenarnya siapa kau ini?" tanyanya dengan nada dingin.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang terpenting saat ini, jangan halangi jalan ku jika tidak ingin mereka semua mati,"


Morcant diam, mendengar ancaman itu. Ia tidak ingin mengambil resiko. Bukannya Morcant tidak bisa melawan, namun keadaan dan tempat yang tidak memungkinkan nya untuk melawan pria asing di depannya. Sedangkan Anggeline yang mendengar ancaman itu kesal, pikirnya apa-apaan pria ini?


"Lepas! Lepaskan aku, dasar pria gila," makinya penuh amarah. Namun semua itu tetap tidak di gubris oleh Alfred, malah kini Alfred menarik tangan Anggeline meninggalkan tempat tersebut.


Anggeline yang di tarik terus mengikuti langkah lebar Alfred. Ia terus mengumpat dan memaki pria gila di depannya.

__ADS_1


"Berhenti!" marahnya dengan nafas yang memburu. Tatapan sangat-sangat tajam, seolah mampu menelan pria di depannya.


Alfred yang mendengar suara tinggi Anggeline langsung berhenti dan menoleh, menatap Anggeline yang wajahnya sudah memerah karena marah dan kesal.


"Kenapa?" tanyanya seolah tidak bersalah sama sekali.


"Lepas!" Anggeline berhasil menghempaskan tangan itu dengan kasar sambil matanya menatap tajam. "Siapa kau ini, berani sekali pada ku?"


"Aku, mmmm......?" Alfred berpikir. Sedangkan Anggeline menatapnya dengan kening berkerut menunggu jawaban pria asing di depannya. Namun cukup lama menunggu dan jawaban nya tidak membiasakan Anggeline memaki nya dengan kasar. "Kau tidak perlu tahu siapa aku?"


"Dasar gila, sinting, badjingan!" umpatnya dan menginjak kaki Alfred dengan keras dan setelah itu melarikan diri.


Anggeline berlari dengan kencang meninggalkan pria tidak waras itu. Dengan nafas memburu karena berlari cukup jauh membuatnya lelah.


Nafasnya tersengal-sengal dan ia pun berhenti di bawah pohon sambil mengatur pernapasan nya.


"Sial sekali! Sebenarnya siapa pria itu, kenapa tiba-tiba menarik ku?"


Anggeline menoleh kebelakang, di lihatnya pria gila itu tidak mengejarnya. Ia merasa lega dan aman. Namun saat menatap ke depan untuk melanjutkan perjalanannya, betapa terkejutnya ia melihat pria itu kini sedang tersenyum di depannya.


Aaaaaa ......


Teriaknya terkejut hingga terjatuh

__ADS_1


"Sialan!" umpatnya dan berdiri lagi, sambil berkacak pinggang menatap tajam Alfred. "Apa mau mu? Kenapa kau mengganggu ku?"


"Aku menginginkan darah mu,"


"Darah?" tanya Anggeline dengan pandangan bingung


"Bukan. Aku hanya menginginkan diri mu," jawabnya membuat Anggeline tiba-tiba melayangkan tinjunya di perut pria itu.


"Dasar tidak waras. Pergi kau dari hadapan ku, dan jangan berani menganggu ku. Jika kau berani menganggu ku, aku tidak akan segan mencincang mu."


Alfred yang mendengar tersenyum kecil. Lucu sekali saat melihat budak darahnya marah-marah. Anggeline yang tidak mau berurusan dengan pria yang menurutnya gila, pergi meningalkan nya dengan langkah lebar. Sedangkan Alfred mengikuti nya dengan berjalan santai di belakang Anggeline.


Cukup lama mengikuti, Anggeline semakin kesal dan marah. Ia mendadak berhenti, membuat Alfred juga berhenti. "Cukup! Jangan mengikuti ku lagi. Pergi kau dari hadapan ku. Aku tidak ingin melihat wajah badjingan mu,"


Bukannya pergi, Alfred masih saja mengikuti. Hingga tak terasa mereka akhirnya sampai di rumah kakek.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2