
Setelah Melysina mengetahui nama gadis yang di tolong nya, Melysina pun menganggap Anggeline sebagai temannya. Apalagi saat tahu jika Anggeline adalah wanita yang cukup menyenangkan.
Beberapa hari bersama membuat mereka semakin dekat. Hingga akhirnya tubuh Anggeline kini sudah pulih total dan ia pun berencana untuk pergi menjalani hidupnya layaknya manusi biasa. Namun sebelum itu Anggeline bertanya apakah ada ras seperti dirinya di dunia ras ini. Dan Melysina yang di tanya menjawab, bahwa ada ras sama seperti dirinya. Namun untuk tempatnya sedikit jauh dari tempat tinggalnya.
Anggeline mengangguk dan dia pun berencana akan pergi esok hari.
"Apa kamu yakin dengan keputusan mu untuk pergi?" tanya Melysina yang sebenarnya tidak tega jika harus membiarkan Anggeline pergi sendirian ke wilayah manusia. Apalagi ia tahu Alfred dan Arsenio pasti tidak melepaskan Anggeline. Dan jika mereka mengetahui Anggeline di wilayah manusia, kedua raja itu di pastikan akan menangkapnya lagi.
"Ya, aku yakin," jawabnya pasti sambil mengangguk.
Melysina yang mendengar menghela nafas karena tidak bisa menahan Anggeline untuk tetap tinggal bersamanya. Dan akhirnya hanya bisa menyetujui keputusan Anggeline.
"Baiklah, Jika memang itu keputusan mu. Aku tidak bisa memaksa," Jawabnya sebenarnya berat hati.
"Terimakasih sudah mengerti aku,"
"Tapi kamu harus tetap hati-hati disana, jangan membuat sesuatu hal yang menarik perhatian," ucap Melysina memperingati.
"Kau tenang saja, aku akan menjaga diri ku dengan baik disana,"
Melysina mengangguk dan setelah itu meminta Ellen untuk mengambil sesuatu barang miliknya. Dan setelah Ellen mengambil dan menyerahkan nya, Melysina membuka kotak tersebut. Dan terlihatlah isi di dalam nya yang ternyata memperlihatkan sebuah barang yang sangat indah. Sebuah kalung permata berwarna hijau.
Anggeline yang melihat tentu saja terpana dengan keindahan kalung itu. Dan ini kali pertama dia melihat kalung seindah dan secantik ini selama hidupnya. Anggeline yang melihat tidak berkedip sedikit pun, matanya terus menatap seolah kalung itu menyihirnya.
__ADS_1
"Cantik sekali," gumamnya membuat Melysina tersenyum. Ia sudah yakin jika Anggeline akan terpana dengan keindahan kalung miliknya.
"Ya, kamu benar. Kalung ini memang sangat cantik," jawab Melysina langsung membuat Anggeline sadar dari kekagumannya. Ia menatap Melysina, berpikir dari mana Melysina mendapatkan kalung seindah itu. Jika saja saat ini dirinya masih berada di dunia nya, sudah di pastikan dirinya akan membeli kalung itu dengan harga berapapun asal kan Melysina mau menjualnya padanya. Tapi saat mengingat dirinya tidak memiliki apapun alias miskin, ia hanya bisa menghela nafas karena nasib benar-benar menjatuhkan nya dengan sangat kejam.
Melysina yang tahu Anggeline tertarik dengan kalungnya berkata. "Ini adalah kalung ku. Kalung pemberian dari seseorang yang berharga dalam hidup ku. Tapi karena kalung ini tidak pernah aku pakai, maka lebih baik aku berikan kepada orang yang membutuhkan. Dan orang tersebut adalah diri mu," Melysina menyerahkan kalung itu ke tangan Anggeline.
Anggeline yang melihat Melysina memberikan kalung indah itu padanya, terkejut. Kenapa bisa Melysina memberikan kalung seindah itu padanya? Bukankah kalung itu sepertinya sangat berharga. Tidak! Anggeline tidak bisa menerimanya begitu saja.
"Mel, aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berharga. Bukankah kamu tadi bilang kalung ini pemberian seseorang? Bagaimana bisa kamu memberikannya kepada ku. Aku tidak bisa menerimanya, maaf," Anggeline menolak karena ia tidak pantas menerima barang pemberian seseorang yang mungkin saja berarti dalam hidup Melysina.
Mendengar itu Melysina tersenyum. "Jangan menolak. Aku memberikan nya karena ada alasan lain. Bukankah kamu ingin keluar dan tinggal di wilayah manusia?" tanya nya dan di angguki Anggeline. "Kalung ini akan berguna untuk mu. Sekarang pakailah, kamu akan tahu maksud ku,"
Anggeline tidak bergeming dan tidak mau memakai kalung itu. Melysina yang melihat Anggeline keras kepala menghela nafas. Dan dia pun mengambilnya dan setelah itu memakai kan kalung tersebut ke leher Anggeline. Cantik, itu lah yang di lihat Melysina.
Mantra yang di baca perlahan membuat kalung itu bereaksi. Mutiara hijau kini memancarkan cahaya, dan mengeluarkan kekuatannya. Cahaya hijau itu kini perlahan menjalar menyelimuti tubuh Anggeline dan seketika merubah wajah nya.
Wuus ....
Wajah Anggeline pun berubah. Namun tidak dengan rambutnya, tetap sama berwarna perak. Tapi kulit dan manik matanya berubah. Dan kini Anggeline yang memiliki wajah sangat cantik berubah menjadi biasa saja, seperti gadis pada umumnya.
"Apa yang terjadi?"
Melysina mengambil sebuah cermin dan memberikannya. Anggeline yang bingung kenapa Melysina memberikan dirinya sebuah cermin, mengambilnya. Dan setelah menatap dirinya di pantulan cermin tersebut. Saat dirinya menatap wajah itu, betapa terkejutnya dia melihat perubahan wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa wajah ku seperti ini?" tanya Anggeline bingung.
"Aku telah merubah wajah mu."
"Merubah wajah? Bagaimana bisa?"
"Aku menggunakan kalung itu untuk menutupi siapa dirimu sebenarnya. Jadi saat dirimu di luar nanti kau tidak perlu khawatir Arsenio ataupun Alfred akan menemukan mu,"
Mendengar itu Anggeline tentu saja berbinar, "Benarkah?"
"Tentu saja, asalkan kau tidak melepas kalung itu. Jika kau melepaskan nya, maka wajah asli mu akan kembali seperti semula," ucapnya memberi penjelasan.
"Baiklah, terimakasih. Terimakasih sudah membantu ku. Aku tidak tahu harus berkata apalagi. Kamu terlalu baik pada ku,"
Setelah memberikan kalung tersebut pada Anggeline, kini Anggeline sudah siap untuk pergi ke wilayah manusia. Menjalani hidupnya layaknya manusia pada umumnya. Dan setelah berpamitan, Anggeline kini menuju wilayah dimana ras nya berada, meninggalkan wilayah ras peri, ras serigala dan ras vampir. Berharap hidupnya di wilayah manusia baik dan damai seperti yang di inginkan.
.
.
.
bersambung
__ADS_1